<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Republik NLP (tm)</title>
	<atom:link href="http://republiknlp.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://republiknlp.com</link>
	<description>Kisah Inspiratif Para Alumni NLP Practitioner</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Mar 2011 07:28:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Mengatasi Grogi Dalam Hitungan Detik!</title>
		<link>http://republiknlp.com/2011/03/16/mengatasi-grogi-dalam-hitungan-detik/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2011/03/16/mengatasi-grogi-dalam-hitungan-detik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 06:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM) &#160; Apakah Anda pernah merasakan deg-degan, gelisah dan grogi pada pengalaman pertama? Jika “YA” dan Anda ingin tahu bagaimana NLP bisa membantu Anda bebas dari perasaan negatif itu dengan sangat cepat, tulisan ini dapat membantu Anda. ==oo== Setengah tahun yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah Anda pernah merasakan deg-degan, gelisah dan grogi pada pengalaman pertama?</p>
<p>Jika “YA” dan Anda ingin tahu bagaimana NLP bisa membantu Anda bebas  dari perasaan negatif itu dengan sangat cepat, tulisan ini dapat  membantu Anda.</p>
<p>==oo==</p>
<p>Setengah tahun yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi  pembicara pada sebuah program Live Radio Talk Show di PRO 2 Medan, 92.4  FM. Program yang bertajuk “Amazing Life with NLP” yang disiarkan setiap  Jumat pukul 20.00-21.00 wib ini  membahas aplikasi NLP dalam kehidupan  sehari-hari.<span id="more-131"></span></p>
<p>Ini adalah pengalaman pertama saya berbicara dan memandu sebuah program  Radio. Seperti ketika pengalaman pertama kali jatuh cinta, jantung  deg-degan, tangan berkeringat, bingung mau berkata apa, tapi perasaan  begitu senang bercampur gelisah. Begitu juga yang saya rasakan waktu  itu, deg-degan membayangkan studio yang sama sekali belum pernah saya  masuki, dilengkapi dengan peralatan yg menurut saya “ribet”, belum  pernah terbayang dalam pikiran saya akan mengisi sebuah program talkshow  di radio dengan saya sebagai nara sumber tunggal.</p>
<p>30 menit lagi siaran akan dimulai, materi telah disiapkan dengan baik.  Tapi pikiran dan perasaan ini tidak karuan, deg-dean, takut salah, tidak  percaya diri muncul. Tergambar dengan jelas gambaran diri saya yang  negative.</p>
<p>Waduh..bagaimana ini..?</p>
<p>Ditengah kebingungan ini, Sungguh ! NLP mempermudah saya mengatasi  tantangan seperti ini. Saya menggunakan salah satu pola dalam NLP yang  sangat efektif dan dahsyat yaitu The Swish Pattern yang saya pelajari di pelatihan Licensed Practitioner of NLP.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>The Swish Pattern</strong></p>
<p>Swish Pattern adalah pola yang ditemukan oleh DR. Richard Bandler dan  John Grinder yang menggunakan perubahan critical submodalities untuk  memprogram otak agar bekerja dengan cara yang berbeda. Pola ini bekerja  dengan mem-break pola pikiran atau  perilaku yang otomatis muncul, dan  menggantinya dengan pikiran atau perilaku yang memberdayakan.</p>
<p>Berikut yang saya lakukan untuk mengatasi grogi dengan The Swish Pattern:</p>
<ol>
<li>Saya memejamkan mata dan memikirkan atau membayangkan sebuah  gambaran (foto mental) ketika saya on air di radio dengan kondisi yang  grogi. Gambaran itu disebut juga “cue image” atau “gambaran kunci”.  Perhatikan submodality nya, seperti warna dan ukuran gambar nya yang  besar dan berada tepat didepan saya. Atau dalam kata lain, saya sedang  melihat didepan saya, gambaran diri saya yang grogi ketika on air.</li>
<li> Break state..tarik napas dan menghitung 1 sampai 5</li>
<li> Kemudian saya memejamkan mata dan membayangkan gambaran diri saya  yang sangat percaya diri dan sukses membawakan program itu. Gambaran ini  dibuat kecil dan hitam putih, dan posisinya jauh di ujung sebelah kiri.</li>
<li> Break state</li>
<li> Kemudian saya membayangkan lagi cue image itu, lalu tukar posisi  kedua gambar itu dengan sangat cepat ! sambil mengeluarkan suara  WHUUUSSS..!! (seperti sesuatu yang terbang dengan kecepatan tinggi,  gambaran yg tadinya kecil diujung dan hitam putih berpindah ke depan  menjadi besar dan berwarna) Saat gambaran diri saya yang sangat percaya  diri dan sukses membawakan acara itu membesar dan memenuhi layar, cue  image mengecil dan menghilang. Yang ada hanyalah gambaran diri saya yang  percaya diri dan sukses dengan gambaran yang besar, terang, jelas dan  sangat detail. Seperti apa cara saya berbicara, postur tubuh dan  perasaannya.</li>
<li> Sambil tetap menutup mata beberapa saat, saya membiarkan gambaran  baru yang penuh percaya diri itu terekam dalam pikiran saya.</li>
<li> Kemudian saya melakukan future pacing, yaitu membayangkan kejadian  dimasa depan ketika saya didalam studio dan ternyata perasaan grogi dan  deg-degan itu sudah hilang.</li>
<li> Jika masih ada perasaan yang tidak nyaman, lakukan 5-7 kali atau sampai perasaan yang diinginkan dapat.</li>
</ol>
<p>WOW AMAZING !..</p>
<p>Program pertama itu berjalan lancar, respon pendengar  pun cukup bagus dari sms dan telepon yang masuk. Sampai saat ini,  program Amazing Life with NLP sudah berjalan 6 bulan lebih, dan semoga  dengan program ini semakin memasyarakatkan NLP dan bisa semakin  bermanfaat untuk lebih banyak orang.</p>
<p>Salam Amazing !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2011/03/16/mengatasi-grogi-dalam-hitungan-detik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengen Jago Masak? Memodel Farah Quinn Yukk</title>
		<link>http://republiknlp.com/2011/03/03/pengen-jago-masak-memodel-farah-quinn-yukk/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2011/03/03/pengen-jago-masak-memodel-farah-quinn-yukk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 17:51:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Orisinil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Inna Istantina, Licensed Practitioner of NLP™ Belasan tahun lalu, saya pernah belajar teater. Meski tidak terlalu lama, tapi cukup memberikan banyak hal berarti buat saya pribadi. Buat Anda yang aktif di bidang ini, tentunya sangat paham, bahwa penjiwaan dalam teater sangat dibutuhkan untuk sebuah pementasan. Misalnya saja, ketika kita berperan sebagai seseorang dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Inna Istantina, Licensed Practitioner of NLP™</strong></p>
<p>Belasan tahun lalu, saya pernah belajar teater. Meski tidak terlalu lama, tapi cukup memberikan banyak hal berarti buat saya pribadi. Buat Anda yang aktif di bidang ini, tentunya sangat paham, bahwa penjiwaan dalam teater sangat dibutuhkan untuk sebuah pementasan. Misalnya saja, ketika kita berperan sebagai seseorang dengan profesi tertentu, <em>Connectedness</em> kita sebagai seseorang tersebut harus benar-benar bisa total &amp; seutuhnya. Bukan seperti sinetron jaman sekarang, ketika seorang artis cantik jadi pengemis, tapi kulitnya tetap terlihat mulus &amp; rambutnya tetappp saja terlihat halus &amp; dengan adanya kilauan lampu makin membuat rambutnya yang ‘sengaja’ dicat makin kelihatan warna catnya ^^</p>
<p>Saya masih ingat betul, ketika guru teater saya, Mas Hanung Bramantyo, yang sekarang menjadi salah satu sutradara fenomenal di negeri ini, sangat menekankan sekali dengan yang namanya kedisplinan. Bukan hanya disiplin masalah waktu latihan -yang pernah membuat saya sebagai salah satu muridnya yang kena hukuman ‘skot jump’ gara-gara telat beberapa menit dari jam latihan yang ditetapkan, hehe- akan tetapi juga disiplin dalam Pendalaman Karakter yang kita dapatkan.</p>
<p>Saat saya belajar NLP, Hypnosis &amp; Hypnotherapy bersama Mas Ronny FR, saya seperti kembali ke masa lalu, yaitu saat belajar teater. Jika Pendalaman Karakter di teater digunakan untuk menjiwai seseorang atau sesuatu secara ‘penuh’, di pelatihan NLP Practitioners, pendalaman karakter berarti mencari atau mengakses memori tertentu untuk tujuan tertentu, atau bisa juga melihat seseorang yang punya prestasi luar biasa &amp; kita menyelami orang tersebut &amp; apa yang dilakukannya, sehingga kita bisa ‘mendapatkan pendalaman karakter seutuhnya’ (MODELLING).<span id="more-168"></span></p>
<p>Tanpa kita sadari, rupanya kita sering melakukan modeling ini, tapi sudahkah Modelling Anda memberdayakan? Modelling bisa kita lakukan kapan pun &amp; dimanapun, bahkan jika kita sudah terbiasa melakukannya, hal tersebut akan terjadi secara otomatis, seperi saklar di kepala Anda yang siap Anda tekan, kemudian otak akan memerintahkan syaraf &amp; otot bekerja secara mudah &amp; efektif.<br />
Lantas apa hubungannya Modelling, Memasak &amp; Farah Quinn, jika kita tilik lagi judul postingan ini?</p>
<p>Wehehe sabarr saabarrrr…</p>
<p>Buat yang kaum Adam, sepertinya mendengar atau membaca kata FARAH QUINN saja langsunggggg Wowwww!!! Hehehehee…  Buat saya, Mba Cantik yang pinter masak ini, ternyata mujarab saya jadikan Model untuk meningkatkan kemampuan saya memasak lohhh..</p>
<p>Nah, pengen jago masak? Ini dia.. rahasia jadi Chef Profesional seperti Farah Quinn … (pastikan ini rahasia! Jadi jangan sampai tetangga sebelah  rumah tahu! Hehehheee)</p>
<p>Perlahannn… Anda bawa diri Anda yang tengah asikkk menonton acara memasak Ala Chef ‘Farah Quinn’… makin Anda memperhatikan dengan sungguh-sungguh acara tersebut.. Anda makinnnn rileeekssssss.. Bahkan lama-kelamaan, tanpa suatu alasan yang jelas, mata Anda berairrrr, &amp; ketika Anda butuhkan, mata Andapun bisa dipejamkan..</p>
<p>Baik mata Anda terbuka atau terpejam, bayangan sosok Farah Quinn mulai dekat, bahkan Anda pun makin jelas melihat warna baju yang dikenakannya, gerai rambut yang tersibak angin… &amp; gaya bicaranyaa yang khas…</p>
<p>Sekarangg.. Anda bisa mulai Gambarkan Farah Quinn yang sedang bersiap untuk memasak… Memasang celemek… Menyebutkan bumbu-bumbu &amp; bahan demi bahan yang digunakan  untuk memasak resep tertentu.. (anda bisa pilih resepnya sesuai dengan apa yang akan Anda masak)..</p>
<p>Anda lihat betapa RILEKSSSSSSnya Farah Quinn dari saat persiapan memasak, saat memotong bahan-bahannya, mengiris tipis atau tebal, menumbuk, menggoreng, menumis, memanggang… (prosesnya bisa disesuaikan dengan resep masakan tertentu yang Anda mau).. hingga tanpa Anda ketahui dengan pasti, tangan Anda mulai bergerak-gerak seolah-olah memegang pisau untuk mengiris, dsb…<br />
Saat Anda fokus dengan gambaran tersebut, bahkan Anda bisa mendengar suara setiap irisan, suaraaa sreeeenggg saat menggoreng, dan mencium aroma-aroma harum tertentu saat bumbu ditumisss, berarti Anda sudah mampu masuk ke dunia Farah Quinn yang seutuhnya…</p>
<p>Sementara Anda tetap fokussss, dalam hitungan 1..2…3… Anda bisa masuk ke dalam arena dapur Farah Quinn &amp; menjadi Chef yang sedang begituuuuuu asikkk &amp; rileksssnyaa memasakkk… Anda rasakan benar-benar, betapaaa nyaaaaamannnnyaaaaa proses memasak tersebut… hingga tak berapa lama, masakan Anda matanggg, terciumm kembali wangi harum, yang kali ini makinnnn menggoda perut &amp; lidah Anda…</p>
<p>Sesi dapat diakhiri, ketika Anda bisa melihat dengan jelas, seperti apa masakannya hingga bagaimana suara hati Anda memuji masakan tersebut saat mencium aroma &amp; mencicipinya… Bahkan ketika Anda menghidankan hasil masakan di piring atau mangkok, Anda ucapkan: This is It! Kentang Keju Panggang Ala Chef (sesuai nama Anda)…</p>
<p>Well done! Anda berada dalam puncak pendalaman karakter yang total, efektif &amp; memberdayakan! Anda bisa jagoooo masak dalam sekejap, meningkatkan kualitas masakan Anda &amp; membuat Anda sendiri terheran-heran dengan hasil masakan Anda yang jauh lebih weuuunyyyyyyyyakkkk dari sebelumnnnnyaaaa…</p>
<p>Resep ini untuk yang pengen jagoo masak lhooo yaa, buat yang pengen memodel body seksihhh Farah Quinn, sepertinya bolehhh jugggaaaa tuhhhhhh… -_-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2011/03/03/pengen-jago-masak-memodel-farah-quinn-yukk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Katakan cinta dengan NLP</title>
		<link>http://republiknlp.com/2011/03/01/katakan-cinta-dengan-nlp/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2011/03/01/katakan-cinta-dengan-nlp/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Mar 2011 04:42:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Orisinil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ricky Maulana Muchtar, Licensed Practitioner of NLP™ WARNING/PERINGATAN KERAS: Sebelum membaca, pastikan bahwa pengetahuan baru yang akan Anda dapatkan akan Anda gunakan untuk membangkitkan, memudahkan atau membesarkan rasa cinta untuk pasangan, calon pasangan ataupun bakal calon pasangan Anda. Maka pastikan bahwa niat Anda belajar untuk membangkitkan cinta pada pasangan Anda saat ini dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Ricky Maulana Muchtar</strong><strong>, Licensed Practitioner of NL</strong><strong>P</strong><strong>™</strong><strong> </strong></p>
<p>WARNING/PERINGATAN KERAS: <em>Sebelum membaca, pastikan bahwa pengetahuan baru yang akan Anda dapatkan akan Anda gunakan untuk membangkitkan, memudahkan atau membesarkan rasa cinta untuk pasangan, calon pasangan ataupun bakal calon pasangan Anda. Maka pastikan bahwa niat Anda belajar untuk membangkitkan cinta pada pasangan Anda saat ini dan meningkatkan cinta pada diri sendiri.</em></p>
<p>Ketika saya  melihat kembali ke masa lalu mengenai perasaan jatuh cinta yang pernah saya rasakan, maka saya mulai berkeinginan untuk merumuskannya kembali dalam bentuk Representational System. Silahkan Anda mempelajarinya dengan mudah dan kaitkan dengan diri Anda sendiri, dengan demikian setelah membaca artikel ini, Anda akan semakin menemukan variasi untuk me’nyatakan cinta Anda dengan NLP.</p>
<p>Seperti yang telah kita ketahui, Representational System terdiri dari V=Visual, A=Auditory, K=Kinestetik, O= G=, dan jika perlu kita boleh menambahkan Aid=Auditory Digital atau yang dapat juga disebut Self Talk. Hal tersebut dapat diperingkas lagi menjadi semakin mudah dalam 3 (tiga) bagian yaitu Visual, Auditory dan Kinestetic.</p>
<p>Beberapa dari Anda mungkin telah paham mengenai VAK, entah melalui pelatihan diluar sana ataupun melalui buku-buku yang Anda pernah baca. Jika belum, Anda dapat memulai belajar NLP melalui sumber yang tepat. Di Sinergi Lintas Batas, saya mempelajari lebih dalam mengenai VAK yang merubah pemikiran awal saya bahwa VAK itu merupakan tipe. Namun ternyata, jika ditelaah lebih lanjut, maka akan semakin jelas bahwa itu hanyalah preferensi atau sebuah pilihan yang dapat berubah secara situasional.<span id="more-158"></span></p>
<p>Saat Anda mengetahui preferensi system dari pasangan Anda, maka akan lebih mudah mengafirmasi rasa nyaman bagi pasangan Anda dalam berbagai kondisi. Beberapa perilaku berikut ini adalah mencontohkan suatu bentuk perilaku yang dapat Anda lakukan terhadap pasangan Anda yang memiliki preferensi submodalities bervariasi seperti:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Situasi: Dimana saya harus memulai?</strong></p>
<p><strong>Visual</strong>: Pria atau Wanita dengan preferensi visual menyenangi untuk melihat sesuatu hal yang indah. Maka pastikan sebelum menemui orang dengan preferensi demikian, Anda sudah berpenampilan yang dapat menarik perhatian lawan jenis Anda. Berpenampilan menarik disini tidak hanya harus berparas tampan atau cantik, melainkan juga dalam memilih pakaian dan melakukan make-up atas wajah Anda. Anda boleh mengurangi untuk memberikan pujian terlalu banyak, karena pada orang dengan preferensi visual, pujian dapat diasumsikan sebagai kenyataan atau gombal jika diucapkan terlalu banyak atau awal.</p>
<p><strong>Auditory</strong>: Indra pendengaran merupakan indera yang menjadi favorit bagi orang yang memiliki preferensi Auditory. Anda dapat memanfaatkan hal tersebut dengan menyampaikan rasa cinta Anda melalui kata-kata yang akan dicerna lebih mudah. Jadi bagi Anda yang senang menggombal maka ini kesempatan Anda untuk mengucapkan secara tulus pujian terhadap seseorang yang berpreferensi Auditory. Karena dia mempercayai indera pendengarannya, maka orang seperti ini cenderung untuk selalu berkata jujur. Hargai selalu apa yang ia ucapkan dan berikan pujian terhadap orang yang memiliki preferensi Auditory.</p>
<p><strong>Kinestetic</strong>: Pintu masuk untuk mendekati orang yang memiliki preferensi kinestetic dapat menggunakan indra perasa, pengecap dan pencium. Tentunya saat ini Anda berpikir bahwa jika Anda memegang tangannya atau tubuh bagian lainnya maka dapat mengaffirmasi rasa cinta yang dimilikinya. Jika Anda berpikir demikian, stop dulu sejenak. Hal itu baru bisa Anda lakukan jika Rapport Anda sudah terbentuk kuat dan Belief Systemnya memperbolehkan untuk demikian. Bagaimana jika tidak? Maka Anda dapat mulai membangun Rapport melalui pintu masuk indra pengecap dan pencium. Dan sekali lagi disini saya katakan, indra pengecap bukan berarti Anda harus menciumnya!! Untuk permulaan, Anda dapat memulai dengan memberikan aroma yang wangi bagi sekitar Anda. Beberapa orang dapat mengasosiasikan suatu aroma wangi parfum dengan orang tersebut. Sebagai tambahan, orang dengan preferensi seperti ini, cenderung untuk mengutamakan perasaan. Sehingga Anda dapat mulai mengungkit perasaan tersebut dengan melakukan sesuatu hal yang romantis.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Situasi: Pasangan Anda berulang tahun, apa yang akan Anda lakukan?</strong></p>
<p><strong>Visual</strong>: Berikan pasangan Anda sebuah Kado dengan bungkusan yang rapi. Dan didalam kado tersebut merupakan sebuah hadiah yang umumnya seorang dengan preferensi visual inginkan yang membuat penampilan atau cara pandang orang terhadap pasangan Anda seperti Pakaian yang indah, Sepatu yang unik, Tas yang menarik perhatian. Mengajaknya makan malam dengan dekorasi yang sesuai dengan yang pasangan Anda senangi akan menambah rasa bahagia pasangan Anda.</p>
<p><strong>Auditory</strong>: Pada preferensi ini, maka bukan dari isi kado itu yang akan menjadi penting melainkan Apa yang Anda ucapkan atau sampaikan kepada pasangan Anda. Namun jika Anda ingin menambahkan, Anda dapat memberikan kado berupa sesuatu yang dapat secara tidak sengaja membentuk Anchor dalam preferensi auditory seperti sebuah maenan kecil yang dapat mengeluarkan suara-suara tertentu. Jika Anda dapat bermain musik, maka Anda dapat memainkan sebuah atau beberapa lagu pada ulang tahun pasangan Anda. Jika Anda merasa mampu, Anda dapat mulai menciptakan suatu lagu sehingga walaupun Anda tidak berkesempatan untuk memainkan lagu tersebut pada acara ulang tahunnya namun Anda dapat mengirimkan lagu tersebut sebagai kado.</p>
<p><strong>Kinestetic</strong>: Memberikan kado pada ulang tahun pasangan Anda yang lebih dominan preferensi kinesteticnya, Anda dapat memulai dengan membawa pasangan Anda ke suasana romantis  sehingga pasangan Anda dapat merasakan suasana yang membuat pasangan Anda lebih nyaman. Tambahan beberapa bunga yang memiliki wangi yang indah akan sangat membantu untuk menyenangkan hati pasangan Anda. Untuk kinestetic, selama kado yang akan Anda berikan merupakan sesuatu hal yang romantis yang dapat pasangan Anda rasakan bagi dirinya, maka hal itu akan menyenangkan perasaannya. Ingat selalu untuk membawa tisu, karena kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan menangis terharu melampiaskan rasa cintanya pada Anda</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Situasi: Kemana saya harus membawanya kencan?</strong></p>
<p><strong>Visual</strong>: Mall dan Plaza merupakan beberapa alternatif untuk menyenangkan hati pasangan Anda sambil mungkin ber window shopping ria atau hanya untuk menyenangkan indra penglihatan saja. Sebagai tambahan, Anda boleh mengajaknya untuk pergi menonton di cinema favorit Anda. Alternatif lainnya adalah membawa pasangan Anda ke suatu tempat yang indah entah itu berupa pemandangan ataupun tempat hiburan.</p>
<p><strong>Auditory</strong>: Lagu atau suara akan membuat pasangan dengan preferensi ini menjadi merasa nyaman. Maka pastikan ketika kemanapun Anda akan pergi berkencan adalah suatu tempat dengan latar belakang suara yang baik dan melantunkan lagu-lagu yang mungkin pasangan Anda suka. Jika Anda membawa dia didalam mobil Anda, maka putarkan lagu-lagu yang menarik menurut dia.</p>
<p><strong>Kinestetic</strong>: Tempat yang romantis menjadikan tempat yang dapat menghasilkan perasaan cinta dalam dirinya, selain itu bergandengan tangan menjadi suatu kebiasaan yang membuat pasangan Anda nyaman. Namun pastikan bahwa dia dapat merasakan rasa nyaman ketika berada disamping Anda. Selama Anda membawa pasangan Anda ke suatu tempat yang membuat perasaan pasangan Anda nyaman baik dari apa yang ia sentuh maupun dari wewangiannya.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Situasi: Apa yang harus saya lakukan ketika berselisih?</strong></p>
<p><strong>Visual</strong>: Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, pasangan yang preferensinya visual senang dengan suatu hal yang indah dan bersifat tangible. Maka Anda dapat menggunakan kado/hadiah sebagai ‘tanda perdamaian’ sambil Anda meminta maaf kepada pasangan Anda.</p>
<p><strong>Auditory</strong>: Ini merupakan hal yang menarik. Apa yang pasangan Anda katakan kepada Anda cenderung merupakan hal yang jujur apa adanya. Begitu pula sebaliknya… Maka Anda dapat manfaatkan untuk meminta maaf kepadanya secara langsung dengan berkata-kata ataupun dengan mem-build-ing rapport melalui pujian-pujian terlebih dahulu.</p>
<p><strong>Kinestetic</strong>: Hmm…. Untuk yang satu ini… kita bisa menenangkan situasi dengan mengelus-elus pasangan Anda. Dengan demikian maka indra perasanya akan semakin terasa dan membuat nyaman dirinya. Jika Anda merupakan pasangan suami-istri, maka (mohon maaf) hubungan sex akan membantu Anda untuk keluar dari perselisihan.</p>
<p>Anda tentunya semakin penasaran dengan beragam kondisi lainnya yang dapat kita elicit dan afirmasi bersama-sama untuk menghasilkan komunikasi yang positif antara pasangan Anda. Sementara Anda tidak sabar untuk menunggu artikel sambungan ini, maka Anda dapat mulai mempraktekannya kepada pasangan Anda.</p>
<p>Goodluck..!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2011/03/01/katakan-cinta-dengan-nlp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KENALI Proses KEHILANGAN, Temukan MAKNAnya</title>
		<link>http://republiknlp.com/2011/01/25/kenali-proses-kehilangan-temukan-maknanya/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2011/01/25/kenali-proses-kehilangan-temukan-maknanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 11:50:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Inna Istantina, Licensed Practitioner of NLP™ “Memaknai kehilangan? Ahhh, itu hanya teoriiii sajaaa…”, begitu barangkali yang bersliweran di pikiran Anda sekarang. Pertanyaan berikutnya, memaknai yang seperti apa? Apakah memaknai itu sama halnya dengan merenungi, meresapi, hingga jadi sensi &#38; termehek-mehek? Atau memaknai secara positif &#38; memberdayakan? “Hayaaaahh, mana  ada memaknai kehilangan dengan positif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Inna Istantina, Licensed Practitioner of NLP™</strong></p>
<p><em>“Memaknai kehilangan? Ahhh, itu hanya teoriiii sajaaa…”</em>, begitu barangkali yang bersliweran di pikiran Anda sekarang.</p>
<p>Pertanyaan berikutnya, memaknai yang seperti apa? Apakah memaknai itu sama halnya dengan merenungi, meresapi, hingga jadi sensi &amp; termehek-mehek? Atau memaknai secara positif &amp; memberdayakan?</p>
<p><em>“Hayaaaahh, mana  ada memaknai kehilangan dengan positif &amp; memberdayakan”</em>, otak kritis Anda mengajukan mosi tidak percaya, secara dari pengalaman kumulatif yang Anda saksikan, dengar &amp; rasakan, kehilangan diidentikkan dengan lonely-desperate-hopeless. Kehilangan baik itu kehilangan ‘sesuatu’ atau seseorang acap kali membuat seolah hidup terhenti,  tak mampu berjalan lagi, dunia serasa runtuh, mata semakin berkabut, &amp; suara-suara kepiluan makin menyayatttt…..</p>
<p><strong>Eeitttsss… Stopppppp stoppp stoppppp….</strong></p>
<p>Ijinkan saya bertanya terlebih dahulu.. Sejauh mana Anda mengetahui bahwa ternyata jika kita semakin <strong>meng-Kenali bagaimana proses sebuah kehilangan</strong> itu bisa mempengaruhi kita, berarti semakin kita mampu memaknai kehilangan? Sudahkan Anda men-Sadari bahwa proses tersebut adalah jalan mudah menemukan makna dibalik sebuah kehilangan?</p>
<p>Bagaimana cara meng-<strong>Kenali proses sebuah kehilangan</strong>?</p>
<p>Ok, Begini…</p>
<p><span id="more-153"></span>Cara termudahnya adalah dengan menganalisa lebih fokus tentang kejadian yang telah Anda kategorikan sebagai sebuah kehilangan.</p>
<p>karena….</p>
<p>Tanpa Anda sadari, dengan MULAI untuk MELIHAT gambaran peristiwa, MENDENGAR suara (baik itu suara pada saat kejadian/ suara batin Anda sendiri), &amp; MERASAKAN sensasi yang muncul saat terjadinya momen kehilangan, berarti Anda belajar untuk men-Selami proses kehilangan SEKARANG!</p>
<p><strong>GAMBARAN </strong></p>
<p>Bayangkan/ visualisasikan saat-saat melihat peristiwa ‘kehilangan’. Perhatikan gambar tersebut dengan FOKUS. Ketika mata Anda menatap lekat ke gambaran tersebut, apa yang terjadi? Ada rasa tidak nyamankah? Jika ini terjadi, otak-atik gambarnya, semisal gambar ini semula berwarna, bisa diganti dengan hitam putih, atau jika warna gambarnya cerah bisa diredupkan, atau Andaikata gambarnya bergerak seperti film, Anda bisa rubah gambarnya menjadi diam, bahkan jika jaraknya terlampau dekat, bisa  dijauhkan. Otak-atik seoptimal mungkin baik itu warna, bentuk, jarak, dimensi dan apapun yang dapat menjadikan gambar tersebut mendatangkan keNYAMANan.</p>
<p><strong>SUARA</strong></p>
<p>Sebagian orang mampu mendengar dengan jelas suara-suara yang muncul dalam sebuah kehilangan, baik itu suara batin sendiri ataupun suara-suara orang-orang disekelilingnya.  Mana yang Anda dengar? Suara batin Anda atau suara di sekeliling Anda? Tidak ada yang BENAR atau SALAH dalam hal mendengar suara yang mana. Yang jauh lebih penting adalah, Anda sungguh-sungguh melacak suara tersebut. Jika parau &amp; terkesan tidak nyaman, Anda bisa ubah suara parau tersebut menjadi nyaring. Atau jika suara tersebut terlalu kencang volumenya, Anda bisa turunkan secara perlahan. Kuncinya tentu saja, menemukan takaran yang pas, agar suara yang Anda rubah tersebut menuju pada suara yang memberi kenyamanan. Otak-atik dari sisi volumenya, naik turun suara, hingga kecepatan suara tersebut.</p>
<p><strong>SENSASI </strong></p>
<p>Apa yang paling Anda RASAkan saat stimulus terhadap kehilangan itu muncul? Apakah berdebar-debar keras di dalam dada? Apakah seolah-olah ada udara keluar masuk ke rongga tubuh? Ataukah dingin/ hangat yang menyergap permukaan kulit/ seluruh tubuh Anda? Seperti halnya Otak-atik pada elemen GAMBARAN &amp; SUARA, pada SENSASI pun Anda mulai temukan kondisi tidak nyaman, dan kemudian bawa ke kondisi nyaman. Jika ada rasa tertentu di lidah, semisal pahit, asin, Anda bisa rubah rasa itu menjadi manis, ataupun sebaliknya. Misal sensasi dingin muncul &amp; menyebabkan ketidaknyamanan, Anda bisa rubah suhunya menjadi hangat. Tujukan pada nyaman. Tujukan pada kenyamanan.</p>
<p><em>***contoh elemen-elemen pada gambaran, suara, &amp; sensasi diatas bisa dalam kondisi sebaliknya**</em></p>
<p>Sebagian orang barangkali  mengalami sekaligus ketiga hal tersebut, baik itu GAMBARAN, SUARA, ataupun SENSASI. Akan tetapi sebagian yang lebih lain, terkadang hanya merasakan 1 atau 2 poin saja. Apapun itu, tidak ada yang tidak BENAR. Karena ke-MAMPU-an Anda untuk meng-otakatik  &amp; men-TEMUKAN KENYAMANAN itulah yang paling diperlukan.</p>
<p>Sesudah Anda mengotakatik elemen-elemen tersebut dan menemukan ke-NYAMAN-an. Tes dengan mengingat gambaran, suara, atau sensasi ketika muncul kembali memori kehilangan.</p>
<p>Jika Anda ulang proses otak-atik yang sama, dan semakin nyaman, berarti Anda tinggal perkuat &amp; persering. Akan tetapi jika belum, Anda bisa pilah lagi, langkah mana diantara GAMBARAN, SUARA, atau SENSASI yang lebih dominan.</p>
<p>Semakin Anda berhasil mengenali elemen-elemen dari proses Kehilangan, semakin Anda mampu mencari &amp; mendapatkan keNYAMANan.</p>
<p>Semakin Anda Nyaman, Semakin Anda mendapat hikmah dari setiap kehilangan yang terjadi.</p>
<p>Sementara Anda makin men-DAPAT HIKMAH dari sebuah kehilangan yang bermakna, maka Anda makin memperkuat mata, telinga, &amp; hati Anda untuk <strong>melihat-mendengar-merasakan</strong> hal-hal yang lebih positif &amp; memberdayakan.</p>
<p>Salam Ceria <img alt=":)" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2011/01/25/kenali-proses-kehilangan-temukan-maknanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hand Puppet, An Amazing Way to Change Children’s Belief</title>
		<link>http://republiknlp.com/2011/01/05/hand-puppet-an-amazing-way-to-change-children%e2%80%99s-belief/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2011/01/05/hand-puppet-an-amazing-way-to-change-children%e2%80%99s-belief/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 04:43:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Orisinil]]></category>
		<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Okina Fitriani, Licensed Practitioner of NLP™ Suatu ketika beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti status seorang teman di Facebook yang sedang berjuang keras mengantarkan anaknya ke sekolah. Mulai harus ditunggui di dalam kelas, di jendela, di halaman sekolah, hingga akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata dengan total proses memakan waktu lebih dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Okina Fitriani, Licensed Practitioner of NL<strong>P</strong></strong><strong>™</strong><strong> </strong></p>
<p>Suatu ketika beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti status seorang teman di Facebook yang sedang berjuang keras mengantarkan anaknya ke sekolah. Mulai harus ditunggui di dalam kelas, di jendela, di halaman sekolah, hingga akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata dengan total proses memakan waktu lebih dari 14 hari. (<em>semoga Tuhan melimpahi teman saya ini dengan pahala atas kesabarannya dan dedikasinya sebagai ibu</em>)</p>
<p>Jika peristiwa ini terjadi di Indonesia, barangkali tidak terlalu menegangkan, karena ada <em>extended family</em>, bibik, si embak, <em>baby sitter</em>, yang bisa dimintai tolong untuk menemani selama di sekolah atau mengerjakan pekerjaan rumah yang ditinggalkan.</p>
<p>Agak lain ceritanya jika anda tinggal di luar negeri, dimana segala bala bantuan ini tidak mudah diperoleh, dan seorang ibu mempunyai banyak tugas selain menjadi permaisuri, yaitu sebagai iyem, merangkap supir, merangkap baby sitter plus tukang kebun J. Dalam situasi seperti ini, tertahan di sekolah selama 4-5 jam membuat seorang ibu harus pontang-panting membuat penyesuaian jadwal dan bertoleransi dengan tumpukan pekerjaan rumah yang melambai-lambai di rumah…</p>
<p>Penyebab kasus seperti ini secara umum disimpulkan sebagai “rasa tidak aman untuk berpisah dari subjek lekat”. Rasa tidak aman berpisah dari subjek lekat yang kadung melekat pada diri anak bisa dikategorikan sebagai <em>limiting belief</em> yaitu suatu kepercayaan yang menghambat atau membatasi atau membelenggu (<em>silahkan dipilih istilah mana yang lebih anda sukai..</em>). Beberapa tulisan yang saya baca mengenai kasus seperti ini, cenderung menganalisa cara mendidik yang dianggap keliru..  bahwa seharusnya begini, seharusnya begitu.. tanpa diberi solusi kecuali bersabar menerima proses panjangnya.<span id="more-150"></span></p>
<p>Ngomong-ngomong soal <em>extended family</em> dan bala bantuan dalam pengasuhan anak, seringkali terjadi juga “ketidak sengajaan” penanaman keyakinan yang tidak sehat secara mental. Ada kebiasaan kuno dalam pola asuh anak  dengan cara menakut-nakuti… seperti “Awas jangan kesitu ada hantu/jurit/wewe” (<em>hahaha… wewe itu seperti apa ya bentuknya</em>)… “Awas, nanti kamu diculik, ngga bisa ketemu mamamu lagi!”, “Nanti dipanggilin dokter biar disuntik” dan sebagainya.</p>
<p>Ternyataaa oh ternyata… tidak hanya <em>extended family</em> dan para pengasuh yang melakukan dosa-dosa seperti contoh diatas,  orang tua modern yang saya pikir sudah meninggalkan metode pengasuhan kuno ini juga ada yg masih melakukannya dengan versi yang berbeda.. misalnya “Awas jangan panjat itu, nanti kamu jatuh berdarah, sakit lho..”, “Ayo belajar.. matematika itu sulit lho, nanti nilaimu jelek (pada anak usia sekolah), “Kamu memang selalu merepotkan” dan lain sebagainya…. Semoga semua orang tua yang pernah melakukan “dosa lidah” ini ramai-ramai melakukan tobat nasuha…  (<em>Nasuha?&#8230; jadi ingat final AFF yang menjadi pertandingan bola yang saya tonton seutuhnya sepanjang hidup saya.. semoga bidang olahraga di negeriku semakin maju</em><em>..).</em></p>
<p>Akibatnya? anak menjadi takut di tempat tertentu, takut ke dokter, merasa matematika sulit, takut mencoba hal baru, merasa diri tidak berharga dan lain-lain.</p>
<p>Menyalahkan “sang sebab” tidaklah cukup. Menghentikan penyebab yang kendalinya di tangan anda, adalah tindakan yang WAJIB hukumnya. Namun mungkin saja anda sudah tidak bisa lagi mengenali sebabnya, karena suatu keyakinan bisa muncul sebagai hasil kesimpulan anak dari berbagai peristiwa yang dialaminya atau bahkan hanya sekedar dilihatnya sambil lalu.. <em>(…toh anda tidak mungkin membesarkan anak dalam rumah kaca yang dapat anda kendalikan semua peristiwa yang boleh diterimanya bukan?…</em>). Maka kewajiban berikutnya yang juga sama pentingnya adalah MEMPERBAIKI kondisi yang sudah terlanjur terbentuk.</p>
<p>Bagi para penikmat NLP (<em>Neuro Linguistic Programming</em>), tentu ini persoalan mudah. Apalagi jika terjadi pada orang dewasa, remaja atau setidaknya anak-anak usia 7 tahun ke atas yang telah memiliki kematangan berkomunikasi.  Bahkan secara  menakjubkan teknik  sudah diramu  dalam  bentuk <em>conversational </em>oleh ahli-ahlinya seperti saya   sering temukan dalam tulisan-tulisan di berbagai laman maya.</p>
<p>Bagaimana jika yang anda hadapi adalah anak usia 3-5 tahun? Diperlukan kreatifitas tersendiri plus situasi yang menarik untuk membuat anak-anak pada usia ini mau dan dapat berkomunikasi sesuai arahan anda dalam rentang waktu tertentu. Jika anda atau cara anda dianggap tidak menarik oleh mereka, bukan tidak mungkin mereka akan kabur meninggalkan kita dalam kondisi <em>speechless…</em> J.</p>
<p><em>Hand puppet</em> (boneka tangan) dapat menjadi media untuk berkomunikasi dan mengaplikasikan teknik-teknik NLP secara mudah dan menarik. Teknik ini telah saya uji beberapa kali dan apa yang saya tuliskan disini adalah salah satu contoh yang dapat diaplikasikan untuk kasus-kasus lain sesuai dengan kebutuhan anda.</p>
<p>Saya sarankan anda menggunakan karakter binatang agar anak tidak serta merta mengasosiasikan karakter boneka dengan dirinya. Karakter orang kadang terlihat <em>scary</em>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>META MODEL </strong></p>
<p>Bukanlah pekerjaan yang mudah bagi anak untuk mendiskripsikan dengan jelas perasaannya (<em>jangan anak-anak…. Andapun sesekali mengalaminya bukan?</em>)</p>
<p>Untuk mengetahui secara spesifik persoalan apa yang dihadapi anak, anda perlu mengetahui secara detail gambaran apa yang ada dalam pemikirannya bukan sekedar pernyataan di permukaan atau lebih parah lagi hanya berdasarkan pendapat orang tuanya. Me-meta-model-i anak-anak tentu tidak sama dengan dengan orang dewasa, proses ini kadang membuat anda menjadi subjek yang menjengkelkan karena terlalu banyak bertanya</p>
<p>Proses ini tidak wajib dijalankan jika memang anda sudah tahu pasti berdasarkan pengamatan anda, apalagi jika anda adalah ayah dan ibunya yang sudah menjalankan proses pengumpulan data, atau lebih parah lagi yaitu… anda adalah “biang keladi”  masalahnya hehehehe….</p>
<p>Untuk kasus “saya tidak suka sekolah”, kadangkala anda memerlukan informasi lebih detail mengenai, “apa/siapa/kejadian apa yang tidak dia sukai dari sekolah”, “sejak kapan tidak suka” atau hal-hal lain yang menurut anda penting (<em>bagi saya… hal-hal yang saya sebutkan tadi sudah cukup</em>)</p>
<p>Baiklah…</p>
<p>Mari kita mulai proses spesifikasi masalah melalui cerita, saya sarankan anda membagi cerita menjadi 3 bagian :</p>
<p><strong>The Beginning : </strong></p>
<p>Bagian ini untuk mengeksplor indera anak tentang suatu kejadian. Ceritakan secara diskriptif baju yang dipakai oleh karakter yang anda pilih, sebutlah si Teddy dan si Froggie yang sedang diajak orang tuanya untuk melihat-lihat sekolah.  Ajaklah anak membayangkan wanginya bunga yang dilalui ketika mereka berjalan, bunyi kicauan burung, rasa gembira, manisnya kue yang dibeli dalam perjalanan, dll. Selain agar anak merasa nyaman, <em>his/her mind’s side door will swing wide open to accept your main process.</em> Saya suka menyebutnya dengan istilah tahap persiapan inderawi untuk membuka jendela pemikiran anak.</p>
<p><strong>The Middle :</strong></p>
<p>Disinilah bagian dimana anda akan mendapatkan informasi yang anda perlukan. Buatlah percakapan antara Teddy dan Froggie tentang perasaan si Froggie ketika mereka sampai di sekolah. Ada beberapa alternative cara bertanya untuk memancing jawaban anak:</p>
<p>1.    Lakukan jeda setiap kali Teddy bertanya kepada Frogie, untuk memberi kesempatan anak menjawab.</p>
<p>2.    Buatlah gerakan seolah Froggie menggaruk-garuk kepala dan bertanya pada anak, apa jawaban pertanyaan Teddy</p>
<p>3.    Teddy bertanya langsung kepada anak setelah Froggie menjawab</p>
<p><em>Chunking down</em> informasi yang sifatnya umum ke spesifik karena anak suka menggunakan kata-kata generalisasi sepeti “pokoknya ngga suka aja”, “semua jelek”, dsb. Perhatikan rentang konsentrasi anak.  Jangan berlama-lama karena rentang konsentrasi anak-anak lebih pendek dari rentang konsentrasi orang dewasa <em>(yang bisa asyik berjam-jam mendengar kisah tentang “si pencari suara 2014 yang banyak dosanya pada rakyat tapi tidak punya malu mencalonkan diri” di kedai kopi.. ;p</em>). Anda hanya perlu sedikit sensitif untuk bisa mengenali tanda-tanda penurunan konsentrasi pada anak misalnya ia mulai mengalihkan pandangan ke berbagai arah, gelisah, menguap.. dsb..dsb.. (<em>thanks to hand puppet yang bisa dimanfaatkan untuk membuat gerakan-gerakan lucu</em>)</p>
<p>Bisa saja anda terkejut dengan hasil penemuan anda, karena kesimpulan akhirnya bisa beragam seperti :</p>
<p>“Aku tidak suka sekolah sendiri karena aku takut ibu terlambat menjemputku, nanti aku harus menunggu sendirian, kalau nanti ada orang asing datang, aku diculik orang asing dan tidak bisa bertemu ibu lagi” (<em>disini anda menemukan rasa takut kuadrat</em>)</p>
<p>“Aku tidak suka Pak guru karena tidak keren seperti ayahku, pasti dia tidak sebaik ayah” (<em>suit… suit… para ayah boleh numpang GR sebentar… :p</em>)</p>
<p>“Teman sebelahku mencubitku” (hati-hati.., jawaban ini membutuhkan penyelesaian lain karena tidak ada hubungannya dengan belief !)</p>
<p>Salah satu contoh jawaban yang saya temukan adalah : “sekolah itu tidak menyenangkan, karena teman-teman sebaya nggak <em>fun</em>. Lebih menyenangkan bermain dengan teman-teman kakak, permainan teman-teman kakak lebih asyik. Teman-teman sebaya membosankan….mereka itu masih <em>baby</em>”</p>
<p>Hhmmm&#8230; rupanya masalah sedikit bergeser dari “tidak suka sekolah” menjadi “teman sebaya ngga fun/membosankan”</p>
<p><strong>The Happy Ending :</strong></p>
<p>Tutup cerita dengan akhir yang bahagia. Pelukan, ciuman, kata-kata yang berulang dan nyanyian biasanya menjadi pembungkus favorit bagi anak-anak.</p>
<p>Test jawaban anak dalam kondisi riil, misalnya dengan meminta ortu-nya untuk mengajak anak ke sekolah kakaknya. Apakah dia terlihat <em>excited</em>? Atau dengan mengajak anak bermain dengan teman sebayanya di lokasi bukan sekolah. Apakah dia memang tidak berminat?</p>
<p>Jika BENAR, mari kita melangkah ke tahap berikutnya.., jika salah? hehehe… silahkan mundur 3 langkah.. ;p</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>CHANGING BELIEF</strong></p>
<p>Tahap ini adalah tahap dimana anda akan menggugurkan <em>limiting belief </em>anak dengan mengganti gambaran mental anak terhadap situasi yang tidak menyenangkan dengan situasi yang menyenangkan atau menggelikan. Mengganti perasaan <em>inferiority</em>-nya terhadap situasi yang tidak disukainya menjadi berdaya.</p>
<p>Saya sarankan anda tetap membagi cerita menjadi 3 bagian, mengaplikasikan teknik <em>changing belief system</em> di tengah cerita.</p>
<p>Saya memilih menggunakan cerita ini :“Sampailah Teddy dan Froggie ke sekolah.. di depan kelas Froggie melihat teman-temannya..” (jeda)… biarkan anak menyambar cerita dengan menggambarkan perasaannya melihat teman-teman sebaya. Jika tidak ada reaksi, pancing dengan pertanyaan dari Teddy kepada Froggie dan selanjutnya dari Froggie kepada anak. Buatlah anak mengobservasi kehilangan minat yang dialaminya melalui tokoh Froggie … ikuti gerakan matanya dan letakkan Froggie di tempat matanya memandang ketika dia berhasil menemukan lokasi belief-nya. BREAK.. Lepaskan Froggie dari tangan anda.</p>
<p>Alihkan beberapa detik pada hal lain, misalnya dengan berpura-pura haus dan mengajaknya minum bersama anda.</p>
<p>Alihkan focus cerita. Kisah Teddy yang bertemu karakter lain yaitu si Goofie menjadi pilihan saya.  Teddy dan Goofie bermain ayunan, Teddy mendorong Goofie hingga Goofie berayun tinggi… tinggiiiii di udara…, stimulasi ingatan anak kepada pengalamannya bermain ayunan (<em>tentunya anda harus tahu dulu kegiatan yang ia sukai.. jika bermain ayunan justru menakutkan, artinya anda meng-elicit emosi yang salah <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em>).. Untuk menguatkan rasa <em>exciting</em> yang dialaminya, saya melakukan gerakan-gerakan jenaka dengan karakter Goofie, menutup salah satu matanya sambil sedikit mengintip, jeritan-jeritan kecil, berpura-pura salah memegang mulut menjadi telinga..  terusss.. sampai anak berada dalam titik senang, geli, exciting mendekati optimal <em>(…jangan kuatir.. membuat anak kecil terpingkal-pingkal jauh lebih mudah dari membuat atasan anda tersenyum </em><em>J</em><em>)</em></p>
<p>Dengan gerakan tangkas ganti munculkan karakter  Froggie di tempat dimana tadi ia anda hilangkan yang mewakili submodality “anak-anak membosankan” (<em>jika ada reaksi diam 1-2 detik.. Bagus.. artinya dia sedang menarik informasi lama yang sudah terbentuk .. Jika tidak ada reaksi, pancing selintas dengan mengatakan “ngga fun”</em>). Serta merta pindahkan posisi Froggie ke belakang Goofie hingga karakter Froggie tertutup oleh Goofie dan lanjutkan gerakan-gerakan jenakanya hingga si anak kembali tertawa terkekeh-kekeh sambil mendekatkan karakter Goofie ke arah anak&#8230;. teruss.. teruss.. dan stop. Selesai sudah…</p>
<p>Lepaskan kedua karakter dari tangan anda dan lanjutkan akhir cerita secara naratif. Libatkan anak untuk membuat akhir cerita yang disukainya. Lakukan <em>recheck</em> apakah keyakinan lamanya telah tergugurkan berdasarkan akhir cerita yang dibuatnya.</p>
<p>Ingatkan orang tua untuk tidak perlu membahas “masalah” ini sampai saatnya anda mengalami pengalaman yang sebenarnya.</p>
<p>Singkat cerita, saya mendapatkan informasi bahwa si anak telah melenggang dengan ceria ke kelasnya keesokan harinya.</p>
<p>Tentunya proses tidak berhenti sampai disini, tetapi terus dilanjutkan dengan proses menikmati situasi-situasi menyenangkan dan proses memaafkan situasi-situasi tidak menyenangkan yang secara riil ditemukan pada hari-hari selanjutnya, agar anak menjadi fleksible dan <em>resilience</em> ketika menghadapi berbagai fakta.</p>
<p>Akhirnya…</p>
<p>Tulisan ini saya persembahkan pula bagi semua sahabat saya, para ibu dan ayah yang mungkin tidak pernah bersentuhan dengan <em>Neuro Linguistic Programming. </em></p>
<p>Kasus ini hanyalah sebuah contoh yang bisa anda modifikasi sesuai dengan kondisi yang anda hadapi baik bagi anak-anak anda maupun anak-anak yang anda bantu. Bantu juga diri anda dan para orang tua untuk ikut berubah karena seringkali apa yang diyakini anak adalah hasil ‘memodel’ apa yang diyakini orang tuanya.</p>
<p>Teruslah membuat perbaikan, karena anak-anak adalah tamu istimewa, yang kita undang untuk masuk dalam kehidupan kita atas ijin dan kuasaNya.. maka sudah sepantasnya, mereka mendapatkan perlakuan istimewa selayaknya “tamu istimewa”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2011/01/05/hand-puppet-an-amazing-way-to-change-children%e2%80%99s-belief/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DEAL WITH PEOPLE YOU CAN’T STAND</title>
		<link>http://republiknlp.com/2010/08/28/deal-with-people-you-can%e2%80%99t-stand/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2010/08/28/deal-with-people-you-can%e2%80%99t-stand/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 06:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[PERCEPTUAL POSITION AND WELL-FORMED OUTCOMES HELP YOU TO DEAL WITH PEOPLE YOU CAN’T STAND Oleh : Okina Fitriani, Licensed Practitioner of NLP(TM) Apa yang anda rasakan, jika anda menghadapi seseorang yang judes, dingin, bahkan menganggap anda tidak ada ketika anda berbicara dengannya? Mungkin hanya dengan membayangkannya saja, sudah muncul perasaaan kesal, marah atau sensasi-sensasi negative [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERCEPTUAL POSITION AND WELL-FORMED OUTCOMES </strong></p>
<p><strong>HELP YOU TO DEAL WITH PEOPLE YOU CAN’T STAND</strong></p>
<p><strong>Oleh : Okina Fitriani, Licensed Practitioner of NLP(TM) </strong></p>
<p>Apa yang anda rasakan, jika anda menghadapi seseorang yang judes, dingin, bahkan menganggap anda tidak ada ketika anda berbicara dengannya?</p>
<p>Mungkin hanya dengan membayangkannya saja, sudah muncul perasaaan kesal, marah atau sensasi-sensasi negative lainnya dalam hati anda.</p>
<p>Jika anda berdarah preman mungkin anda akan menggebrak meja dihadapan orang tersebut. (hhhmmm apakah istilah preman ini mengingatkan anda pada kawan kita saat perkenalan peserta Licensed NLP Practitioner  batch #10? siapakah dia?  J)</p>
<p>Jika anda bermental baja, mungkin anda tetap cuek nyerocos dan berharap satu dua informasi nyangkut di kepalanya.</p>
<p><span id="more-146"></span></p>
<p>Atau… anda memilih meninggalkannya dan berkata dalam hati “Emang siapa lu!”</p>
<p>Maka anda akan membuat kesimpulan bahwa dia adalah “ORANG SULIT”</p>
<p>Jika orang tersebut tidak penting dalam pencapaian tujuan anda, anda bisa memilih berbuat apa saja, tetapi seringkali “si nyebelin” itu adalah orang yang cukup penting dalam pencapaian tujuan anda.”</p>
<p>Kawan saya, seorang agen asuransi, mengeluh sering “dikacangin” alias dicuekin oleh calon nasabahnya. Meskipun darah mendidih, apa boleh buat kenyataan-kenyataan seperti itu menjadi hidangan yang mau-tidak mau harus dihadapinya terutama jika calon nasabah itu memang potensial. Pengalaman pernah gagal akan menjadi bumbu yang menambah siksaan yang menekan di dalam dirinya.</p>
<p>Malam itu, melalui telepon, kawan saya curhat bahwa besok siang dia harus menemui seorang calon nasabah, sebut saja Mr. RX yang tergolong “sulit” atas permintaan istri Mr. RX. Sang istri ingin suaminya mengambil suatu program asuransi yang dibutuhkan oleh keluarga tetapi tidak sanggup membujuk suaminya. Kawan saya sudah pernah menemui Mr. RX ini dua kali. Hasilnya? Memandangpun dia tak mau.. (halah.. kejam nian..)</p>
<p>Tidak tanggung-tanggung, kali ini, kawan saya harus menemui Mr. RX di Jakarta, sedangkan kawan saya tinggal di Yogyakarta. Anda dengan mudah dapat membayangkan <em>effort</em> berupa tenaga dan biaya yang akan dikeluarkan oleh kawan saya ini untuk menemui Mr. RX. Apalagi usaha itu belum tentu mendatangkan hasil. Dia minta saya menolongnya mengatsi masalah ini dan ingin bertemu dengan saya sebelum berjumpa dengan Mr. RX</p>
<p>Singkat cerita…</p>
<p>Pagi-pagi sekali <em>directly</em> dari statiun Gambir, kawan saya sudah bertandang ke rumah kakak saya dimana saya menginap selama di Jakarta. Bayangkan.. directly… tanpa mandi, tanpa sarapan dengan wajah diselimuti kekhawatiran. Setelah mandi dan minum teh, kami mulai berbincang. Saya menanyakan apa yang dia harapkan dari pertemuannya kali ini dengan Mr. RX.</p>
<p>“Setidaknya dia mau dengar penjelasan saya dulu deh…” katanya</p>
<p>“Cuma itu” tanya saya</p>
<p>“Yaaa… kalau bisa langsung sign, ya Alhamdulillah”.. sambungnya</p>
<p>“Kira-kira anda mengerti tidak apa yang dia harapkan dari anda dan produk anda ini” lanjut saya</p>
<p>“Ya yang pasti perlindunganlah.. keuntungan barangkali, mungkin sekedar nyeneng-nyenengin istrinya. Dia itu sudah beberapa kali kecewa dengan agen asuransi, mungkin dia mau nge-test apakah aku ini cukup bisa dipercaya”… (apa yang muncul dalam pikiran anda mendengar jawaban seperti ini?&#8230; Yaaa BETULL&#8230; dia belum mengenali dengan pasti harapan Mr. RX)</p>
<p>Situasi ini mengingatkan saya pada cerita Pak RFR tentang perselisihan berkala yang dialaminya setiap ada acara <em>njagong manten</em>…</p>
<p><strong>PERCEPTUAL POSITION</strong></p>
<p>Sebagai pembukaan, saya akan mengajak kawan saya ini untuk berkenalan dengan Mr.RX lebih dekat melalui <strong><em>perceptual position</em></strong>.</p>
<p>Sebelum memulai saya minta kawan saya menentukan siapakah <em>the neutral subject</em> yang kira-kira dapat memberi masukan kepadanya mengenai Mr. RX. Karena saat itu kami berbincang di ruang tamu, maka mudah bagi saya untuk menjalankan teknik ini. Saya tulis tiga nama, kawan saya, Mr. RX dan si netral yang saya tempatkan di tiga posisi yang berbeda membentuk segitiga. Saya minta dia seolah-olah berdialog <em>as herself,</em> Mr. RX dan <em>the neutral subject</em>. Setiap kali dia berpindah posisi saya tanyakan “siapa anda” untuk memastikan bahwa dia sudah associate dengan peran yang dijalankannya. Saya memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya.</p>
<p>Bagus sekaliii..  saya mengamati perubahan ekspresi menjadi <em>reluctant</em> ketika dia mengubah posisinya menjadi Mr. RX. Ketika selesai dengan proses <em>perceptual position</em> saya melihatnya manggut-manggut. <em>Aha… !! She got it….</em> pikir saya.</p>
<p>Sesuai dugaan saya, tanpa saya tanyakan, dia sudah langsung menceritakan <strong>temuan</strong> yang ia dapatkan dari proses ini. Temuan yang membuatnya lebih memahami kebutuhan dan kemauan Mr. RX. Temuan itu tentunya tidak dapat saya bagikan kepada anda, tetapi saya yakin anda sudah mendapatkan poin penting dari cerita saya. Sebetulnya tidak ada “orang sulit”, yang ada adalah “kita tidak mengerti kebutuhannya.”</p>
<p>Mengingat <em>effort </em>yang telah dilakukan kawan saya, tentu kami tidak ingin berhenti hanya sampai memahami dan diterima oleh Mr. RX saja… Kami lanjutkan proses ini ke titik yang lebih tinggi yaitu persetujuan Mr. RX untuk mengambil program asuransi yang menurut istrinya memang sangat dibutuhkan oleh keluarganya.</p>
<p><strong>WELL-FORMED OUTCOMES</strong></p>
<p>Dalam proses ini saya meminta kawan saya membayangkan sedetail mungkin apa tujuannya bertemu dengan Mr. RX. Tujuan ini haruslah dilandasi dengan tujuan positif sesuai dengan <em>value-</em>nya (kawan saya ini religius dan santun tiada tara) agar tidak ada pertentangan di area subconscious ketika tujuan tersebut tercapai. Sambil menentukan tujuan saya beri masukan-masukan agar tujuannya menjadi lebih nyata dan lengkap dengan mengajukan pertanyaan “Kapan terjadinya?”, “Berapa nilainya?”, “Dimana dia tandatangani?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenis.</p>
<p>Dan luar biasa sodara-sodara….!!!</p>
<p>Saya bisa mengenali bahwa visualisasinya terhadap tujuan itu begituu riil. Lengkap dengan tanggal yang spesifik, detail dan diwarnai <em>Auditory Digital</em> yang kuat.  Sementara anda membayangkan seberapa jelas gambaran kawan saya ini mengenai tujuannya, saya juga mengingatkan anda bahwa kadang-kadang klien kita memerlukan bantuan kita untuk dapat membangun tujuan yang kuat. Dengan demikian proses terapi kita akan memberikan manfaat yang maksimal bagi kepentingan klien sekaligus masukan untuk proses pembelajaran kita.</p>
<p>Proses ini saya mulai dengan mengajaknya menemukan garis <em>timeline</em>-nya sendiri kemudian membentangkannya menjadi sebuah jalan menuju <em>her desired goal</em>. Saya minta ia menentukan <em>resources</em> apa yang ia butuhkan dan tahapan apa yang akan ia jalani untuk sampai pada tujuan tersebut. Sebelum ia memulai, saya ajak dia berdo’a agar tujuannya di hijabahi oleh Yang Maha Agung, Penguasa alam semesta</p>
<p>Perlahan saya bimbing dia melangkah menuju <em>desired goal-</em>nya<strong> </strong>dan mengumpulkan semua <em>resources </em>yang ia dibutuhkan. Dan ketika ia menempati titik tujuannya…..</p>
<p>wajahnya <strong>sumringah</strong>..</p>
<p>senyum mengembang…..</p>
<p>puji syukur secara otomatis dia gumamkan…</p>
<p><strong>Alhamdulillah… </strong></p>
<p>Saya minta dia melangkah sekali lagi ke hari berikutnya, hari dimana tujuannya telah tercapai dan telah dilaluinya. Kemudian ia membalikkan badan mengumpulkan sumber daya<strong> </strong>yang mungkin masih tersisa hingga kembali ke saat ini, memandang kepada tujuan yang telah ia nikmati sensasi pencapaiannya.</p>
<p>Ketika saya tanyakan apa yang dia rasakan.</p>
<p>“Wah.. rasanya seperti saya sudah benar-benar mendapatkannya ya… InsyaAllah berhasil, malah tadi muncul gambaran saya mengajak ibu saya berlibur dari hasil saya bulan ini.. Alhamdulillah…”</p>
<p>Mantabbsss boooook…..</p>
<p>“Tapi mbak….. “katanya tiba-tiba</p>
<p>Haduh… apalagi nih kok pakai tapi.</p>
<p>“Saya tu sering bertemu orang-orang seperti Pak. RX itu. Meskipun saya sekarang sudah mengerti kemauannya dan yakin akan berhasil, tapi saya khawatir… Saya takut jika nanti saat pertama kali saya melihat wajahnya hatiku ciut… terbayang kegagalan yang dulu pernah kualami”..</p>
<p>Oalahhh……</p>
<p>OK deh..  rupanya kawan ini perlu sedikit suntikan semangat. Karena waktu sangat sempit, jadwal untuk bertemu dengan Mr. RX sudah semakin dekat. Tidak sempatlah kiranya kalau saya harus memberi patatah petitih pembakar semangat.</p>
<p><strong>SUNTIKAN KILAT PEMBAKAR SEMANGAT</strong></p>
<p>Supaya tidak terlalu lama membuang waktu, saya lakukan proses hypnosis dengan <em>rapid induction </em>menggunakan jari ala Pak Yan setelah sebelumnya saya melakukan satu kali <em>suggestivity test</em>. Pada titik ini saya yakin dia akan mengikuti karena saya sudah melihat dia percaya penuh pada saya.  <em>Rapport </em>sudah terbangun dengan sendirinya. Dan dugaan saya benar. <em>Rapid induction</em> berhasil dalam satu kali <em>shoot</em>. Setelah deepening sebentar dan menemukan dia dalam kondisi relax, saya minta dalam setiap tarikan nafasnya dia menarik energy positif yang di sediakan Allah di alam semesta berupa semangat, keyakinan dan kekuatan. Dan pada setiap hembusan nafasnya  rasa takutnya. Ketakutan akan kegagalan dan ketakutan pada penolakan. Ketika saya bangunkan dia tersenyum lebar.</p>
<p>“Wahhh buuu… josss tenan ini…  rasanya diriku dipenuhi energy positif”</p>
<p>Alhamdulillah.. dan dengan penuh keyakinan meluncurlah ia menghadapi tantangannya</p>
<p>Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar bahwa hasil pertemuannya SUKSES. Mr. RX setuju mengambil program asuransi yang jumlahnya puluhan juta per tahun sehingga jumlah totalnya pertanggungannya mencapai ratusan juta. Wow…</p>
<p>Dan dua minggu kemudian dia menulis di laman FB saya, bahwa kini dia lupa rasanya gagal dan selalu penuh semangat menghadapi setiap calon nasabah.</p>
<p>Subhanallah… DASYAATTT….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2010/08/28/deal-with-people-you-can%e2%80%99t-stand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Ndemok-Ndemok” Pattern – The Double Ambiguities</title>
		<link>http://republiknlp.com/2010/08/18/%e2%80%9cndemok-ndemok%e2%80%9d-pattern-%e2%80%93-the-double-ambiguities/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2010/08/18/%e2%80%9cndemok-ndemok%e2%80%9d-pattern-%e2%80%93-the-double-ambiguities/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 07:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rudi Tamrin, Licensed Practitioner of NLP ™ Sementara Anda mempertanyakan judul ditulis di atas, saya sarankan Anda tidak  perlu membayangkan apa-apa terlebih dahulu sehubungan kata “ndemok” tersebut. Istilah ini saya temukan dari beberapa rangkaian sesi Licensed NLP Practitioner yang saya ikuti pada batch ke-10 yang lalu. Siapa lagi kalau bukan dari trainer yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <o:OfficeDocumentSettings> <o:AllowPNG /> </o:OfficeDocumentSettings> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves>false</w:TrackMoves> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:DrawingGridHorizontalSpacing>18 pt</w:DrawingGridHorizontalSpacing> <w:DrawingGridVerticalSpacing>18 pt</w:DrawingGridVerticalSpacing> <w:DisplayHorizontalDrawingGridEvery>0</w:DisplayHorizontalDrawingGridEvery> <w:DisplayVerticalDrawingGridEvery>0</w:DisplayVerticalDrawingGridEvery> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:DontGrowAutofit /> <w:DontAutofitConstrainedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> </w:Compatibility> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="276"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:12.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ascii-font-family:Cambria;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-hansi-font-family:Cambria;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
</style>
<p><![endif]--> <!--StartFragment-->Oleh : Rudi Tamrin, Licensed Practitioner of NLP ™</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sementara Anda mempertanyakan judul ditulis di atas, saya sarankan Anda tidak  perlu membayangkan apa-apa terlebih dahulu sehubungan kata “ndemok” tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Istilah ini saya temukan dari beberapa rangkaian sesi Licensed NLP Practitioner<span> </span>yang saya ikuti pada batch ke-10 yang lalu. Siapa lagi kalau bukan dari trainer<span> </span>yang kita kagumi bersama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Istilah ini menjadi menarik karena ternyata “NLP” lebih fun(ny) dari apa yang saya bayangkan mengenainya sehingga calon-calon NLP-er yang tadinya serius bisa<span> </span>tertawa juga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Membayangkan Pak Ronny mengucapkan kata “ndemok” saja, saya sudah<span> </span>terpingkal-pingkal. Apalagi jika beliau melafalkannya dengan logat kesukaannya,<span> </span>Madura, “mok ndemok ta’iye”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Semakin Anda penasaran dengan istilah itu, semakin<span> </span>banyak pertanyaan yang akan meng-kritisi pattern yang satu ini bukan? <span> </span>Sebab, perasaan mengatakan bahwa Dr. Bandler tidak pernah menciptakan patern tersebut! Wow, begitu seru pelatihan kita ini!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sambil Anda terus bertanya penuh selidik mengenai hal ini, sebentar lagi saya akan mengajak Anda<span> </span>melihat relevansinya dengan ilmu manusia yang menarik ini, tapi tidak sekarang….!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-142"></span><br />
Adalah seorang bernama Basiyo, pelawak asal Yogyakarta, yang memiliki pattern (pola) lawakan terkenal dengan ciri khas tertentu. Meniru istilah Bpk Putu Darma Putra seorang kawan dari batch 10 juga yang tawanya amat khas, juga istilah dari Asmuni seorang pelawak yang sudah almarhum, Basiyo ini punya lawakan yang ‘cas’. Kekhasan Basiyo adalah kemampuannya dalam memplesetkan sebuah kata sehingga <span> </span>memiliki makna lain. Dalam istilah NLP, gejala bahasa itu mirip dengan <em>Phonological Ambiguity</em>, kata yang berbunyi mirip tapi memiliki arti yang<span> </span>berbeda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Plesetan ala Basiyo cepat sekali merambah ke bidang lain, terutama sosial dan politik. Sastrawan dan Budayawan Emha Ainun Najib adalah seseorang yang membukukan gejala bahasa ini dalam buku berjudul Oples (Opini Plesetan) tahun 90-an.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Contoh plesetan terkini yang tertangkap oleh pengamatan saya adalah ”kasus Ariel Peterporn cukup membuat heboh kalangan anak muda kita.” Sekali lagi<span> </span>saya tidak minta Anda membayangkan Cut Tari ataupun Luna Maya dalam drama tersebut he..he..he.., tapi bayangkan saja keambiguan kata-kata peterporn ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Tentu saja sampai disini, pikiran kita dengan mudah menyimpulkan dan mengingat bahwa <strong>Ambiguity memang pattern yang hebat dan penting untuk dipelajari di Sinergy Lintas Batas!</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Nah, tentunya Anda sudah tahu bahwa kata Peterporn adalah plesetan dari kata Peterpan, group band yang digawangi Ariel. <span> </span>Ambigu ini mengandung kelucuan dan memplesetkan makna yang menarik…</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Begitu akrabnya gejala bahasa itu di telinga kita, sampai-sampai tanpa kita sadari kita sering bermain-main dengan plesetan kata-kata dalam keseharian kita. Ayo mari kita membuat “Kesenangan Rumah” (ini adalah reframing ala Pak Ronny untuk Pekerjaan Rumah) masing-masing 2 contoh dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Nah, “ndemok-ndemok” pattern adalah plesetan Bpk Ronny terhadap salah satu Hypnotic Language Patters, tepatnya “the more&#8230;. the more” pattern. Aslinya ini ada dalam rumpun Semantic Ill-Formedness – Causal Modelling or Linkage, yaitu penggunaan kata yang mengakibatkan hubungan sebab di antara sesuatu yang tengah terjadi dan sesuatu yang diinginkan terjadi oleh komunikator, dan mengajak pendengarnya untuk merespon bahwa hal itu yang menyebabkan hal lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">The more-the more <span style="font-family: Wingdings;"><span>à</span></span> Ndemok-ndemok…. Akhirnya menjadi plesetan yang begitu kuat, ketika diucapkan dengan intonasi dan logat yang khas. Sekarang saya ajak kita membayangkan bagaimana Pak Ronny mengucapkan ”mok ndemok, ta’iye”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Wkkkwkkkwkkkk …. menggelikan bukan?!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Makna ambigu lain dari ndemok-ndemok pattern</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Di sisi lain, dalam pelatihan itu juga sering dipakai istilah <em>ndemok-ndemok</em> pattern dalam konteks yang berbeda. Tentunya <em>ndemok-ndemok</em> pattern yang ini memiliki arti yang sangat berbeda dengan the more..the more pattern, walau bunyinya mirip apalagi kalau dimirip-miripkan oleh<span> </span>ahlinya. <strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Di sini, istilah ndemok adalah memiliki arti “memegang” (dalam bahasa jawa). Jadi ndemol-ndemok pattern adalah berarti “kebiasaan / pola suka pegang-pegang si klien”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Nah, <em>ndemok-ndemok</em> pattern yang ini adalah ‘pattern pengecualian’ yang tidak boleh diakuisisi sebagai tehnik NLP. Kenapa demikian?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Berbahaya sekali, jika kita tanpa sengaja melakukan “<em>ndemok</em>” seorang klien pada saat emosinya sedang intense sekali, karena bisa menjadi suatu anchor!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Semakin kita sering <em>ndemok</em> seseorang dalam sesi coaching atau teraphy, semakin banyak <em>unintended-anchor</em> yang kita tanamkan dalam diri orang tersebut, itupun kalau anchornya tepat dan kontekstual.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Semakin banyak anchor sentuhan yang kita tanamkan dalam diri seseorang, semakin besar kemungkinan terjadi transfer hal-hal yang tidak kita inginkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Critical point terjadi di sini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Singkat kata alih-alih ingin mengcoach<span> </span>atau menghypnosis seseorang, malahan kita yang dicoach atau yang terhypnosis.<span> </span>Beberapa teman saya (berarti lebih dari satu) dulu pernah terjebak dalam pattern yang tidak semestinya ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Baiklah…</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Candaan ini memang terkesan remeh temeh, tapi pesan yang terkandung di dalamnya<span> </span>begitu amat dahsyat. Di awal pembelajaran saya mengenai NLP, saya bersyukur bisa mengenali <em>warning system “ndemok-ndemok pattern” </em>ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Terima kasih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2010/08/18/%e2%80%9cndemok-ndemok%e2%80%9d-pattern-%e2%80%93-the-double-ambiguities/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>EFT &amp; Submodality NLP</title>
		<link>http://republiknlp.com/2010/08/18/eft-submodality-nlp/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2010/08/18/eft-submodality-nlp/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 07:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM) DOR…TAR…TER…TOR…suara petasan bersahut-sahutan…anak-anak tertawa riang.  Setelah menyelempangkan kain sarung dibahunya, anak berpeci hitam itu mulai membakar kembang api dan.. WUUSHHH…kembang api itu menyala dan berputar-putar, api warna-warni bersinar terang dan aroma mesiupun tercium menyengat hidung. Begitulah suasana ramadhan setelah subuh, mengingatkan kembali saat-saat kecil dulu. Entah apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">DOR…TAR…TER…TOR…suara petasan bersahut-sahutan…anak-anak tertawa riang.  Setelah menyelempangkan kain sarung dibahunya, anak berpeci hitam itu mulai membakar kembang api dan.. WUUSHHH…kembang api itu menyala dan berputar-putar, api warna-warni bersinar terang dan aroma mesiupun tercium menyengat hidung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Begitulah suasana ramadhan setelah subuh, mengingatkan kembali saat-saat kecil dulu. Entah apa enaknya bermain petasan itu, tapi hati ini begitu gembira dengan suasananya, padahal bahaya bermain petasan selalu mengintai..ah…. mudah-mudahan semua baik-baik saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Berbicara tentang suara yang menggelegar, saya teringat kejadian beberapa bulan yang lalu ketika saya hendak mengeluarkan mobil dari garasi. Pagi itu suasananya biasa saja, tidak ada yang berbeda..seperti hari-hari sebelumnya, sebelum mobil dikeluarkan dari garasi mesin dipanaskan terlebih dahulu..tapi kali ini..moment itu menjadi “PETAKA”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Wah…kok nulis tentang PETAKA sih..? trus apa hubungannya antara mobil, suara?menggelegar, dan petaka? Bagi Anda yang penasaran tentang hubungan ketiga nya, Teruskan memBaca Tulisan ini, dan bagi Anda yang tidak penasaran dengan?hubungan ketiganya, tenang saja.. tetap Teruskan Baca Tulisan ini karena jika?Anda berhenti disini maka  Anda malah jadi penasaran “sebenarnya ini orang mau nulis apa sih..?” (paling tidak, kalimat itu yang akan terbersit dalam pikiran Anda) dan ketika Anda Teruskan memBaca Tulisan ini, Anda akan menemukan, hal Menarik yang mana dari tulisan ini yang membuat Anda penasaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-141"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Bayangkan: Dalam tulisan ini, Anda akan mempelajari cara – cara yang terbukti ampuh untuk mengubah makna suatu kejadian, dimana sebagian orang terpuruk dan meratapi nasib atas kekonyolan yang telah dilakukannya, dan menganggapnya sebagai PETAKA, disini hal itu bisa menjadi sebuah HIKMAH dan pelajaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Saya akan tuturkan kepada Anda dalam tulisan ini tentang pengalaman saya mengamalkan NLP untuk bangkit dan melepaskan diri dari emosi negatif dan rasa bersalah atas kekonyolan yang saya lakukan. Saat Anda  membaca tulisan ini, sebuah gambaran ketakjuban muncul dan suara hati Anda mengatakan bahwa Anda bisa melakukannya dan rasa yang mengagumkan dibangkitkan dalam diri Anda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Ok..sekarang kita mulai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Pagi Yang mengHEBOHkan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pagi itu, udara terasa dingin..seperti pagi-pagi sebelumnya, di teras rumah yang?disulap menjadi garasi karena garasi yang sebenarnya dijadikan tempat usaha Air Isi Ulang, terparkir sebuah mobil hitam. Mobil itu setiap pagi dikeluarkan?sebelum depot air itu buka dan dimasukkan lagi ketika depot itu tutup. Dengan?ukuran ruangan yang pas-pasan, mobil itu hanya berjarak beberapa sentimeter?saja dari rolling door dan lemari kaca pengisian air.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Setelah mengambil kunci mobil yang tergantung di dinding tempat penyimpanan kunci, saya berjalan dan membuka pintu kayu berwarna coklat yang merupakan pintu depan rumah, kemudian keluar dan melangkah menghampiri mobil yang membisu, diam tak bergerak. Entah mengapa, tak seperti biasa nya, setelah membuka pintu mobil itu?saya tidak masuk kedalam dan duduk dikursi supir untuk men-starter mobil.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Biasanya saya melakukan itu terlebih dahulu dan memastikan persnelling?dalam  posisi netral sebelum memutar?kunci mobil dan menyalakannya.??Pagi?itu, setelah membuka pintu, saya langsung memasukkan kunci ke lubang starter?dan dari luar mobil saya langsung memutar kunci untuk menyalakan mesin.. DAN?TERNYATA.. persenelling dalam posisi masuk gigi 2..dan tentunya Anda bisa?membayangkan APA YANG TERJADI..??BRUAAKKK… PPYAARRR….??Mobil?itu tiba-tiba melompat dan menghancurkan apa yang ada di depannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Rolling door?yang hanya berjarak beberapa sentimeter itu pun penyok dan kaca lemari?pengisian depot air itu pun pecah berhamburan. Dan mobil itu terus merangsek?kedalam membuat rolling door itu semakin terdorong masuk, lemari yang hanya?terbuat dari alumunium ringan dan kaca itu hancur lebur, sampai akhirnya mobil?itu berhenti dengan sendirinya. Serpihan kaca berhamburan kemana-mana.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sontak?saja kejadian yang hanya beberapa detik itu mengagetkan orang se isi rumah dan?tetangga sebelah rumah.??Bagaikan?orang yang terkena Shock induction saya terhipnosis seketika.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Body cataleptic !</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sekujur tubuh saya tiba-tiba kaku tak bergerak, terutama tangan kanan saya yang?saya gunakan untuk memutar kunci itu KAKU.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Beberapa saat saya tak bergerak?sampai orang-orang se isi rumah keluar dan bertanya “Ada apa?”.?? Masih dalam kondisi yang terdiam kaku, saya?tersadar ketika ibu saya memegang bahu saya dan mengatakan “ udah gak?apa-apa..”. Tiba-tiba saya sudah melihat banyak orang mulai membereskan ruangan?yang hancur lebur bagai bekas ledakan bom.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Mobil?pun dikeluarkan, entah oleh siapa..dan tersisa pecahan kaca dan rolling door?yang penyok..dan yang pasti air yang terus mengalir bagaikan banjir bandang?yang tiba-tiba menerjang, karena pipa-pipa dan tabung air depot itu patah dan?pecah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Saya?pun masuk kedalam rumah dan duduk di kursi masih dalam keadaan diam tak bisa berbicara sepatah katapun..shock.. pikiran dan perasaan berkecamuk tak menentu.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Selain karena terkejut yang luar biasa, perasaan bersalah mulai menghantui. Terbayang berapa biaya yang diperlukan untuk renovasi dan perbaikan, lalu otomatis depot akan tutup dan tentunya tidak ada penjualan dan?pemasukan.. ah… membuat saya waktu itu semakin pusing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>EFT &amp; Submodality NLP – Membebaskan Diri Dari Trauma Dan Emosi Rasa Bersalah Yang Menggangu.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Beberapa menit saya terdiam, dan sepertinya orang-orang disekitar memahami, mungkin karena saya masih shock. Tiba-tiba saya tersadarkan oleh ucapan Ayah saya “Udah..gak apa-apa, katanya orang NLP dan hypnotherapist, gitu aja kok trauma..”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Tersadarkan oleh ucapan itu saya teringat kembali suasana  ketika saya mengikuti kelas 7 Days Licensed Practitioner of NLP yang langsung di approved oleh Dr. Richard Bandler, waktu itu Pak Ronny, seorang Licensed Trainer of NLP terbaik di negeri ini menjelaskan tentang “NLP untuk siapa?”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Yak… saya tersentak dan energy dan kesadaran saya mulai muncul. Kata-kata “I GO FIRST” menyeruak dalam benak saya, gambaran tentang apa yang bisa saya lakukan untuk keluar dari perasaan tidak nyaman ini semakin jelas. Pemahaman tentang “NLP untuk siapa?” dan makna dari I GO FIRST ini bisa bermacam-macam, mungkin hampir sama dengan makna “Ibda’ Bi nafsika” atau mulailah dari dirimu sendiri. Paling tidak waktu itu saya disadarkan kembali  bahwa saya bisa menjadi NLPer yang kongruen dengan mengaplikasikan NLP dalam diri saya sendiri tidak hanya untuk orang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Lalu apa yang saya lakukan?</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pada mulanya saya pun tidak tahu. Saya kemudian masuk ke kamar dan duduk dengan nyaman sambil memejamkan mata dan menarik dan menghembuskan napas dengan perlahan… sambil berdoa “Ya Allah…dengan segala ilmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, Aku mohon petunjuk-Mu untuk dapat bebas dari perasaan,emosi negative yang tidak nyaman ini”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Saya yakin Allah akan memberi petunjuk sehingga  unconscious saya tahu apa yang harus dilakukan. Beberapa saat kemudian saya terpikir untuk melakukan EFT atau Emotional Freedom Technique. Saya tidak akan menjelaskan EFT lebih lanjut disini, karena akan panjang sekali. Jika Anda ingin mengetahui tentang EFT lebih lanjut, Banyak buku-buku dan para ahli EFT lain yang bisa menjelaskan lebih baik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Singkatnya, emosi negative yang saya rasa, yaitu perasaan bersalah hilang, sehingga tubuh saya pun menjadi lebih enakan, dan saya bisa lebih tenang kemudian mulai memberanikan diri keluar dan bermaksud untuk membantu membersihkan serta membereskan sisa-sisa yang berserakan bekas tabrakan itu</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sebelum membantu beres-beres, saya sudah mulai bisa menceritakan kronologis kejadian itu dengan lebih tenang, lalu saya berjalan ke depan hendak membantu?membersihkan. Namun, tiba-tiba kepala saya pusing sekali ketika mendengar suara bekas pecahan kaca yang disapu, suara gesekan-gesekan kaca menyakitkan telinga saya dan memicu perasaan tidak nyaman itu kembali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Ternyata, suara pecahan kaca secara tidak sengaja sudah menjadi tombol pemicu bagi pikiran dan perasaan saya untuk kembali ke keadaan yg tidak menyenangkan itu (dalam NLP disebut Anchor atau tepatnya Negative Anchor).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Karena perasaan tidak nyaman itu hadir lagi akhirnya saya menjauh dari lokasi itu dan kembali ke kamar lagi. Kemudian saya duduk dan mengambil posisi yang nyaman dan berdoa “ Ya Allah..apalagi yang bisa saya lakukan untuk keluar dari perasaan tidak nyaman ini?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Meng-edit Submodality  cara MUDAH mengubah Realita Internal .</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Manusia mengakses informasi masuk kedalam pikirannya dan menghadirkan kembali suatu peristiwa kedalam pikirannya sehingga menjadi sebuah perilaku, berdasarkan dari apa yang dilihat (VISUAL), apa yang didengar (AUDITORY), apa yang dirasa (Kinestetik), apa yang dicium (Olfactory) dan apa yang di kecap (Gustatory), biasa di singkat VAKOG. Dalam NLP sistem ini disebut sebagai Representational System atau biasa disingkat rep-system.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Nah, itulah cara kerja pikiran manusia, sistem saraf kita menggunakan informasi yang dikumpulkan oleh panca indera untuk menciptakan realita internal kita tentang dunia/segala sesuatu diluar kita (realita eksternal). Sehingga sebuah kejadian yang sama, bisa disikapi berbeda oleh masing-masing orang, tergantung apa yang ada di dalam pikiran atau realita internalnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Memahami hal itu, maka yang terjadi pada saya waktu itu, saat mendengar suara pecahan kaca seolah-olah saya mengalami lagi kejadian tabrakan itu dan seolah-olah dalam realita internal saya kejadian itu sedang terjadi. Padahal kenyataan?diluar diri saya (realita eksternal) kejadian itu telah berlalu. Berarti, untuk?mengubah keadaan saya yang tidak nyaman itu, maka saya harus mengubah REALITA INTERNAL saya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Caranya? </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sebelum saya menjelaskan dan menceritakan apa yang saya lakukan, akan lebih mudah ketika terlebih dahulu kita pahami bersama apa yang dimaksud submodality.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Tadi kita sudah mengenal lima rep-sytem yaitu Visual, Auditory, Kinestetik, Olfactory dan Gustatory, atau kelima panca indera itu biasa disebut juga Modalitas. Untuk memudahkan pemahaman, dalam NLP biasanya Olfactory dan Gustatory digabung dengan Kinestetik. (VAK saja). Nah, masing-masing dari?modalitas ini masih ada detail dan pembedaan yang lebih tajam. Hal ini disebut submodality.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Submodality adalah cara kita mengkodekan dan membentuk struktur dari pengalaman internal kita. Cara terbaik untuk memahami submodalitas berfungsi adalah dengan mengalaminya. Ketika kita mengingat dan memikirkan suatu peristiwa apa yang muncul?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Munculkan?memori visual dalam pikiran Anda. Dengan menggunakan mata kepala Anda sendiri,?Anda bisa melihat apa yang Anda lihat pada saat peristiwa itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Apakah gambarnya?hitam putih atau berwarna.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Diam atau bergerak?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Dua dimensi atau tiga dimensi?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Seperti foto atau seperti video?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Apakah sangat dekat atau sangat jauh?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Ada?bingkainya atau tanpa bingkai?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Disasosiasi atau asosiasi?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dan masih banyak?lagi yang bisa Anda munculkan yang berhubungan dengan visual Anda.??Memunculkan memory Auditory. Ketika mengkases peristiwa itu lagi, apa yang muncul?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Suaranya keras atau?lembut?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Mono atau stereo?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Nada nya tinggi atau rendah?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Dan masih banyak lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kinestetik.? Ketika mengkases peristiwa itu lagi, perasaan apa? yang muncul?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Bagaimana rasanya?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Bau/aromanya?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Teksturnya?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Tekanannya?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Suhunya?</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family: Symbol;"><span>·<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Dan lain-lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Bagaikan?bumbu serbaguna yang hampir digunakan dalam setiap masakan, submodality hampir?selalu ada dalam setiap teknik dalam NLP.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Nah..untuk?menghilangkan pusing dan perasaan yang tidak nyaman karena peristiwa itu,?berikut yang saya lakukan:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Saya duduk dengan posisi yang nyaman,?sambil memejamkan mata dan menarik dan menghembuskan napas perlahan, saya?mengingat lagi dan mengakses lagi peristiwa itu secara nyata dalam realita?internal saya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Muncul gambar rolling door yang penyok?karena ditabrak bemper mobil dan kaca yang berserakan. Gambarnya hitam putih?dan diam tidak bergerak, dan saya melihatnya dengan mata kepala sendiri?(asosiasi). Kemudian suara yang sangat nyaring sekali, terutama suara pecahan?kaca, Kemudian rasa sesak didada dan sekujur tubuh yang terasa kaku.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Perlahan saya mulai meng-edit gambar?dalam realita internal saya dengan memberikan warna pada gambar itu dan dibuat?menjadi bergerak, serta saya seperti menonton <span> </span>kejadian itu di TV (disasosiasi).?Terasa lebih nyaman setelah di ubah.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>4.<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Kemudian saya mengubah suara nya. Pada?awalnya saya mengecilkan volumenya, ternyata efeknya menjadi lebih tidak?nyaman, kemudian saya besarkan volumenya ternyata hasilnya sama saja. Akhirnya?seperti tombol mute (bisu) dalam remote TV, maka saya hilangkan suaranya dari?pikiran saya, Alhamdulillah, perasaan saya menjadi nyaman.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>5.<span style="font-family: "> </span></span></span><!--[endif]-->Rasa sesak didada dan tubuh yang kaku?perlahan-lahan saya buat rileks, merasakan dan memerintahkan setiap otot?meregang dan kemudian mengendur dan meniatkan setiap hembusan napas membuat?dada semakin lapang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">BUM..selesai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Proses ini tidak lebih?dari 10 menit, bahkan kurang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Saya sudah merasakan lebih nyaman. Untuk?memastikan apakah benar-benar sudah berhasil saya keluar dan ikut membersihkan?sisa kaca..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Alhamdulillah tidak berpengaruh negative. Untuk membuat lebih yakin?lagi, saya mengambil beberapa pecahan kaca dan saling membenturkannya hingga?pecah dan ternyata tidak berpengaruh lagi pada saya.??Alhamdulillah akhirnya saya terbebas?dari ketakutan dan perasaan bersalah itu, dan lebih tenang berpikir bagaimana?menemukan solusi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Submodality ini bisa berbeda untuk?setiap orang, sehingga Anda bisa menemukan cara sendiri yang cocok untuk Anda,?bisa saja warna hitam putih lebih nyaman untuk anda, atau suara lebih keras?lebih cocok dan lain sebagainya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Jika?Anda merasa tidak mudah melakukannya, bayangkan dan rasakan saja bahwa Anda?seperti memiliki tombol-tombol remote yang bisa digunakan untuk mengutak-atik?gambar, suara dan rasa dalam realita internal Anda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dan..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Alhamdulillah sekarang depot air?itu sudah diperbaiki dan kembali beroperasi seperti biasa, dan saya mendapatkan?pelajaran untuk lebih teliti dan berhati-hati, dan mungkin buat kita semua,?pastikan persenelling mobil Anda dalam keadaan netral ketika menstarter?mobil..he..he..he.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Alih-alih dianggap sebagai petaka, kejadian itu tak lebih dari sebuah kejadian, kitalah yang memberi itu makna sebagai petaka ataukah pembelajaran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Wah… suara anak-anak bermain petasan?sudah tak terdengar lagi, dan suara kendaraan berlalu lalang mulai terdengar?memadati jalanan, ternyata matahari sudah mulai tinggi. Malam dan subuh selama?ramadhan ini diwarnai oleh kebahagian anak-anak itu. Pastikan Anda mengawasi?atau bahkan melarang anak Anda bermain petasan. Jika Anda menganggap itu?berbahaya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Semoga di Ramadhan ini kita semua menjadi pribadi yang lebih baik?dari pada sebelumnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Salam Amazing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2010/08/18/eft-submodality-nlp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya lebih ngeh  belajar NLP, cara ampuh berkomunikasi dengan Klien</title>
		<link>http://republiknlp.com/2010/08/18/saya-lebih-ngeh-belajar-nlp-cara-ampuh-berkomunikasi-dengan-klien/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2010/08/18/saya-lebih-ngeh-belajar-nlp-cara-ampuh-berkomunikasi-dengan-klien/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 06:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek Si Owner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Mahdi Kusdiyanto, Licensed Practitioner of NLP (TM) Dalam perjalanan mencari apa itu hakikat NLP melalui buku, internet, seminar dan mengikuti pelatihan dari beberapa “pakar” NLP semakin tambah yang dipelajari semakin tidak ‘mudeng’. Akhirnya dari beberapa kawan menyarankan untuk belajar ke Sinergi Lintas Batas yang ditukangi oleh kang Ronny . Untuk meyakinkan dan membulatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p><strong>Oleh : Mahdi Kusdiyanto, Licensed Practitioner of NLP (TM) </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">Dalam perjalanan mencari apa itu hakikat NLP melalui buku, internet, seminar dan mengikuti pelatihan dari beberapa “pakar” NLP semakin tambah yang dipelajari semakin tidak<em> ‘mudeng’. </em><span> </span>Akhirnya dari beberapa kawan menyarankan untuk belajar ke Sinergi Lintas Batas yang ditukangi oleh kang Ronny .</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;">Untuk meyakinkan dan membulatkan tekad saya maka saya putuskan untuk mengikut <em>NLP for Trainer</em> terlebih dahulu, yang diselenggarakan oleh TCI di Marcopolo Hotel. Tujuannya sekedar <em>icip-icip </em>bagaimana kang Ronny menyampaikan pelatihannya. Selama pelatihan berlangsung kang Ronny dengan piawainya dari awal pelatihan sampai akhir selalu men <em>seeding </em>peserta, khususnya saya, dengan gaya dan kata-kata yang tanpa saya sadari pelan tapi pasti telah masuk ke <em>subconscious </em>saya, istilah NLP yang sulit dimengerti, apabila dijelaskan oleh ‘pakar’ lain menjadi bingung, oleh kang Ronny istilah NLP tersebut disederhanakan pengertiannya sehingga mudah dimengerti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Saya merasakan dengan gaya dan pendekatan kang Ronny, hati saya telah <em>klik </em>dengan methodologi yang dipakai. Sementara <em>soul </em>dan <em>body </em><span> </span>mengikuti pelatihan <em>NLP</em> <em>for trainer, </em>saya putuskan untuk mengikuti <em>NLP practitioner.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><em><span lang="SV"> </span></em><span id="more-140"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Satu minggu mengikuti pelatihan <em>NLP practitioner </em>memang sangat dahsyat, waktu berlalu dengan cepat. Pelatihan yang di jadwalkan selesai jam 17.00 setiap harinya,rata-rata diselesaikan jam 20.00 – 21.00, peserta tanpa <em>nggrundel </em>mengikuti dengan penuh antusias. Investasi yang dikeluarkan sebenarnya telah kembali sejak di hari ke tiga. <em>Cost and Benfitnya </em>luar biasa, <em>Benefitnya </em>luar biasa dibandingkan dengan <em>Costnya.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><em><span lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Sebagai konsultan manajemen, yang setiap harinya bergelut dengan persoalan <em>client, tool </em>dan <em>technique NLP</em> terbukti sangat dahsyat. Hal ini telah saya aplikasikan setelah berakhirnya pelatihan yang saya ikuti, tanggal 6 Agustus selesai tanggal 7 Agustus saya mencoba beberapa <em>tool </em>dan <em>technique </em>di pelatihan <em>Negotiation Skill Training </em><span> </span>yang saya selenggarakan di sebuah Bank Pemerintah. Ketika saya di depan kelas, saya hidupkan tombol <em>cyrcle of excellence </em>saya yang telah saya bentuk sejak pelatihan <em>NLP practitioner </em>berlangsung, saya memodel kang Ronny sebagai <em>raw model </em>trainer yang energik, hasilnya sangat dahsyat. Makanya selama mengikuti pelatihan <em>practitioner </em>saya tekan aktifitas mencatat saya, karena begitu mencatat <em>moment of truth </em>nya akan hilang, biarkan <em>seeding </em>yang dilakukan oleh kang Ronny masuk ke <em>subconcious. </em>Ternyata benar, ketika ngajar di depan kelas <em>toll </em>dan <em>technique NLP </em>secara otomatis akan keluar dengan sendirinya. Memang dahsyat <em>subconcious mind </em>bekerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Pada saat membahas taktik dan strategi negosiasi, banyak <em>tool </em>dan <em>technique NLP </em>dapat dipakai. Seperti bagaimana seorang negosiator harus menjalin hubungan <em>(rapport) </em>dengan menggunakan teknik <em>pacing &#8211; leading</em>. Ketika memasuki proses negosiasi peserta pelatihan, saya perkenalkan teknik komunikasi dengan menggunakan model <em>milton H. Ericson </em>yang sangat dahsyat yang memiliki efek hipnotik untuk mempengaruhi klien. Pendek kata <em>tool </em>dan <em>technique NLP </em><span> </span>memang JOSS. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Di kelas itu saya mendapatkan umpan balik dari observer, dia mengatakan : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Observer :”Pak Mahdi kok menyampaikannya berbeda dengan batch-batch sebelumnya ?, Batch ini lebih ok deh pak ” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Saya<span> </span>: ”oh ya ??? Alhamdulillah pak jika Batch ini lebih OK” &#8230;.. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Observer : ” Teknik/pendekatan baru ya pak Mahdi ?”, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Saya : ”saya mencoba beberapa teknik NLP ” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Observer : ” NLP ?, wah menarik itu pak, saya pingin belajar pak ”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Observer itupun kepingin belajar NLP, saya rekomendasikan ke Sinergi Lintas Batas saja, jangan yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Demikianlah secuil pengalaman saya, lain kali disambung lagi ya dengan pengalaman-pengalaman menarik lainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">NLP ternyata terbukti mempermudah, mudah-mudahan ini <em>the final journey</em> mencari guru NLP di tanah air</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span lang="SV">Salam hangat.<em> </em></span></p>
<p><!--EndFragment--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2010/08/18/saya-lebih-ngeh-belajar-nlp-cara-ampuh-berkomunikasi-dengan-klien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuang pengalaman buruk dengan Submodality</title>
		<link>http://republiknlp.com/2010/03/13/membuang-pengalaman-buruk-dengan-submodality/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2010/03/13/membuang-pengalaman-buruk-dengan-submodality/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 16:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Sugeng Harjono, Licensed Practitioner of NLP (TM) Pengalaman ini sebenarnya sudah terjadi pada sekitar bulan Desember tahun lalu. Waktu itu teman sekantor saya sebut saja namanya Bunga dan Amir disertai seorang driver pergi ke salah satu bank untuk mengambil uang. Sepulang dari Bank mereka tidak langsung kembali kantor tetapi mampir dulu ke rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Sugeng Harjono, Licensed Practitioner of NLP (TM)</strong></p>
<p>Pengalaman ini sebenarnya sudah terjadi pada sekitar bulan Desember tahun lalu. Waktu itu teman sekantor saya sebut saja namanya Bunga dan Amir disertai seorang driver pergi ke salah satu bank untuk mengambil uang.</p>
<p>Sepulang dari Bank mereka tidak langsung kembali kantor tetapi mampir dulu ke rumah makan padang untuk membeli dan di bawa ke kantor. Ketika tiba di depan rumah makan padang tsb, bunga masuk terlebih<br />
dahulu di ikuti oleh Amir di belakangnya dengan menenteng uang yang baru di ambil dari bank tadi. Entah dari mana tiba tiba masuklah sekelompok orang yang satu teriak-teriak di dalam rumah makan padang tsb, yang satu algi berusaha merebut uang yang di bawa oleh Amir.</p>
<p>Melihat kejadian tersebut, drivernya keluar dari mobil dan berusaha menolong Amir, tapi uang tsb berhasil direbut oleh perampok tersebut dan berhasil melumpuhkan Amir dan driver tsb. Bunga yang kebetulan di dalam rumah makan padang tersebut melihat kejadian itu dan ketika kembali di kantor dia sangat trauma sekali atas kejadian tersebut.</p>
<p><span id="more-139"></span></p>
<p>Bos yang melihat Bunga tampaknya sangat ketakutan sekali dan menangis terus , maka ia diijinkan pulang lebih cepat hari itu.</p>
<p>Keesokan hari Bunga masuk ke kantor seperti biasa, tapi dia seperti orang yang tertekan dan mudah gugup.<br />
Sejak pagi dia hanya duduk termenung di ruang makan kantor, seperti dia memang belum siap untuk bekerja hari itu.</p>
<p>Saya menghampiri Bunga dan bertanya bagaimana perasaanmu hari ini. feeling good atau sebaliknya. Saya sengaja menayakan hal itu kepadanya. apakah dia masih merasa trauma atau tidak. Karena kebanyakan dari teman kantor sejak kemarin  malah minta diceritakan kejadian yang kemarin. dan hal itu malah membuat dia semakin associate dengan kejadian itu.</p>
<p>Bunga menjawab, kalau perasaannya masih kurang enak, was was dan pokoknya tidak karu karuan. &#8220;Ok!&#8221; saya katakan : &#8220;Saya mau bantu kamu, apa kamu bersedia?&#8221;.</p>
<p>Bunga mengangguk tanda kalo dia setuju.</p>
<p>Lantas saya katakan : &#8220;Bunga, tolong kamu sekarang duduk yang rileks, silahkan saja&#8230;  boleh pejamkan mata atau tidak&#8230; Saya minta kamu untuk masuk kembali ke kejadian kemarin&#8221;.</p>
<p>Tampak dia bereaksi seperti orang ketakutan (associated).</p>
<p>&#8220;Ok, apakah kamu melihat gambar kejadian tsb?&#8221; tanya saya, Bunga mengangguk.</p>
<p>&#8220;Apakah gambarnya bergerak atau diam&#8221;? Lanjut saya. Bunga menjawab: &#8220;Bergerak&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kejadian tersebut juga ada suara suara? Sekali lagitanya saya. Bunga juga sekali lagi mengangguk.</p>
<p>Berdasarkaninformasi yang saya oeroleh itu, lantas saya meminta melakukan beberapa hal : &#8220;Ok tolong kamu buat gambar itu menjadi diam dan buat suranya tidak terdengar lagi, kalo kamu belum tahu caranya, buat seolah olah di dekatmu ada tombol tombol.&#8221;</p>
<p>Setelah beberapa saat saya berikan waktu, kemudian saya tanya lagi :&#8221;Bagaimana sekarang perasaanmu&#8230;?&#8221; Dia diam saja tidak komentar&#8230;.,  tapi dari gesture tubuhnya Bunga nampak lebih tenang.</p>
<p>Saya memutuskan untuk melanjutkan lebih jauh lagi : &#8220;Apakah gambarnya berwarna atau hitam putih?&#8221; Dia menjawab : &#8220;Berwarna&#8221;.</p>
<p>Saya minta ia untuk membuat gambar itu menjadi hitam putih.</p>
<p>Kemudian saat saya tanya : &#8220;Bagaiman dengan ukuran dan letak gambar itu sekarang?&#8221; Dengan cepat ia menjawab : &#8221; Diam, hitam putih dan berada tepat di depan saya dan besar&#8221;.</p>
<p>Lantas saya minta lagi dengan halus : &#8220;Ook sekarang buat gambar itu mengecil dan di jauhkan. Buat semakin jauh dan semakin kecil.&#8221;</p>
<p>Setelah beberapa saat, saya tanyakan lagi : &#8220;Ok sekarang bagaimana persaanmu?&#8221;</p>
<p>Dia sedikit menangis karena mungkin dia tadi <em>associated</em>, tapi kemudian ia berkata bahwa : &#8220;Sekarang perasaan saya jadi lebih lega dan plong&#8230;&#8221;</p>
<p>Well, kemudian saya minta padanya : &#8220;Kapan pun kalao kamu merasa teringat kejadian tersebut, kamu bisa melakukan sendiri sperti cara yang tadi&#8221;.</p>
<p>Nah, keesokan harinya dia mengambil cuti sampai akhir pekan. dan minggu berikutnya ketika saya bertemu sama bunga lagi dia sdh ceria lagi.</p>
<p>Demikian kawan-kawan pengalaman saya menggunakan NLP untukmembantu teman sekantor. Semoga menginspirasi kawan-kawan untuk juga terus berpraktek dan berbagi kisah di sini.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2010/03/13/membuang-pengalaman-buruk-dengan-submodality/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

