<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Republik NLP (tm) &#187; Tips</title>
	<atom:link href="http://republiknlp.com/category/tips/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://republiknlp.com</link>
	<description>Kisah Inspiratif Para Alumni NLP Practitioner</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Mar 2011 07:28:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Sukses dengan &#8220;mencuri&#8221;.</title>
		<link>http://republiknlp.com/2009/02/03/sukses-dengan-mencuri/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2009/02/03/sukses-dengan-mencuri/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 23:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eko J. Saputra, Licensed Practitioner of NLP ™ Mendengar kata mencuri, konotasi orang pasti negatif. Sebab mencuri adalah mengambil hak orang lain. Bagaimana dengan mencuri ilmu dan sukses orang lain? Apakah dua perbuatan ini melanggar hukum? Sejauh ini saya belum pernah mendengar orang dipenjara karena mencuri ilmu dan sukses orang lain. Yang ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Eko J. Saputra, Licensed Practitioner of NLP ™</strong><br />
Mendengar kata mencuri, konotasi orang pasti negatif. Sebab mencuri adalah mengambil hak orang lain. Bagaimana dengan mencuri ilmu dan sukses orang lain? Apakah dua perbuatan ini melanggar hukum?<br />
Sejauh ini saya belum pernah mendengar orang dipenjara karena mencuri ilmu dan sukses orang lain. Yang ada mencuri sendal, motor, uang, perhiasan dan lain-lain.</p>
<p>Untuk kasus pencurian tersebut, tidak akan dibahas dalam tulisan ini. Tapi kita akan melihat bagaimana proses mencuri ilmu dan sukses orang lain untuk mencapai sukses dan kebahagiaan kita. Ini sebuah ceritanyata. Suatu sore, saya kedatangan tamu. Dia masih terbilang adik angkat. Dengan semangatnya dia mengatakan kalau ingin berhenti bekerja.</p>
<p><span id="more-121"></span>Mendengar perkataanya itu, saya sempat terkejut. Maklum, karena dia baru satu bulan bekerja di sebuah klinik pengobatan tersebut. Alasannya, dia ingin membuka klinik sendiri. Saya tambah bingung dan terheran-heran, begitu nekatnya adik saya ini. Padahal, saya tahu dia tidak punya uang dan modal yang cukup untuk membuka klinik pengobatan.</p>
<p>Tanya punya tanya, rupanya dia sudah menguasai beberapa pengobatan alternatif. Di antaranya akupunktur, SEFT, hipnoterapi, pijat refleksi, dan meramu minuman herbal. Hebatnya, dia hanya butuh waktu kurang dari satu bulan untuk mempelajari ilmu-ilmu itu. Kebetulan selama sebulan si adik ini &#8220;mencuri&#8221; ilmu sang dokter si pemilik klinik pengobatan tersebut.</p>
<p>&#8220;Memang saya tidak pernah belajar langsung pada dokter. Tapi saya selalu memperhatikan ketika dia sedang menangani pasien. Ternyata mengobati orang lain itu mudah. Saya sudah praktikkan ilmu-ilmunya<br />
pada orang lain. Ternyata hasilnya cespleng. Mengapa saya tidak buka sendiri?&#8221; tegasnya dengan nada penuh semangat.</p>
<p>Singkat cerita, keesokan harinya adik ini membuka pengobatan sendiri di rumahnya. Modalnya cuma papan nama bertuliskan Pusat Pengobatan Alternatif. Terus di papan nama itu ditulis juga berbagai penyakit<br />
yang bisa diatasi.Marketingnya pun cukup sederhana. Dia hanya membuat brosur sebanyak satu rim. Brosur itu dibagikan kepada tetangga, di pasar, dan mal-mal.</p>
<p>Dalam brosur itu ditulis pengobatan gratis selama tiga hari untuk berbagai penyakit. Hasilnya? Luar biasa! Setelah mengalakukan pengobatan gratis selama tiga hari,  sedikitnya sepuluh pasien dari berbagai keluhan datang menemuinya. Dalam satu hari dia bisa mengantongi uang minimal Rp100 ribu.</p>
<p>Artinya, dalam satu bulan dia rata-rata mendapat Rp3 juta. Untuk seorang pria lanjang seperti dia, uang sejumlah itu sudah cukup besar. Penghasilan seperti ini belum pernah dia dapat selama meniti karir.</p>
<p>&#8220;Kalau saya tetap bekerja di klinik itu, penghasilan saya tidak lebih dari Rp 1 juta. Dengan seperti ini, penghasilan saya dua kali lipat lebih besar,&#8221; kata dia. Saya teringat filosofi tokoh Motivator No.1 Indonesia, Andri Wongso bahwa sukses adalah milik semua orang. Termasuk adik angkat saya itu. Meski hanya tamatan SMA dia mampu merintis usaha menjadi seorang miliader muda dengan pengobatan alternatifnya. Itu pun dia tidak belajar langsung, hanya melalui sebuah proses &#8220;mencuri&#8221; ilmu dari orang lain. Bicara masalah &#8220;mencuri&#8221;, saya juga teringat salah satu pengalaman Eni Kusuma, TKW yang sukses membuat buku best-seller berjudul Anda Luar Biasa!!!.</p>
<p>Menurut pengakuannya di buku itu, dia juga kerap &#8220;mencuri&#8221; waktu untuk bisa menyelesaikan bukunya itu. Caranya, dia menyempatkan diri browsing di internet untuk mencari bahan tulisan saat mengantar anak<br />
majikannya kursus bahasa Inggris. Setelah sekian kali &#8220;mencuri&#8221; Eni akhirnya berhasil menyelesaikan<br />
bukunya. Dia juga mampu menggugah dunia dengan keteguhan dan semangatnya menyelesaikan buku Anda Luar Biasa!!! tersebut. Eni sendiri mengaku suksesnya itu didapat lewat sebuah proses pembelajaran cukup panjang. Mulai dari hanya berkhayal sampai dengan &#8220;mencuri&#8221; ide-ide dari para penulis sukses.<br />
Sekarang pertanyaannya, bagaimana agar kita sukses &#8220;mencuri&#8221; dan meraih sukses lainnya? Coba simak ucapan seorang Mind Navigator dan Re-Educator, yang juga salah satu mentor saya, Adi W. Gunawan di<br />
website-nya.</p>
<p>Kunci sukses itu ada lima. Pertama doa. Doa merupakan senjata paling hebat dimiliki manusia untuk mewujudkan impiannya.</p>
<p>Sayangnya, orang kerap melupakan dirinya kalau punya senjata ampuh tersebut. Kalaupun sadar punya senjata ampuh, dia tidak mampu menggunakannya dengan baik. Maksudnya, kadang kita sudah berdoa namun justru tak menyakini apa yang kita harapkan dari Sang Khalik. Lha kok bisa?</p>
<p>Masalahnya, saat menjalankan aktivitas manusia dikendalikan pikiran sadar dan bawah sadar. Saat terjadi konflik antara pikiran sadar dan bawah sadar maka yang menang pasti bawah sadar. Karena kata &#8220;kebanyakan orang&#8221; (siapa orangnya?),  bawah sadar unggul atau punya pengaruh 9 kali lebih kuat dibandingkan pikiran sadar. Malah ada yang bilang 1000 kali.  Katanya lagi&#8230;(kata siapa?) he he he&#8230; Doa yang cespleng itu kalau apa yang kita ucapakan (self talk) masuk ke bawah sadar. Karena doa adalah komunikasi langsung anatara manusia—maksdunya pikiran bawah sadar manusia—dengan Tuhan.</p>
<p>Kedua, kita harus memahami impian kita (<em>dream building</em>). Kita semua menyadari pentingnya memiliki impian. Kalau, kata Mas Ronny, setiap penciptaan dilakukan dua kali. Pertama lewat pikiran (<em>blue print</em>),<br />
selanjutnya diwujudkan lewat perbuatan. Ketiga,  yakin. Maksudnya, kita harus yakin kalau impian kita itu<br />
bisa terwujud. Keempat, kita harus banyak bersyukur atas nikmat melimpah yang telah diberikan Tuhan kepada kita. &#8211;Kalau engkau bersyukur pasti Ku-tambah nikmatmu. Tapi apabila engkau kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pendih. Q.S Ibrahim 7&#8211;</p>
<p>Kelima, pasrah. Maksudnya, kunci sukses adalah keinginan atau cita-cita tak boleh melengkat. Karena kata R. Hawkins, keinginan itu level energinya rendah. Pasrah konotasinya adalah kita tetap bekerja namun<br />
hasil akhir sudah diserahkan kepada sang pencipta. Ternyata lewat &#8220;mencuri&#8221; kita bisa mengembangkan dan melakukan transformasi diri. Saya pun akhirnya berprinsip, akan selalu &#8220;mencuri&#8221; demi mewujudkan impian hidup.</p>
<p>Bahkan, untuk menyelesaikan tulisan ini, saya terpaksa &#8220;mencuri&#8221; tulisan Mas Adi tanpa sepengetahuan orangnya. Tapi saya yakin Mas Adi tak akan marah. Yang jelas, saya tidak melanggar hukum. Karena saya<br />
sudah menulis sumbernya. Betul, Mas Adi?</p>
<p>Saya juga teringat dengan ungkapan seorang teman pemasaran di kantor yang baru mengikuti pelatihan pemasaran di surat kabar harian Fajar.Dia mengatakan (dia siapa?) untuk menjadi sukses kita harus pandai-<br />
pandai &#8220;mencuri&#8221;. Bagaimana caranya? Sangat mudah. ATM (Ambil Tiru Modifikasi) sesuatu yang baik milik orang lain.</p>
<p>Kalimat senada hal ini juga saya dapat saat mengikuti Pelatihan Practitioner NLP bersama Mr. Ronny F. &#8216;Genius&#8217;  Ronodirdjo. Istilah Mas Ronny, kita bisa &#8216;<em>memodel</em>&#8216; keunggulan orang lain, melalui proses meng-akses, meng-<em>amplify</em>, dan meng-<em>anchor</em>, untuk kemudian di aplikasikan secara <em>appropiate</em> ke konteks lain dari kehidupan kita..</p>
<p>Ya, banyak orang sukses karena menjalankan prinsip ATM.</p>
<p>So.. . jangan sampai ATM dikonotasikan Ambil Terus Males. Salam semangat !!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2009/02/03/sukses-dengan-mencuri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dream and Action</title>
		<link>http://republiknlp.com/2009/02/03/dream-and-action/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2009/02/03/dream-and-action/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 09:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Eko J. Saputra, Licensed Practitioner of NLP ™ Tanamlah impianmu setinggi langit. Pesan bijak ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Terlepas siapa kali pertama mencetuskan ide tersebut, namun petuah klasik ini memang layak diikuti. Kalau dalam NLP petuah ini biasa disebut dengan Wellformed Outcome (WFO). Tapi dalam mempraktekan WFO ada beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Eko J. Saputra, Licensed Practitioner of NLP ™</strong></p>
<p>Tanamlah impianmu setinggi langit. Pesan bijak ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Terlepas siapa kali pertama mencetuskan ide tersebut, namun petuah klasik ini memang layak diikuti. Kalau dalam NLP petuah ini biasa disebut dengan Wellformed Outcome (WFO).</p>
<p>Tapi dalam mempraktekan WFO ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Yang terang emosi kita harus benar-benar feel good alias mood bagus. Dalam NLP banyak cara efektif membuat feeling kita<br />
mood dengan sangat cepat dan mudah.  Seperti dengan teknis Swish Pattern, Fash Phobia Cure, Time Line, 3 Kursi Ajaib (Perceptual Positions) dan sebagainya.</p>
<p>Saya sendiri ketika mempraktekan teknik-teknik ini setelah pulang dari mengikuti pelatihan Practtitioner NLP di Hotel Santika 24-31 Januari 2009  langsung mendapatkan &#8220;kebetulan-kebutulan&#8221; luar biasa. <span id="more-120"></span></p>
<p>Outcome yang selama ini sudah saya putuskan langsung jadi kenyataan. Saya menyadari ini bukan sebuah kebetulan melainkan sebuah pilihan. Masalahnya, kita kadang sulit mendapatkan apa yang kita inginkan<br />
karena keiinginan itu&#8211;tepatnya kemamuan&#8211;itu tidak selaras dengan pikiran tepatnya perasaan kita. Benar kata Mas Ronny, NLP itu mudah dan membuat mudah. Nggak Percaya?</p>
<p>Untuk membuktikannya, Anda baiknya ikuti pelatihan Practitioner NLP bersama Mas Ronny. Bukan yang lain!!</p>
<p>Yang jelas saya sudah nyaman naik pesawat kemanapun saya inginkan. Siapa yang mau ngajak nehh naik pesawat? He he he…  Subhanallah&#8230;</p>
<p>Terimakasih Ricard Bandler, Mas Ronny.</p>
<p>Cuma naik pesawat?</p>
<p>Nggak tuch…</p>
<p>Setiba di rumah dan kampung halaman saya langsung mendapatkan &#8220;order&#8221; seminar di beberapa tempat. Malah beberapa hari sebelum acara practtitioner NLP berakhir, tawaran seminar sudah menghampiri. Padahal, saya sudah melupakan tawaran itu karena ribetnya birokrasi kerjasama tersebut.</p>
<p>Anehnya lagi, ketika saya membutuhkan dana untuk mengikuti pelatihan bulan Maret dengan dana Rp30 juta. Ternyata ada jalan untuk mendapatkannya. Wuiih…Subhanallah.</p>
<p>Untuk yang satu ini saya nggak perlu membocorkan sumbernya. Yang jelas 100 persen halal. Kalau masih penasaran, tunggu dan hadang jadwal Pelatihan Practtioner NLP bersama Mas Ronny. He he he&#8230;promosi lagi. Bukan promosi, tapi memberitahu saja.</p>
<p>Yang jelas, kata Mas Ronny, &#8220;Ada pepatah dari China, uang jangan dikejar karena dia kakinya banyak dan larinya cepet bukan main&#8230; Uang jangan ditunggu, karena nggak akan datang sendiri. Uang harus dicegat dimana ia lewat, ketahui jalannya uang ada di mana, cegat di tempat yang tepat.&#8221; Nah, yang penting lagi, kita harus punya <em>belief</em> positif tentang uang.Tekniknya? Kita sudah belajar <em>submodality remapping</em>&#8230;</p>
<p>Nah, sesuai judul artikel. Saya hanya ingin mengingatkan kita semua, bahwa impian tepatnya outcome itu penting kita miliki. Selanjutnya kita harus beraksi alias berbuat. Salah satu perbuatannya adalah mencari tools atau alat. Ingat alat akan mempermudah kita mendapatkan apa yang menjadi impian kita. Ehmmm&#8230;. alat yang paling tepat tentu NLP.</p>
<p>Bukan yang lain!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2009/02/03/dream-and-action/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Become Powerful Parents by Using NLP (1)</title>
		<link>http://republiknlp.com/2009/01/20/become-powerful-parents-by-using-nlp-1/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2009/01/20/become-powerful-parents-by-using-nlp-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 04:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hasbi, Licensed Practitioner of NLP ™ Menjadi orang tua adalah keputusan yang oleh sebagian orang merupakan konsekuensi dari menjadi pasangan suami istri. Tidak jarang kita temui, ketika seseorang menjadi orang tua mereka menjelmakan diri mereka sebagaimana orang tua mereka sendiri, sehingga terjadi pengulangan pola pendidikan dan cara membesarkan anak.  Fenomena lain yang sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Hasbi, Licensed Practitioner of NLP ™</strong></p>
<p>Menjadi orang tua adalah keputusan yang oleh sebagian orang merupakan konsekuensi dari menjadi pasangan suami istri. Tidak jarang kita temui, ketika seseorang menjadi orang tua mereka menjelmakan diri mereka sebagaimana orang tua mereka sendiri, sehingga terjadi pengulangan pola pendidikan dan cara membesarkan anak.  Fenomena lain yang sering juga kita temui adalah para orang tua baru melakukan kebalikan dari pengalaman mereka, jadi jika bila diwaktu kecil mereka terlalu ditekan oleh orang tua mereka, maka sekarang mereka memanjakan anak-anaknya dan cenderung membiarkan anak-anak mereka berlaku sebebas-bebasnya. Jika mereka dulu tidak mampu untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan (bisa jadi karena terlalu dilarang, atau memang karena tidak mampu), maka sekarang mereka cenderung memberikan apapun yang diingini oleh anak-anak mereka. Dalam banyak kondisi orang tua sering kalah &#8216;power&#8217; ketika berhadapan dengan anak-anak mereka.</p>
<p>Beragam keluhan orang tua sering kita dengar, ada yang anaknya susah diatur, ada yang tidak mau makan, ada yang keinginannya mesti diikuti, ada yang terus membuat &#8216;kekacauan&#8217; di dalam rumah, dan kalau kita list maka kita dapat daftar panjang keluhan orang tua yang begitu &#8216;powerless&#8217; menghadapi buah hati mereka.</p>
<p><span id="more-116"></span>Untuk menutupi ketidakberdayaan mereka, banyak orang tua yang melampiaskannya dengan menunjukkan kekuatan yang bersifat fisik. Maka disini kita akan mendapati daftar panjang peristiwa kekerasan orang tua terhadap anak baik yang kita temui di media cetak dan elektronik, maupun yang sehari-hari kita lihat di lingkungan sekitar kita, atau mungkin yang kita sendiri pernah (kalo tidak sering) lakukan terhadap anak-anak kita sendiri. Yah kita begitu dengan menggunakan kekuatan fisik kita, kita bisa menunjukkan siapa yang berkuasa, kita merasa begitu berdayanya dan begitu powerfulnya. Yaaah&#8230;tapi apa yang terjadi beberapa saat setelah itu&#8230;penyesalan, kesedihan, dan perasaan-perasaan lain yang sering mengembalikan kita kembali ke kondisi tidak berdaya dihadapan anak-anak kita.</p>
<p><strong>Jadi apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang harus kita lakukan?<br />
</strong>Sebagaimana hubungan interpersonal lainnya, hubungan orang tua &#8211; anak adalah hubungan dua orang atau dua kelompok manusia yang masing-masing memiliki ego dan kepentingan sendiri-sendiri. Kemampuan kita dalam membangun hubungan yang baik akan sangat menentukan kualitas hubungan orang tua dengan anak-anaknya.</p>
<p>Neuro Linguistic Programming sebagai suatu methode dalam membangun hubungan antar manusia menyediakan beberapa (kalo tidak banyak) alat yang bisa kita gunakan dalam mendidik anak-anak kita.<br />
The Effective Meta Model</p>
<p>Penguasaan meta model akan membantu kita mengidentifikasi pengalaman-pengalaman dalam &#8216;map&#8217; anak-anak kita. Karena keterbatasan pengalaman maka anak sering melakukan generalisasi terhadap sepenggal pengalaman yang mereka alami. Ketika orang tua juga larut dan mengikuti generalisasi anak-anak mereka, maka orang tua tersebut akan mengalah dan mulai menyalahkan orang lain maupun lingkungan.</p>
<p>Pernyataan seperti, &#8220;Semua kawan-kawanku di sekolah nakal, aku &#8216;gak mau sekolah lagi&#8221;, jika tanpa di meta model akan membuat sebagian orang geram dan menyalahkan pihak sekolah yang gagal mendidik murid-muridnya menjadi siswa yang baik. Selanjutnya mereka memindahkan anaknya ke sekolah lain. Tentu saja hal ini akan sangat merepotkan orang tua.</p>
<p>Bagaimana dengan kondisi yang sama kita me-meta model map anak tadi? Hasilnya akan jauh lebih efektif, orang tua tidak perlu menyalahkan orang lain, orang tua tidak perlu repot-repot mencari sekolah baru untuk anak mereka.</p>
<p><strong>The Powerful Reframing<br />
</strong></p>
<p>Keterbatasan pengalaman anak sering juga membuat mereka mematok sepenggal pengalaman sebagai suatu yang rigid. Mereka menciptakan satu frame yang sangat subjektif. Dibanyak kondisi orang tua perlu mengubah frame yang dimiliki si anak sehingga mereka bisa melihat warna yang lebih indah dari suatu gambar, bisa mendengar nada yang lebih merdu dari suatu lagi.</p>
<p><strong>The Future is Now with WFO<br />
</strong></p>
<p>Well formed outcome adalah suatu alat yang sangat powerful yang dapat digunakan oleh orang tua dalam membentuk anak-anak mereka. Walaupun sebagaimana kata kahlil gibran anak-anak kita adalah panah-panah yang melesat ke masa depan, kita bisa membuat anak-anak panah ini menjadi anak-anak panah yang kuat, tahu ke arah mana mereka akan di tembakkan, dan bisa mencapai titik target yang akan di tuju.</p>
<p>Demikianlah beberapa tools dalam NLP yang bisa kita gunakan untuk menjadikan kita sebagai orang tua yang powerful, semoga semakin banyak orang tua yang menyadari bahwasanya membesarkan dan mendidik anak bukanlah suatu pekerjaan paroh waktu, sambilan, untuk kemudian menyadari bahwasanya kita memiliki sumber daya yang lengkap untuk menjadikan pendidikan anak begitu mudah dan menyenangkan.</p>
<p>Selamat melatih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2009/01/20/become-powerful-parents-by-using-nlp-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar NLP™ adalah ketika mempraktekkan</title>
		<link>http://republiknlp.com/2008/11/11/belajar-nlp%e2%84%a2-adalah-ketika-mempraktikan-dan-menjadi-bijaksana/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2008/11/11/belajar-nlp%e2%84%a2-adalah-ketika-mempraktikan-dan-menjadi-bijaksana/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2008 08:20:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciptarasakarsa.com/artikelnlp/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hendri Harjanto, Licensed Practitioner of NLP ™ (Catatan setelah mengikuti Training NLP™ Practitioner bersama Ronny F.R) Berbahagia sekali rasanya di berikan kesempatan untuk bisa memahami manual otak manusia melalui pelatihan NLP™ Practitioner bersama Pak Ronny.  Saya merasakan ada banyak hal yang sebenarnya telah tersedia, tapi selama ini belum saya optimalkan.  NLP™ ternyata semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Hendri Harjanto, Licensed Practitioner of NLP ™</strong></p>
<p>(Catatan setelah mengikuti Training NLP™ Practitioner bersama Ronny F.R)</p>
<p>Berbahagia sekali rasanya di berikan kesempatan untuk bisa memahami manual otak manusia melalui pelatihan NLP™ Practitioner bersama Pak Ronny.  Saya merasakan ada banyak hal yang sebenarnya telah tersedia, tapi selama ini belum saya optimalkan.  NLP™ ternyata semakin menyenangkan dan menantang untuk di gunakan dalam berbagai aspek kehidupan.</p>
<p>Richard Bandler pernah mengatakan bahwa NLP™ bukanlah alat untuk mendiagnosa sesuatu. NLP™ praktik dan karena itu hanya dapat diajarkan dengan mengalaminya.  Tidak cukup hanya dengan membaca.  Jadi NLP™ itu intinya di praktik.  Karena NLP™ di model dari orang-orang yang punya keunggulan dalam perilakunya.<br />
<span id="more-46"></span><br />
Sebagai Practitioner kita diharapkan banyak praktik, namanya juga Practitioner, bukan Teoritioner.hehe&#8230;Beberapa orang yang mempunyai stigma negative terhadap NLP™ mungkin karena mereka hanya membaca buku atau artikel saja. Membaca akan memberikan internal map tentang hal yang kita baca.  Namun belum memberikan pengertian yang sebenarnya tentang sesuatu, sebelum kita melakukan dan mendapatkan hasilnya.  Sama seperti renang, apakah ketika seseorang bisa menjawab semua pertanyaan tentang renang dia pasti bisa berenang? Belum pasti.  Apakah orang yang fasih mengucapkan istilah-istilah NLP™ pasti sudah mempraktikan NLP™ dalam kesehariannya?belum tentu juga.</p>
<p>Sebagai pembelajar awal kadang ada godaan untuk begitu tertarik dengan berbagai macam istilah.  Salah satu yang paling sering saya temui adalah “monster” meta model.  Menggunakan meta model secara berlebihan tanpa didahui pacing.  Ada seorang yang belajar meta model dari buku, malah membuat orang takut dan resisten bukan hanya dengan dia tapi juga dengan NLP™.  Repot kan….apa salah NLP™? Kok di takuti.hehe…“NLP™ itu mudah dan memepermudah” begitulah kata-kata bijak dari trainer saya Pak Ronny F.R, jangan sampai kita membuat orang jadi takut dan memandang ruwet NLP™.</p>
<p>Menurut Bandler juga NLP™ diajarkan melalui installation  bukan dengan mengajarkan teknik-teknik . Teknik akan cepat usang, kita diharapkan bisa menciptakan sendiri teknik-teknik baru yang semakin banyak.   “Trust your Unconsious” Itulah yang berulang kali di ingatakan Pak Ronny di dalam pelatihan.  Karena dengan mempercayai Unconsious kita, kita akan semkin mudah untuk belajar.  “Emanag benar pa, ada unconscious installation?” begitu pikir saya sebelumnya, eh ternyata efeknya kerasa ketika ujian dan setelah pelatihan bahkan samapi sekarang, semakin lama malah semakin besar.  Ketika saya tanyakan ternyata benar itu efek dari unconscious installation.  Saya yakin itu bukan hanya karena teknik atau cara tertentu yang digunakan trainer saya tetapi juga karena keikhlasan hati untuk berbagi ilmu beliau.</p>
<p>Mengenai teknik Pak Ronny sering kali mengingatkan dengan perumpamaan/metaphor belajar masak.  Diumpamakan juga kita mau belajar masak, maka kita harus mulai meracik bumbu-bumbu dasar terlebih dahulu…beberapa hari diawal, saya bertanya “kok materinya mirip-mirip dengan yang saya pernah baca ya?” Ternyata apa yang diceritakan dihari-hari pertama adalah sebuah dasar yang sangat amat penting bagi pemahaman kita belajar NLP™.</p>
<p>“Jangan terburu-buru belajar teknik, teknik itu nanti gampang kalau anda sudah mengerti dasarnya dulu, saat ini kita baru meracik bumbu-bumbunya nah pattern adalah bagaimana kita mengkombinasikan sesuatu sehingga kita bisa masak apa aja, tergantung bagaimana cara kita mengkombinasikan bumbu-bumbu dasar itu” begitu kira kata-kata trainer saya yang lucu itu.</p>
<p>Saat itu saya tidak teralalu mengerti apa maksudnya….tapi benar saja hari-hari kemudian saya semakin mengerti dan merasakan semakin mudah memahami teknik-teknik di NLP™.  Bahkan kita juga diajak untuk menemukan pola-pola yang “tersembunyi” di balik teknik-teknik hypnosis dll.</p>
<p>Sahabat Pembelajar NLP™ semuanya, knowledge is power, sudah tidak berlaku lagi sekarang.  Sekarang jamannya “Applied Knowledge is Power” .   So Bagi kita pembelajar NLP™, mari memeperbanyak membaca buku, artikel dan lainnya untuk kemudian di praktekkan lebih banyak lagi.  NLP™ itu tidak stagnan, Evolusi belum berakhir, siapa tau kita bisa buat evolusi NLP™ lain semacam DHE™ , Versi Nusantara. Amien….</p>
<p>Bagi pembelajar NLP siapapun di tuntut untuk lebih bijaksana dalam segala aspek kehidupan, karena di NLP kita dia ajarin untuk memahami bahwa “peta bukanlah wilayah” dan kita harus “menghormati cara orang lain membentuk petanya sendiri.  Bukanya kita malah mengatkan “Berusaha mengerti aku dikit bisa gak sich?” pada orang lain, pesan bijak lagi dari trainer saya adalah “Yang sudah belajar NLP yang harus lebih dahulu mengerti”.</p>
<p>Dan akhirnya sebelum saya mengakhiri dan kita semua menerapkananya saya ingin mengutip kata-kata Jane Gooddall “Untuk mencapai hal-hal yang luar biasa, kita bukan hanya perlu bertindak, tetapi juga bermimpi, bukan hanya merencanakan, tetapi juga yakin terhadap apa yang kita kerjakan”.</p>
<p><strong>Ajakan untuk diri sendiri dan bagi pembelajar NLP™ manapun yang ingin terus belajar:</strong></p>
<p><strong>Setiap hari adalah praktik dan belajar</strong><br />
NLP™ sekali lagi bukan hanya soal terapi tapi amat applicable diberbagai bidang.  Komunikasi misalnya, setaip hari kita akan selalu melakuakn komunikasi bukan? Mari  kita praktikan sembari belajar untuk membuat hari-hari kita jadi lebih berkualitas dan lebih bermanfaat dari waktu ke waktu.</p>
<p><strong>Lakukan pada diri sendiri dahulu:</strong><br />
Lakukan pada diri sendiri dulu. Misal ubahlah diri sendiri dulu, orang lain akan berubah.  Faktor penting bagi pembelajar NLP™ adalah bagaimana kita memberdayakan diri kita terlebih dahulu.  Bagaimana kita akan membantu orang lain, sedangkan kita sendiri aja belum berubah menjadi lebih baik.  You go first man…</p>
<p><strong>Jadilah kreatif dan inovatif:</strong><br />
Creator NLP™ adalah orang yang kreatif dan inovatif.  Mereka berani keluar dari kotak disiplin ilmu tertentu. Dengan tegas Bandler mengatakan bahwa NLP™ bukan Psikologi, bahkan kerap kali mendapatkan kecaman karena dianggap tidak ilmiah.  “Mana urus, yang penting hasilnya efektif” begitu kira-kira Bandler berkata dalam bahasa saya.hehe…</p>
<p><strong>Jangan sibuk dengan istilah</strong><br />
Berbicarlah dengan bahasa yang dimengerti sesuai tingkat pemahaman lawan bicara kita.  Menurut Pak Ronny, di pelatihan di gunakan istilah asli untuk memudahkan untuk mengambil level selanjutnya, ataupun untuk membaca buku kita sudah familiar dengan istilah itu.  Tapi boleh juga kita gunakan istilah yang unik untuk membuat orang penasaran dan tertarik dengan NLP.</p>
<p><strong>Keep Wise…</strong><br />
Boleh saja kita cantumin NLP™ di belakang nama kita,  tapi ya biasa aja lah…kayak gelar haji boleh dipakai boleh gak.  Yang penting gelar tidak membuat kita tinggi hati.  Walalupun ada kata NLP™ di belakang nama kita, atau Practitioner NLP™ ataupun Master NLP™ kita harus tetap rendah hati bukan?  Bukankah NLP™`ers adalah modeler.  Kita meniru keunggulan seseorang.  Termasuk keunggulan dalam berendah hati untuk belajar sama siapa saja.</p>
<p>Salam Super NLP…..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2008/11/11/belajar-nlp%e2%84%a2-adalah-ketika-mempraktikan-dan-menjadi-bijaksana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Pengalaman Sendiri</title>
		<link>http://republiknlp.com/2008/11/08/membuat-pengalaman-sendiri/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2008/11/08/membuat-pengalaman-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Nov 2008 14:19:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciptarasakarsa.com/artikelnlp/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syamsul Hatta, Licensed Practitioner of NLP ™ Pernahkah Anda merasa &#8220;Demam Panggung&#8221; atau &#8220;Gugup&#8221; atau &#8220;Deg Degan&#8221; ketika diminta untuk berbicara didepan Publik ??? Untuk Seorang yang menjadi Trainer atau MC mungkin hal ini pernah terjadi di awal-awal penampilan Anda. Alasannya sederhana … &#8220;Kurang Pengalaman&#8221; atau &#8220;Masih Baru&#8221; sehingga belum terbiasa dengan kondisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Syamsul Hatta, Licensed Practitioner of NLP ™</strong></p>
<p>Pernahkah Anda merasa &#8220;Demam Panggung&#8221; atau &#8220;Gugup&#8221; atau &#8220;Deg Degan&#8221; ketika<br />
diminta untuk berbicara didepan Publik ??? Untuk Seorang yang menjadi<br />
Trainer atau MC mungkin hal ini pernah terjadi  di awal-awal penampilan<br />
Anda. Alasannya sederhana … &#8220;Kurang Pengalaman&#8221; atau &#8220;Masih Baru&#8221; sehingga<br />
belum terbiasa dengan kondisi tersebut. Bahkan saking penyakit demam<br />
panggung itu sedemikian mengganggu, sampai-sampai ada yang ketika sudah<br />
tampil di depan, semua kata-kata serasa minggat dari pikiran alias tidak<br />
dapat berbicara apa-apa …</p>
<p>Anda tidak Sendiri … banyak orang yang merasakan hal yang sama … Termasuk<br />
Saya …  hehehe.</p>
<p>Nah, untuk hal seperti  ini ada trik sederhana yang bisa digunakan … Caranya<br />
dengan membayangkannya sebelum terjadi …<br />
<span id="more-35"></span><br />
<strong>Maksudnya apaan ???</strong></p>
<p>Hehehe .. gini … satu atau dua hari sebelum anda berbicara di depan publik,<br />
entah itu menjadi trainer, MC atau Presentasi dan semacamnya, Anda dapat<br />
membayangkan peristiwa itu seolah-olah anda sedang ada di dalamnya<br />
(Asosiasi). Bayangkan dengan sejelas mungkin, rasakan rasanya anda tampil<br />
didepan publik, jika anda telah mengetahui kondisi tempatnya akan lebih<br />
bagus lagi .. bayangkan tempat itu sedetail mungkin dan anda berada di situ<br />
dihadapan beberapa orang atau banyak orang dimana anda berbicara dihadapan<br />
mereka…  Lakukan ini berkali-kali sampai anda merasa nyaman … dan Anda telah<br />
membuat PENGALAMAN Anda sendiri …</p>
<p>Nah … setelah itu … jika anda sudah punya pengalaman tampil, logikanya<br />
penyakit Demam Panggung itu sudah berkurang atau bahkan hilang … kenapa ???<br />
ya karena Anda sudah SERING melakukannya …</p>
<p>Sederhana khan ???</p>
<p>Tapi kenapa bisa begitu ??? hmmmmm … ini penjelasannya……</p>
<p>Pengalaman kita tersimpan dengan baik di dalam Pikiran Bawah Sadar<br />
(UnConsious) kita. Salah satu tugas UnConsious adalah tempat menyimpan<br />
segala kejadian yang pernah kita jalani. Nah, UnConsious kita juga mempunyai<br />
sifat  TIDAK DAPAT membedakan Imajinasi dan Kenyataan … Semuanya yang kita<br />
lalui, baik itu adalah kondisi nyata ataupun hanya imajinasi kita, Oleh<br />
UnConsious disimpan sebagai Kejadian Nyata yang telah kita lewati. Itulah<br />
sebabnya, ketika membayangkan diri kita berbicara didepan umum, UnConsious<br />
akan menyimpan itu sebagai pengalaman nyata yang pernah kita lalui … jika<br />
kita sering membayangkan kita berbicara di depan umum, di berbagai situasi,<br />
tempat dan waktu, UnConsious kita pun akan menyimpannya sebagai pengalaman<br />
yang sering terjadi …  Naaaahhh … ketika kita mau naik panggung beneran …<br />
UnConsious pun akan mencari Resource Percaya Diri dari Pengalaman yang telah<br />
tersimpan … dan Pastinya … Pengalaman yang sering kita imajinasikan itu akan<br />
menjadi Resource yang Powerfull pada saat kita mengalamin kejadian yang<br />
sebenarnya….</p>
<p>Kalau Saya sih … biasanya ketika akan mengadakan Training atau pun saat mau<br />
jadi MC, saya sering membayangkan berkali-kali situasi dimana saya akan<br />
berbicara di depan umum …. Tempat faforit saya untuk membayangkan itu adalah<br />
saat (maaf) buang air besar … sambil nongkrong, saya membayangkan saya<br />
sedang berbicara didepan orang banyak … saya bayangkan dengan detail, posisi<br />
saya … posisi orang-orang … dan situasi pada saat itu.</p>
<p>Eiiitttt … bukannya jorok … tapi saat (maaf) buang air besar itu… biasanya<br />
kita Trance … J</p>
<p>Semoga Bermanfaat.</p>
<p>Syamsul Hatta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2008/11/08/membuat-pengalaman-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

