<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Republik NLP (tm) &#187; Praktek</title>
	<atom:link href="http://republiknlp.com/category/praktek/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://republiknlp.com</link>
	<description>Kisah Inspiratif Para Alumni NLP Practitioner</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Mar 2011 07:28:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>Mengatasi Grogi Dalam Hitungan Detik!</title>
		<link>http://republiknlp.com/2011/03/16/mengatasi-grogi-dalam-hitungan-detik/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2011/03/16/mengatasi-grogi-dalam-hitungan-detik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 06:07:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM) &#160; Apakah Anda pernah merasakan deg-degan, gelisah dan grogi pada pengalaman pertama? Jika “YA” dan Anda ingin tahu bagaimana NLP bisa membantu Anda bebas dari perasaan negatif itu dengan sangat cepat, tulisan ini dapat membantu Anda. ==oo== Setengah tahun yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah Anda pernah merasakan deg-degan, gelisah dan grogi pada pengalaman pertama?</p>
<p>Jika “YA” dan Anda ingin tahu bagaimana NLP bisa membantu Anda bebas  dari perasaan negatif itu dengan sangat cepat, tulisan ini dapat  membantu Anda.</p>
<p>==oo==</p>
<p>Setengah tahun yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi  pembicara pada sebuah program Live Radio Talk Show di PRO 2 Medan, 92.4  FM. Program yang bertajuk “Amazing Life with NLP” yang disiarkan setiap  Jumat pukul 20.00-21.00 wib ini  membahas aplikasi NLP dalam kehidupan  sehari-hari.<span id="more-131"></span></p>
<p>Ini adalah pengalaman pertama saya berbicara dan memandu sebuah program  Radio. Seperti ketika pengalaman pertama kali jatuh cinta, jantung  deg-degan, tangan berkeringat, bingung mau berkata apa, tapi perasaan  begitu senang bercampur gelisah. Begitu juga yang saya rasakan waktu  itu, deg-degan membayangkan studio yang sama sekali belum pernah saya  masuki, dilengkapi dengan peralatan yg menurut saya “ribet”, belum  pernah terbayang dalam pikiran saya akan mengisi sebuah program talkshow  di radio dengan saya sebagai nara sumber tunggal.</p>
<p>30 menit lagi siaran akan dimulai, materi telah disiapkan dengan baik.  Tapi pikiran dan perasaan ini tidak karuan, deg-dean, takut salah, tidak  percaya diri muncul. Tergambar dengan jelas gambaran diri saya yang  negative.</p>
<p>Waduh..bagaimana ini..?</p>
<p>Ditengah kebingungan ini, Sungguh ! NLP mempermudah saya mengatasi  tantangan seperti ini. Saya menggunakan salah satu pola dalam NLP yang  sangat efektif dan dahsyat yaitu The Swish Pattern yang saya pelajari di pelatihan Licensed Practitioner of NLP.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>The Swish Pattern</strong></p>
<p>Swish Pattern adalah pola yang ditemukan oleh DR. Richard Bandler dan  John Grinder yang menggunakan perubahan critical submodalities untuk  memprogram otak agar bekerja dengan cara yang berbeda. Pola ini bekerja  dengan mem-break pola pikiran atau  perilaku yang otomatis muncul, dan  menggantinya dengan pikiran atau perilaku yang memberdayakan.</p>
<p>Berikut yang saya lakukan untuk mengatasi grogi dengan The Swish Pattern:</p>
<ol>
<li>Saya memejamkan mata dan memikirkan atau membayangkan sebuah  gambaran (foto mental) ketika saya on air di radio dengan kondisi yang  grogi. Gambaran itu disebut juga “cue image” atau “gambaran kunci”.  Perhatikan submodality nya, seperti warna dan ukuran gambar nya yang  besar dan berada tepat didepan saya. Atau dalam kata lain, saya sedang  melihat didepan saya, gambaran diri saya yang grogi ketika on air.</li>
<li> Break state..tarik napas dan menghitung 1 sampai 5</li>
<li> Kemudian saya memejamkan mata dan membayangkan gambaran diri saya  yang sangat percaya diri dan sukses membawakan program itu. Gambaran ini  dibuat kecil dan hitam putih, dan posisinya jauh di ujung sebelah kiri.</li>
<li> Break state</li>
<li> Kemudian saya membayangkan lagi cue image itu, lalu tukar posisi  kedua gambar itu dengan sangat cepat ! sambil mengeluarkan suara  WHUUUSSS..!! (seperti sesuatu yang terbang dengan kecepatan tinggi,  gambaran yg tadinya kecil diujung dan hitam putih berpindah ke depan  menjadi besar dan berwarna) Saat gambaran diri saya yang sangat percaya  diri dan sukses membawakan acara itu membesar dan memenuhi layar, cue  image mengecil dan menghilang. Yang ada hanyalah gambaran diri saya yang  percaya diri dan sukses dengan gambaran yang besar, terang, jelas dan  sangat detail. Seperti apa cara saya berbicara, postur tubuh dan  perasaannya.</li>
<li> Sambil tetap menutup mata beberapa saat, saya membiarkan gambaran  baru yang penuh percaya diri itu terekam dalam pikiran saya.</li>
<li> Kemudian saya melakukan future pacing, yaitu membayangkan kejadian  dimasa depan ketika saya didalam studio dan ternyata perasaan grogi dan  deg-degan itu sudah hilang.</li>
<li> Jika masih ada perasaan yang tidak nyaman, lakukan 5-7 kali atau sampai perasaan yang diinginkan dapat.</li>
</ol>
<p>WOW AMAZING !..</p>
<p>Program pertama itu berjalan lancar, respon pendengar  pun cukup bagus dari sms dan telepon yang masuk. Sampai saat ini,  program Amazing Life with NLP sudah berjalan 6 bulan lebih, dan semoga  dengan program ini semakin memasyarakatkan NLP dan bisa semakin  bermanfaat untuk lebih banyak orang.</p>
<p>Salam Amazing !</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2011/03/16/mengatasi-grogi-dalam-hitungan-detik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KENALI Proses KEHILANGAN, Temukan MAKNAnya</title>
		<link>http://republiknlp.com/2011/01/25/kenali-proses-kehilangan-temukan-maknanya/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2011/01/25/kenali-proses-kehilangan-temukan-maknanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 11:50:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Inna Istantina, Licensed Practitioner of NLP™ “Memaknai kehilangan? Ahhh, itu hanya teoriiii sajaaa…”, begitu barangkali yang bersliweran di pikiran Anda sekarang. Pertanyaan berikutnya, memaknai yang seperti apa? Apakah memaknai itu sama halnya dengan merenungi, meresapi, hingga jadi sensi &#38; termehek-mehek? Atau memaknai secara positif &#38; memberdayakan? “Hayaaaahh, mana  ada memaknai kehilangan dengan positif [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Inna Istantina, Licensed Practitioner of NLP™</strong></p>
<p><em>“Memaknai kehilangan? Ahhh, itu hanya teoriiii sajaaa…”</em>, begitu barangkali yang bersliweran di pikiran Anda sekarang.</p>
<p>Pertanyaan berikutnya, memaknai yang seperti apa? Apakah memaknai itu sama halnya dengan merenungi, meresapi, hingga jadi sensi &amp; termehek-mehek? Atau memaknai secara positif &amp; memberdayakan?</p>
<p><em>“Hayaaaahh, mana  ada memaknai kehilangan dengan positif &amp; memberdayakan”</em>, otak kritis Anda mengajukan mosi tidak percaya, secara dari pengalaman kumulatif yang Anda saksikan, dengar &amp; rasakan, kehilangan diidentikkan dengan lonely-desperate-hopeless. Kehilangan baik itu kehilangan ‘sesuatu’ atau seseorang acap kali membuat seolah hidup terhenti,  tak mampu berjalan lagi, dunia serasa runtuh, mata semakin berkabut, &amp; suara-suara kepiluan makin menyayatttt…..</p>
<p><strong>Eeitttsss… Stopppppp stoppp stoppppp….</strong></p>
<p>Ijinkan saya bertanya terlebih dahulu.. Sejauh mana Anda mengetahui bahwa ternyata jika kita semakin <strong>meng-Kenali bagaimana proses sebuah kehilangan</strong> itu bisa mempengaruhi kita, berarti semakin kita mampu memaknai kehilangan? Sudahkan Anda men-Sadari bahwa proses tersebut adalah jalan mudah menemukan makna dibalik sebuah kehilangan?</p>
<p>Bagaimana cara meng-<strong>Kenali proses sebuah kehilangan</strong>?</p>
<p>Ok, Begini…</p>
<p><span id="more-153"></span>Cara termudahnya adalah dengan menganalisa lebih fokus tentang kejadian yang telah Anda kategorikan sebagai sebuah kehilangan.</p>
<p>karena….</p>
<p>Tanpa Anda sadari, dengan MULAI untuk MELIHAT gambaran peristiwa, MENDENGAR suara (baik itu suara pada saat kejadian/ suara batin Anda sendiri), &amp; MERASAKAN sensasi yang muncul saat terjadinya momen kehilangan, berarti Anda belajar untuk men-Selami proses kehilangan SEKARANG!</p>
<p><strong>GAMBARAN </strong></p>
<p>Bayangkan/ visualisasikan saat-saat melihat peristiwa ‘kehilangan’. Perhatikan gambar tersebut dengan FOKUS. Ketika mata Anda menatap lekat ke gambaran tersebut, apa yang terjadi? Ada rasa tidak nyamankah? Jika ini terjadi, otak-atik gambarnya, semisal gambar ini semula berwarna, bisa diganti dengan hitam putih, atau jika warna gambarnya cerah bisa diredupkan, atau Andaikata gambarnya bergerak seperti film, Anda bisa rubah gambarnya menjadi diam, bahkan jika jaraknya terlampau dekat, bisa  dijauhkan. Otak-atik seoptimal mungkin baik itu warna, bentuk, jarak, dimensi dan apapun yang dapat menjadikan gambar tersebut mendatangkan keNYAMANan.</p>
<p><strong>SUARA</strong></p>
<p>Sebagian orang mampu mendengar dengan jelas suara-suara yang muncul dalam sebuah kehilangan, baik itu suara batin sendiri ataupun suara-suara orang-orang disekelilingnya.  Mana yang Anda dengar? Suara batin Anda atau suara di sekeliling Anda? Tidak ada yang BENAR atau SALAH dalam hal mendengar suara yang mana. Yang jauh lebih penting adalah, Anda sungguh-sungguh melacak suara tersebut. Jika parau &amp; terkesan tidak nyaman, Anda bisa ubah suara parau tersebut menjadi nyaring. Atau jika suara tersebut terlalu kencang volumenya, Anda bisa turunkan secara perlahan. Kuncinya tentu saja, menemukan takaran yang pas, agar suara yang Anda rubah tersebut menuju pada suara yang memberi kenyamanan. Otak-atik dari sisi volumenya, naik turun suara, hingga kecepatan suara tersebut.</p>
<p><strong>SENSASI </strong></p>
<p>Apa yang paling Anda RASAkan saat stimulus terhadap kehilangan itu muncul? Apakah berdebar-debar keras di dalam dada? Apakah seolah-olah ada udara keluar masuk ke rongga tubuh? Ataukah dingin/ hangat yang menyergap permukaan kulit/ seluruh tubuh Anda? Seperti halnya Otak-atik pada elemen GAMBARAN &amp; SUARA, pada SENSASI pun Anda mulai temukan kondisi tidak nyaman, dan kemudian bawa ke kondisi nyaman. Jika ada rasa tertentu di lidah, semisal pahit, asin, Anda bisa rubah rasa itu menjadi manis, ataupun sebaliknya. Misal sensasi dingin muncul &amp; menyebabkan ketidaknyamanan, Anda bisa rubah suhunya menjadi hangat. Tujukan pada nyaman. Tujukan pada kenyamanan.</p>
<p><em>***contoh elemen-elemen pada gambaran, suara, &amp; sensasi diatas bisa dalam kondisi sebaliknya**</em></p>
<p>Sebagian orang barangkali  mengalami sekaligus ketiga hal tersebut, baik itu GAMBARAN, SUARA, ataupun SENSASI. Akan tetapi sebagian yang lebih lain, terkadang hanya merasakan 1 atau 2 poin saja. Apapun itu, tidak ada yang tidak BENAR. Karena ke-MAMPU-an Anda untuk meng-otakatik  &amp; men-TEMUKAN KENYAMANAN itulah yang paling diperlukan.</p>
<p>Sesudah Anda mengotakatik elemen-elemen tersebut dan menemukan ke-NYAMAN-an. Tes dengan mengingat gambaran, suara, atau sensasi ketika muncul kembali memori kehilangan.</p>
<p>Jika Anda ulang proses otak-atik yang sama, dan semakin nyaman, berarti Anda tinggal perkuat &amp; persering. Akan tetapi jika belum, Anda bisa pilah lagi, langkah mana diantara GAMBARAN, SUARA, atau SENSASI yang lebih dominan.</p>
<p>Semakin Anda berhasil mengenali elemen-elemen dari proses Kehilangan, semakin Anda mampu mencari &amp; mendapatkan keNYAMANan.</p>
<p>Semakin Anda Nyaman, Semakin Anda mendapat hikmah dari setiap kehilangan yang terjadi.</p>
<p>Sementara Anda makin men-DAPAT HIKMAH dari sebuah kehilangan yang bermakna, maka Anda makin memperkuat mata, telinga, &amp; hati Anda untuk <strong>melihat-mendengar-merasakan</strong> hal-hal yang lebih positif &amp; memberdayakan.</p>
<p>Salam Ceria <img alt=":)" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2011/01/25/kenali-proses-kehilangan-temukan-maknanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hand Puppet, An Amazing Way to Change Children’s Belief</title>
		<link>http://republiknlp.com/2011/01/05/hand-puppet-an-amazing-way-to-change-children%e2%80%99s-belief/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2011/01/05/hand-puppet-an-amazing-way-to-change-children%e2%80%99s-belief/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 04:43:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ide Orisinil]]></category>
		<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Okina Fitriani, Licensed Practitioner of NLP™ Suatu ketika beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti status seorang teman di Facebook yang sedang berjuang keras mengantarkan anaknya ke sekolah. Mulai harus ditunggui di dalam kelas, di jendela, di halaman sekolah, hingga akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata dengan total proses memakan waktu lebih dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Okina Fitriani, Licensed Practitioner of NL<strong>P</strong></strong><strong>™</strong><strong> </strong></p>
<p>Suatu ketika beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti status seorang teman di Facebook yang sedang berjuang keras mengantarkan anaknya ke sekolah. Mulai harus ditunggui di dalam kelas, di jendela, di halaman sekolah, hingga akhirnya berhasil survive di sekolah tanpa airmata dengan total proses memakan waktu lebih dari 14 hari. (<em>semoga Tuhan melimpahi teman saya ini dengan pahala atas kesabarannya dan dedikasinya sebagai ibu</em>)</p>
<p>Jika peristiwa ini terjadi di Indonesia, barangkali tidak terlalu menegangkan, karena ada <em>extended family</em>, bibik, si embak, <em>baby sitter</em>, yang bisa dimintai tolong untuk menemani selama di sekolah atau mengerjakan pekerjaan rumah yang ditinggalkan.</p>
<p>Agak lain ceritanya jika anda tinggal di luar negeri, dimana segala bala bantuan ini tidak mudah diperoleh, dan seorang ibu mempunyai banyak tugas selain menjadi permaisuri, yaitu sebagai iyem, merangkap supir, merangkap baby sitter plus tukang kebun J. Dalam situasi seperti ini, tertahan di sekolah selama 4-5 jam membuat seorang ibu harus pontang-panting membuat penyesuaian jadwal dan bertoleransi dengan tumpukan pekerjaan rumah yang melambai-lambai di rumah…</p>
<p>Penyebab kasus seperti ini secara umum disimpulkan sebagai “rasa tidak aman untuk berpisah dari subjek lekat”. Rasa tidak aman berpisah dari subjek lekat yang kadung melekat pada diri anak bisa dikategorikan sebagai <em>limiting belief</em> yaitu suatu kepercayaan yang menghambat atau membatasi atau membelenggu (<em>silahkan dipilih istilah mana yang lebih anda sukai..</em>). Beberapa tulisan yang saya baca mengenai kasus seperti ini, cenderung menganalisa cara mendidik yang dianggap keliru..  bahwa seharusnya begini, seharusnya begitu.. tanpa diberi solusi kecuali bersabar menerima proses panjangnya.<span id="more-150"></span></p>
<p>Ngomong-ngomong soal <em>extended family</em> dan bala bantuan dalam pengasuhan anak, seringkali terjadi juga “ketidak sengajaan” penanaman keyakinan yang tidak sehat secara mental. Ada kebiasaan kuno dalam pola asuh anak  dengan cara menakut-nakuti… seperti “Awas jangan kesitu ada hantu/jurit/wewe” (<em>hahaha… wewe itu seperti apa ya bentuknya</em>)… “Awas, nanti kamu diculik, ngga bisa ketemu mamamu lagi!”, “Nanti dipanggilin dokter biar disuntik” dan sebagainya.</p>
<p>Ternyataaa oh ternyata… tidak hanya <em>extended family</em> dan para pengasuh yang melakukan dosa-dosa seperti contoh diatas,  orang tua modern yang saya pikir sudah meninggalkan metode pengasuhan kuno ini juga ada yg masih melakukannya dengan versi yang berbeda.. misalnya “Awas jangan panjat itu, nanti kamu jatuh berdarah, sakit lho..”, “Ayo belajar.. matematika itu sulit lho, nanti nilaimu jelek (pada anak usia sekolah), “Kamu memang selalu merepotkan” dan lain sebagainya…. Semoga semua orang tua yang pernah melakukan “dosa lidah” ini ramai-ramai melakukan tobat nasuha…  (<em>Nasuha?&#8230; jadi ingat final AFF yang menjadi pertandingan bola yang saya tonton seutuhnya sepanjang hidup saya.. semoga bidang olahraga di negeriku semakin maju</em><em>..).</em></p>
<p>Akibatnya? anak menjadi takut di tempat tertentu, takut ke dokter, merasa matematika sulit, takut mencoba hal baru, merasa diri tidak berharga dan lain-lain.</p>
<p>Menyalahkan “sang sebab” tidaklah cukup. Menghentikan penyebab yang kendalinya di tangan anda, adalah tindakan yang WAJIB hukumnya. Namun mungkin saja anda sudah tidak bisa lagi mengenali sebabnya, karena suatu keyakinan bisa muncul sebagai hasil kesimpulan anak dari berbagai peristiwa yang dialaminya atau bahkan hanya sekedar dilihatnya sambil lalu.. <em>(…toh anda tidak mungkin membesarkan anak dalam rumah kaca yang dapat anda kendalikan semua peristiwa yang boleh diterimanya bukan?…</em>). Maka kewajiban berikutnya yang juga sama pentingnya adalah MEMPERBAIKI kondisi yang sudah terlanjur terbentuk.</p>
<p>Bagi para penikmat NLP (<em>Neuro Linguistic Programming</em>), tentu ini persoalan mudah. Apalagi jika terjadi pada orang dewasa, remaja atau setidaknya anak-anak usia 7 tahun ke atas yang telah memiliki kematangan berkomunikasi.  Bahkan secara  menakjubkan teknik  sudah diramu  dalam  bentuk <em>conversational </em>oleh ahli-ahlinya seperti saya   sering temukan dalam tulisan-tulisan di berbagai laman maya.</p>
<p>Bagaimana jika yang anda hadapi adalah anak usia 3-5 tahun? Diperlukan kreatifitas tersendiri plus situasi yang menarik untuk membuat anak-anak pada usia ini mau dan dapat berkomunikasi sesuai arahan anda dalam rentang waktu tertentu. Jika anda atau cara anda dianggap tidak menarik oleh mereka, bukan tidak mungkin mereka akan kabur meninggalkan kita dalam kondisi <em>speechless…</em> J.</p>
<p><em>Hand puppet</em> (boneka tangan) dapat menjadi media untuk berkomunikasi dan mengaplikasikan teknik-teknik NLP secara mudah dan menarik. Teknik ini telah saya uji beberapa kali dan apa yang saya tuliskan disini adalah salah satu contoh yang dapat diaplikasikan untuk kasus-kasus lain sesuai dengan kebutuhan anda.</p>
<p>Saya sarankan anda menggunakan karakter binatang agar anak tidak serta merta mengasosiasikan karakter boneka dengan dirinya. Karakter orang kadang terlihat <em>scary</em>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>META MODEL </strong></p>
<p>Bukanlah pekerjaan yang mudah bagi anak untuk mendiskripsikan dengan jelas perasaannya (<em>jangan anak-anak…. Andapun sesekali mengalaminya bukan?</em>)</p>
<p>Untuk mengetahui secara spesifik persoalan apa yang dihadapi anak, anda perlu mengetahui secara detail gambaran apa yang ada dalam pemikirannya bukan sekedar pernyataan di permukaan atau lebih parah lagi hanya berdasarkan pendapat orang tuanya. Me-meta-model-i anak-anak tentu tidak sama dengan dengan orang dewasa, proses ini kadang membuat anda menjadi subjek yang menjengkelkan karena terlalu banyak bertanya</p>
<p>Proses ini tidak wajib dijalankan jika memang anda sudah tahu pasti berdasarkan pengamatan anda, apalagi jika anda adalah ayah dan ibunya yang sudah menjalankan proses pengumpulan data, atau lebih parah lagi yaitu… anda adalah “biang keladi”  masalahnya hehehehe….</p>
<p>Untuk kasus “saya tidak suka sekolah”, kadangkala anda memerlukan informasi lebih detail mengenai, “apa/siapa/kejadian apa yang tidak dia sukai dari sekolah”, “sejak kapan tidak suka” atau hal-hal lain yang menurut anda penting (<em>bagi saya… hal-hal yang saya sebutkan tadi sudah cukup</em>)</p>
<p>Baiklah…</p>
<p>Mari kita mulai proses spesifikasi masalah melalui cerita, saya sarankan anda membagi cerita menjadi 3 bagian :</p>
<p><strong>The Beginning : </strong></p>
<p>Bagian ini untuk mengeksplor indera anak tentang suatu kejadian. Ceritakan secara diskriptif baju yang dipakai oleh karakter yang anda pilih, sebutlah si Teddy dan si Froggie yang sedang diajak orang tuanya untuk melihat-lihat sekolah.  Ajaklah anak membayangkan wanginya bunga yang dilalui ketika mereka berjalan, bunyi kicauan burung, rasa gembira, manisnya kue yang dibeli dalam perjalanan, dll. Selain agar anak merasa nyaman, <em>his/her mind’s side door will swing wide open to accept your main process.</em> Saya suka menyebutnya dengan istilah tahap persiapan inderawi untuk membuka jendela pemikiran anak.</p>
<p><strong>The Middle :</strong></p>
<p>Disinilah bagian dimana anda akan mendapatkan informasi yang anda perlukan. Buatlah percakapan antara Teddy dan Froggie tentang perasaan si Froggie ketika mereka sampai di sekolah. Ada beberapa alternative cara bertanya untuk memancing jawaban anak:</p>
<p>1.    Lakukan jeda setiap kali Teddy bertanya kepada Frogie, untuk memberi kesempatan anak menjawab.</p>
<p>2.    Buatlah gerakan seolah Froggie menggaruk-garuk kepala dan bertanya pada anak, apa jawaban pertanyaan Teddy</p>
<p>3.    Teddy bertanya langsung kepada anak setelah Froggie menjawab</p>
<p><em>Chunking down</em> informasi yang sifatnya umum ke spesifik karena anak suka menggunakan kata-kata generalisasi sepeti “pokoknya ngga suka aja”, “semua jelek”, dsb. Perhatikan rentang konsentrasi anak.  Jangan berlama-lama karena rentang konsentrasi anak-anak lebih pendek dari rentang konsentrasi orang dewasa <em>(yang bisa asyik berjam-jam mendengar kisah tentang “si pencari suara 2014 yang banyak dosanya pada rakyat tapi tidak punya malu mencalonkan diri” di kedai kopi.. ;p</em>). Anda hanya perlu sedikit sensitif untuk bisa mengenali tanda-tanda penurunan konsentrasi pada anak misalnya ia mulai mengalihkan pandangan ke berbagai arah, gelisah, menguap.. dsb..dsb.. (<em>thanks to hand puppet yang bisa dimanfaatkan untuk membuat gerakan-gerakan lucu</em>)</p>
<p>Bisa saja anda terkejut dengan hasil penemuan anda, karena kesimpulan akhirnya bisa beragam seperti :</p>
<p>“Aku tidak suka sekolah sendiri karena aku takut ibu terlambat menjemputku, nanti aku harus menunggu sendirian, kalau nanti ada orang asing datang, aku diculik orang asing dan tidak bisa bertemu ibu lagi” (<em>disini anda menemukan rasa takut kuadrat</em>)</p>
<p>“Aku tidak suka Pak guru karena tidak keren seperti ayahku, pasti dia tidak sebaik ayah” (<em>suit… suit… para ayah boleh numpang GR sebentar… :p</em>)</p>
<p>“Teman sebelahku mencubitku” (hati-hati.., jawaban ini membutuhkan penyelesaian lain karena tidak ada hubungannya dengan belief !)</p>
<p>Salah satu contoh jawaban yang saya temukan adalah : “sekolah itu tidak menyenangkan, karena teman-teman sebaya nggak <em>fun</em>. Lebih menyenangkan bermain dengan teman-teman kakak, permainan teman-teman kakak lebih asyik. Teman-teman sebaya membosankan….mereka itu masih <em>baby</em>”</p>
<p>Hhmmm&#8230; rupanya masalah sedikit bergeser dari “tidak suka sekolah” menjadi “teman sebaya ngga fun/membosankan”</p>
<p><strong>The Happy Ending :</strong></p>
<p>Tutup cerita dengan akhir yang bahagia. Pelukan, ciuman, kata-kata yang berulang dan nyanyian biasanya menjadi pembungkus favorit bagi anak-anak.</p>
<p>Test jawaban anak dalam kondisi riil, misalnya dengan meminta ortu-nya untuk mengajak anak ke sekolah kakaknya. Apakah dia terlihat <em>excited</em>? Atau dengan mengajak anak bermain dengan teman sebayanya di lokasi bukan sekolah. Apakah dia memang tidak berminat?</p>
<p>Jika BENAR, mari kita melangkah ke tahap berikutnya.., jika salah? hehehe… silahkan mundur 3 langkah.. ;p</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>CHANGING BELIEF</strong></p>
<p>Tahap ini adalah tahap dimana anda akan menggugurkan <em>limiting belief </em>anak dengan mengganti gambaran mental anak terhadap situasi yang tidak menyenangkan dengan situasi yang menyenangkan atau menggelikan. Mengganti perasaan <em>inferiority</em>-nya terhadap situasi yang tidak disukainya menjadi berdaya.</p>
<p>Saya sarankan anda tetap membagi cerita menjadi 3 bagian, mengaplikasikan teknik <em>changing belief system</em> di tengah cerita.</p>
<p>Saya memilih menggunakan cerita ini :“Sampailah Teddy dan Froggie ke sekolah.. di depan kelas Froggie melihat teman-temannya..” (jeda)… biarkan anak menyambar cerita dengan menggambarkan perasaannya melihat teman-teman sebaya. Jika tidak ada reaksi, pancing dengan pertanyaan dari Teddy kepada Froggie dan selanjutnya dari Froggie kepada anak. Buatlah anak mengobservasi kehilangan minat yang dialaminya melalui tokoh Froggie … ikuti gerakan matanya dan letakkan Froggie di tempat matanya memandang ketika dia berhasil menemukan lokasi belief-nya. BREAK.. Lepaskan Froggie dari tangan anda.</p>
<p>Alihkan beberapa detik pada hal lain, misalnya dengan berpura-pura haus dan mengajaknya minum bersama anda.</p>
<p>Alihkan focus cerita. Kisah Teddy yang bertemu karakter lain yaitu si Goofie menjadi pilihan saya.  Teddy dan Goofie bermain ayunan, Teddy mendorong Goofie hingga Goofie berayun tinggi… tinggiiiii di udara…, stimulasi ingatan anak kepada pengalamannya bermain ayunan (<em>tentunya anda harus tahu dulu kegiatan yang ia sukai.. jika bermain ayunan justru menakutkan, artinya anda meng-elicit emosi yang salah <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em>).. Untuk menguatkan rasa <em>exciting</em> yang dialaminya, saya melakukan gerakan-gerakan jenaka dengan karakter Goofie, menutup salah satu matanya sambil sedikit mengintip, jeritan-jeritan kecil, berpura-pura salah memegang mulut menjadi telinga..  terusss.. sampai anak berada dalam titik senang, geli, exciting mendekati optimal <em>(…jangan kuatir.. membuat anak kecil terpingkal-pingkal jauh lebih mudah dari membuat atasan anda tersenyum </em><em>J</em><em>)</em></p>
<p>Dengan gerakan tangkas ganti munculkan karakter  Froggie di tempat dimana tadi ia anda hilangkan yang mewakili submodality “anak-anak membosankan” (<em>jika ada reaksi diam 1-2 detik.. Bagus.. artinya dia sedang menarik informasi lama yang sudah terbentuk .. Jika tidak ada reaksi, pancing selintas dengan mengatakan “ngga fun”</em>). Serta merta pindahkan posisi Froggie ke belakang Goofie hingga karakter Froggie tertutup oleh Goofie dan lanjutkan gerakan-gerakan jenakanya hingga si anak kembali tertawa terkekeh-kekeh sambil mendekatkan karakter Goofie ke arah anak&#8230;. teruss.. teruss.. dan stop. Selesai sudah…</p>
<p>Lepaskan kedua karakter dari tangan anda dan lanjutkan akhir cerita secara naratif. Libatkan anak untuk membuat akhir cerita yang disukainya. Lakukan <em>recheck</em> apakah keyakinan lamanya telah tergugurkan berdasarkan akhir cerita yang dibuatnya.</p>
<p>Ingatkan orang tua untuk tidak perlu membahas “masalah” ini sampai saatnya anda mengalami pengalaman yang sebenarnya.</p>
<p>Singkat cerita, saya mendapatkan informasi bahwa si anak telah melenggang dengan ceria ke kelasnya keesokan harinya.</p>
<p>Tentunya proses tidak berhenti sampai disini, tetapi terus dilanjutkan dengan proses menikmati situasi-situasi menyenangkan dan proses memaafkan situasi-situasi tidak menyenangkan yang secara riil ditemukan pada hari-hari selanjutnya, agar anak menjadi fleksible dan <em>resilience</em> ketika menghadapi berbagai fakta.</p>
<p>Akhirnya…</p>
<p>Tulisan ini saya persembahkan pula bagi semua sahabat saya, para ibu dan ayah yang mungkin tidak pernah bersentuhan dengan <em>Neuro Linguistic Programming. </em></p>
<p>Kasus ini hanyalah sebuah contoh yang bisa anda modifikasi sesuai dengan kondisi yang anda hadapi baik bagi anak-anak anda maupun anak-anak yang anda bantu. Bantu juga diri anda dan para orang tua untuk ikut berubah karena seringkali apa yang diyakini anak adalah hasil ‘memodel’ apa yang diyakini orang tuanya.</p>
<p>Teruslah membuat perbaikan, karena anak-anak adalah tamu istimewa, yang kita undang untuk masuk dalam kehidupan kita atas ijin dan kuasaNya.. maka sudah sepantasnya, mereka mendapatkan perlakuan istimewa selayaknya “tamu istimewa”.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2011/01/05/hand-puppet-an-amazing-way-to-change-children%e2%80%99s-belief/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DEAL WITH PEOPLE YOU CAN’T STAND</title>
		<link>http://republiknlp.com/2010/08/28/deal-with-people-you-can%e2%80%99t-stand/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2010/08/28/deal-with-people-you-can%e2%80%99t-stand/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 06:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[PERCEPTUAL POSITION AND WELL-FORMED OUTCOMES HELP YOU TO DEAL WITH PEOPLE YOU CAN’T STAND Oleh : Okina Fitriani, Licensed Practitioner of NLP(TM) Apa yang anda rasakan, jika anda menghadapi seseorang yang judes, dingin, bahkan menganggap anda tidak ada ketika anda berbicara dengannya? Mungkin hanya dengan membayangkannya saja, sudah muncul perasaaan kesal, marah atau sensasi-sensasi negative [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERCEPTUAL POSITION AND WELL-FORMED OUTCOMES </strong></p>
<p><strong>HELP YOU TO DEAL WITH PEOPLE YOU CAN’T STAND</strong></p>
<p><strong>Oleh : Okina Fitriani, Licensed Practitioner of NLP(TM) </strong></p>
<p>Apa yang anda rasakan, jika anda menghadapi seseorang yang judes, dingin, bahkan menganggap anda tidak ada ketika anda berbicara dengannya?</p>
<p>Mungkin hanya dengan membayangkannya saja, sudah muncul perasaaan kesal, marah atau sensasi-sensasi negative lainnya dalam hati anda.</p>
<p>Jika anda berdarah preman mungkin anda akan menggebrak meja dihadapan orang tersebut. (hhhmmm apakah istilah preman ini mengingatkan anda pada kawan kita saat perkenalan peserta Licensed NLP Practitioner  batch #10? siapakah dia?  J)</p>
<p>Jika anda bermental baja, mungkin anda tetap cuek nyerocos dan berharap satu dua informasi nyangkut di kepalanya.</p>
<p><span id="more-146"></span></p>
<p>Atau… anda memilih meninggalkannya dan berkata dalam hati “Emang siapa lu!”</p>
<p>Maka anda akan membuat kesimpulan bahwa dia adalah “ORANG SULIT”</p>
<p>Jika orang tersebut tidak penting dalam pencapaian tujuan anda, anda bisa memilih berbuat apa saja, tetapi seringkali “si nyebelin” itu adalah orang yang cukup penting dalam pencapaian tujuan anda.”</p>
<p>Kawan saya, seorang agen asuransi, mengeluh sering “dikacangin” alias dicuekin oleh calon nasabahnya. Meskipun darah mendidih, apa boleh buat kenyataan-kenyataan seperti itu menjadi hidangan yang mau-tidak mau harus dihadapinya terutama jika calon nasabah itu memang potensial. Pengalaman pernah gagal akan menjadi bumbu yang menambah siksaan yang menekan di dalam dirinya.</p>
<p>Malam itu, melalui telepon, kawan saya curhat bahwa besok siang dia harus menemui seorang calon nasabah, sebut saja Mr. RX yang tergolong “sulit” atas permintaan istri Mr. RX. Sang istri ingin suaminya mengambil suatu program asuransi yang dibutuhkan oleh keluarga tetapi tidak sanggup membujuk suaminya. Kawan saya sudah pernah menemui Mr. RX ini dua kali. Hasilnya? Memandangpun dia tak mau.. (halah.. kejam nian..)</p>
<p>Tidak tanggung-tanggung, kali ini, kawan saya harus menemui Mr. RX di Jakarta, sedangkan kawan saya tinggal di Yogyakarta. Anda dengan mudah dapat membayangkan <em>effort</em> berupa tenaga dan biaya yang akan dikeluarkan oleh kawan saya ini untuk menemui Mr. RX. Apalagi usaha itu belum tentu mendatangkan hasil. Dia minta saya menolongnya mengatsi masalah ini dan ingin bertemu dengan saya sebelum berjumpa dengan Mr. RX</p>
<p>Singkat cerita…</p>
<p>Pagi-pagi sekali <em>directly</em> dari statiun Gambir, kawan saya sudah bertandang ke rumah kakak saya dimana saya menginap selama di Jakarta. Bayangkan.. directly… tanpa mandi, tanpa sarapan dengan wajah diselimuti kekhawatiran. Setelah mandi dan minum teh, kami mulai berbincang. Saya menanyakan apa yang dia harapkan dari pertemuannya kali ini dengan Mr. RX.</p>
<p>“Setidaknya dia mau dengar penjelasan saya dulu deh…” katanya</p>
<p>“Cuma itu” tanya saya</p>
<p>“Yaaa… kalau bisa langsung sign, ya Alhamdulillah”.. sambungnya</p>
<p>“Kira-kira anda mengerti tidak apa yang dia harapkan dari anda dan produk anda ini” lanjut saya</p>
<p>“Ya yang pasti perlindunganlah.. keuntungan barangkali, mungkin sekedar nyeneng-nyenengin istrinya. Dia itu sudah beberapa kali kecewa dengan agen asuransi, mungkin dia mau nge-test apakah aku ini cukup bisa dipercaya”… (apa yang muncul dalam pikiran anda mendengar jawaban seperti ini?&#8230; Yaaa BETULL&#8230; dia belum mengenali dengan pasti harapan Mr. RX)</p>
<p>Situasi ini mengingatkan saya pada cerita Pak RFR tentang perselisihan berkala yang dialaminya setiap ada acara <em>njagong manten</em>…</p>
<p><strong>PERCEPTUAL POSITION</strong></p>
<p>Sebagai pembukaan, saya akan mengajak kawan saya ini untuk berkenalan dengan Mr.RX lebih dekat melalui <strong><em>perceptual position</em></strong>.</p>
<p>Sebelum memulai saya minta kawan saya menentukan siapakah <em>the neutral subject</em> yang kira-kira dapat memberi masukan kepadanya mengenai Mr. RX. Karena saat itu kami berbincang di ruang tamu, maka mudah bagi saya untuk menjalankan teknik ini. Saya tulis tiga nama, kawan saya, Mr. RX dan si netral yang saya tempatkan di tiga posisi yang berbeda membentuk segitiga. Saya minta dia seolah-olah berdialog <em>as herself,</em> Mr. RX dan <em>the neutral subject</em>. Setiap kali dia berpindah posisi saya tanyakan “siapa anda” untuk memastikan bahwa dia sudah associate dengan peran yang dijalankannya. Saya memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya.</p>
<p>Bagus sekaliii..  saya mengamati perubahan ekspresi menjadi <em>reluctant</em> ketika dia mengubah posisinya menjadi Mr. RX. Ketika selesai dengan proses <em>perceptual position</em> saya melihatnya manggut-manggut. <em>Aha… !! She got it….</em> pikir saya.</p>
<p>Sesuai dugaan saya, tanpa saya tanyakan, dia sudah langsung menceritakan <strong>temuan</strong> yang ia dapatkan dari proses ini. Temuan yang membuatnya lebih memahami kebutuhan dan kemauan Mr. RX. Temuan itu tentunya tidak dapat saya bagikan kepada anda, tetapi saya yakin anda sudah mendapatkan poin penting dari cerita saya. Sebetulnya tidak ada “orang sulit”, yang ada adalah “kita tidak mengerti kebutuhannya.”</p>
<p>Mengingat <em>effort </em>yang telah dilakukan kawan saya, tentu kami tidak ingin berhenti hanya sampai memahami dan diterima oleh Mr. RX saja… Kami lanjutkan proses ini ke titik yang lebih tinggi yaitu persetujuan Mr. RX untuk mengambil program asuransi yang menurut istrinya memang sangat dibutuhkan oleh keluarganya.</p>
<p><strong>WELL-FORMED OUTCOMES</strong></p>
<p>Dalam proses ini saya meminta kawan saya membayangkan sedetail mungkin apa tujuannya bertemu dengan Mr. RX. Tujuan ini haruslah dilandasi dengan tujuan positif sesuai dengan <em>value-</em>nya (kawan saya ini religius dan santun tiada tara) agar tidak ada pertentangan di area subconscious ketika tujuan tersebut tercapai. Sambil menentukan tujuan saya beri masukan-masukan agar tujuannya menjadi lebih nyata dan lengkap dengan mengajukan pertanyaan “Kapan terjadinya?”, “Berapa nilainya?”, “Dimana dia tandatangani?” dan pertanyaan-pertanyaan sejenis.</p>
<p>Dan luar biasa sodara-sodara….!!!</p>
<p>Saya bisa mengenali bahwa visualisasinya terhadap tujuan itu begituu riil. Lengkap dengan tanggal yang spesifik, detail dan diwarnai <em>Auditory Digital</em> yang kuat.  Sementara anda membayangkan seberapa jelas gambaran kawan saya ini mengenai tujuannya, saya juga mengingatkan anda bahwa kadang-kadang klien kita memerlukan bantuan kita untuk dapat membangun tujuan yang kuat. Dengan demikian proses terapi kita akan memberikan manfaat yang maksimal bagi kepentingan klien sekaligus masukan untuk proses pembelajaran kita.</p>
<p>Proses ini saya mulai dengan mengajaknya menemukan garis <em>timeline</em>-nya sendiri kemudian membentangkannya menjadi sebuah jalan menuju <em>her desired goal</em>. Saya minta ia menentukan <em>resources</em> apa yang ia butuhkan dan tahapan apa yang akan ia jalani untuk sampai pada tujuan tersebut. Sebelum ia memulai, saya ajak dia berdo’a agar tujuannya di hijabahi oleh Yang Maha Agung, Penguasa alam semesta</p>
<p>Perlahan saya bimbing dia melangkah menuju <em>desired goal-</em>nya<strong> </strong>dan mengumpulkan semua <em>resources </em>yang ia dibutuhkan. Dan ketika ia menempati titik tujuannya…..</p>
<p>wajahnya <strong>sumringah</strong>..</p>
<p>senyum mengembang…..</p>
<p>puji syukur secara otomatis dia gumamkan…</p>
<p><strong>Alhamdulillah… </strong></p>
<p>Saya minta dia melangkah sekali lagi ke hari berikutnya, hari dimana tujuannya telah tercapai dan telah dilaluinya. Kemudian ia membalikkan badan mengumpulkan sumber daya<strong> </strong>yang mungkin masih tersisa hingga kembali ke saat ini, memandang kepada tujuan yang telah ia nikmati sensasi pencapaiannya.</p>
<p>Ketika saya tanyakan apa yang dia rasakan.</p>
<p>“Wah.. rasanya seperti saya sudah benar-benar mendapatkannya ya… InsyaAllah berhasil, malah tadi muncul gambaran saya mengajak ibu saya berlibur dari hasil saya bulan ini.. Alhamdulillah…”</p>
<p>Mantabbsss boooook…..</p>
<p>“Tapi mbak….. “katanya tiba-tiba</p>
<p>Haduh… apalagi nih kok pakai tapi.</p>
<p>“Saya tu sering bertemu orang-orang seperti Pak. RX itu. Meskipun saya sekarang sudah mengerti kemauannya dan yakin akan berhasil, tapi saya khawatir… Saya takut jika nanti saat pertama kali saya melihat wajahnya hatiku ciut… terbayang kegagalan yang dulu pernah kualami”..</p>
<p>Oalahhh……</p>
<p>OK deh..  rupanya kawan ini perlu sedikit suntikan semangat. Karena waktu sangat sempit, jadwal untuk bertemu dengan Mr. RX sudah semakin dekat. Tidak sempatlah kiranya kalau saya harus memberi patatah petitih pembakar semangat.</p>
<p><strong>SUNTIKAN KILAT PEMBAKAR SEMANGAT</strong></p>
<p>Supaya tidak terlalu lama membuang waktu, saya lakukan proses hypnosis dengan <em>rapid induction </em>menggunakan jari ala Pak Yan setelah sebelumnya saya melakukan satu kali <em>suggestivity test</em>. Pada titik ini saya yakin dia akan mengikuti karena saya sudah melihat dia percaya penuh pada saya.  <em>Rapport </em>sudah terbangun dengan sendirinya. Dan dugaan saya benar. <em>Rapid induction</em> berhasil dalam satu kali <em>shoot</em>. Setelah deepening sebentar dan menemukan dia dalam kondisi relax, saya minta dalam setiap tarikan nafasnya dia menarik energy positif yang di sediakan Allah di alam semesta berupa semangat, keyakinan dan kekuatan. Dan pada setiap hembusan nafasnya  rasa takutnya. Ketakutan akan kegagalan dan ketakutan pada penolakan. Ketika saya bangunkan dia tersenyum lebar.</p>
<p>“Wahhh buuu… josss tenan ini…  rasanya diriku dipenuhi energy positif”</p>
<p>Alhamdulillah.. dan dengan penuh keyakinan meluncurlah ia menghadapi tantangannya</p>
<p>Beberapa hari kemudian saya mendapat kabar bahwa hasil pertemuannya SUKSES. Mr. RX setuju mengambil program asuransi yang jumlahnya puluhan juta per tahun sehingga jumlah totalnya pertanggungannya mencapai ratusan juta. Wow…</p>
<p>Dan dua minggu kemudian dia menulis di laman FB saya, bahwa kini dia lupa rasanya gagal dan selalu penuh semangat menghadapi setiap calon nasabah.</p>
<p>Subhanallah… DASYAATTT….</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2010/08/28/deal-with-people-you-can%e2%80%99t-stand/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jungle Survival &amp; Character Building ‘with NLP’</title>
		<link>http://republiknlp.com/2009/06/10/jungle-survival-character-building-%e2%80%98with-nlp%e2%80%99/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2009/06/10/jungle-survival-character-building-%e2%80%98with-nlp%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 09:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Kartiko Adi Pramono, Licenced Master Practitioner of NLP™ Kurang dari seminggu setelah selesai mengikuti batch pertama Master Practitioner NLP dari Sinergi Lintas Batas, saya memimpin perjalanan survival yang diikuti oleh para initial flight attendants (pramugari baru) di hutan Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi.  Di sana saya mendapatkan 2 macam refreshment. Refreshment pertama adalah, saya mengalami SWITCHING [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kartiko Adi Pramono, Licenced Master Practitioner of NLP™ </strong></p>
<p>Kurang dari seminggu setelah selesai mengikuti batch pertama Master Practitioner NLP dari Sinergi Lintas Batas, saya memimpin perjalanan survival yang diikuti oleh para initial flight attendants (pramugari baru) di hutan Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi.  Di sana saya mendapatkan 2 macam refreshment.</p>
<p>Refreshment pertama adalah, saya mengalami SWITCHING SUBMODALITY EXPERIENCE. Setelah 7 hari berturut-turut di dalam kelas tertutup bersama 11 peserta Master Practitioner lainnya, 1 ‘extraordinary’ trainer dan 4 video shooting crews, yang kesemuanya adalah pria macho, dewasa, tegar dan berwibawa, berubah pada suasana alam terbuka dan menghadapi sejumlah 40-an ‘kinyis-kinyis’ flight attendants yang siap mermanja-manja pada pria manapun yang dapat memberikan perlindungan kepada mereka.</p>
<p>GOOOOOD… REFREEEEESH…</p>
<p><span id="more-134"></span>Refreshment berikutnya adalah meningkatnya kepekaan saya menghadapi ‘kemanjaan’ para peserta, yaitu bisa lebih tajam bisa me-META MODEL apa yang mereka ‘keluhkan’, bersama saya mereka dapat mengarungi STATE OF MIND diri mereka sendiri melalui aplikasi TIME LINE, sehingga para flight attendants tahu kapan harus menempatkan diri dengan STATE OF MIND tertentu, dan tentu saja sambil saya melengkapi para peserta dengan amunisi pembentukan karakter, saya dapat dengan leluasa melakukan CHANGE BELIEF melalui SUBMODALITY REMAP pada setiap negative statement dari para peserta.  (Saya jadi ingat saat latihan CHANGE BELIEF menghadapi belasan sopir taksi di pelataran parkir Hotel Santika).</p>
<p>Pada kesempatan terakhir, di sesi internasilasi, terjadi ‘tidur nyenyak cepat dan sugesti positif masal’ dengan me-UTILISASI semua suara manusia, kendaraan dan hujan di pinggir Situ Gunung. GOOOOOD… REFREEEEESH…</p>
<p>Saya yakin para practitioner NLP telah merasakan dahsyatnya ilmu ini (dan tentu saja terutama akan lebih terasa bagi yang sudah Master Practitioner &#8230; xixixi…), dan yang saya alami lebih dahsyat lagi…  Yaitu tanpa harus saya rencanakan, saat berinteraksi, beberapa tools NLP muncul begitu saja, dan saya baru menyadarinya saat sedang dan sesaat sesudah berlangsung.</p>
<p>Ya, ya, ya… saya jadi ingat mas Ronny pernah mengatakan adanya UNCONCIOUS INSTALLATION…, thanks ya Mas Ronny yang telah menginstal hal-hal positif pada diri saya (disinilah pentingnya memilih trainer yang tepat…!).</p>
<p>Saya bersyukur telah menyelesaikan 2 batch Jungle Survival &amp; Character Building ‘with NLP’ bagi para Flight Attendants kali ini, saya berharap terjadi juga UNCONCIOUS INSTALLATION mengenai karakter dan kebiasaan positif (better habit) pada diri mereka, sehingga mereka dapat mengarungi udara dengan karakter yang lebih baik dan berperan memajukan citra penerbangan Indonesia.</p>
<p>Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2009/06/10/jungle-survival-character-building-%e2%80%98with-nlp%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aduh! Aku Jatuh Cinta Lagi, Pada Dian Sastro</title>
		<link>http://republiknlp.com/2009/05/19/aduh-aku-jatuh-cinta-lagi-pada-dian-sastro/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2009/05/19/aduh-aku-jatuh-cinta-lagi-pada-dian-sastro/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 May 2009 09:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Supartono Muhammad, Licensed Practitioner of NLP ™ Baik. Judul yang menggelitik dan memancing tanya sebelum anda membaca tulisan ini sampai selesai. Saya beruntung sekali dapat menulis pengalaman ini karena saya menyadari jatuh cinta merupakan hal yang sering kali terjadi pada sebagian orang, bagi yang sudah beristri bahkan sangat mengganggu. Dengan membaca pengalaman saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Supartono Muhammad, Licensed Practitioner of NLP ™</strong></p>
<p>Baik.</p>
<p>Judul yang menggelitik dan memancing tanya sebelum anda membaca tulisan ini sampai selesai. Saya beruntung sekali dapat menulis pengalaman ini karena saya menyadari jatuh cinta merupakan hal yang sering kali terjadi pada sebagian orang, bagi yang sudah beristri bahkan sangat mengganggu. Dengan membaca pengalaman saya ini semoga anda bisa membantu diri anda sendiri untuk keluar dari permasalahan yang terkait dengan Jatuh Cinta lagi.</p>
<p><strong>Pengalaman terjadi kira-kira bulan November 2008. </strong></p>
<p>Seperti kebanyakan pria, saya  senang sekali mengkoleksi foto-foto artis yang banyak bertebaran di internet, mulai dari artis luar negeri sampai dengan artis Indonesia. Saya paling senang mengumpulkan foto artis yang bisa ditampilkan pada wallpaper laptop kesayanganku, gambar wallpaper yang sering saya pasang adalah gambar artis Indonesia yaitu Dian Sastro.</p>
<p><span id="more-133"></span>Seperti yang biasa saya lakukan pada artis lainnya, saya mencari foto Dian Sastro yang  paling bagus dan tentu saja dengan gaya yang paling cantik.  Setelah saya pasang gambar Dian Sastro,  tentu saja laptop  kelihatan menjadi segar dan enak untuk dilihat.</p>
<p>Saya punya kebiasaan mengaktifkan ‘<em>quick lauch</em>’ dan segera  mematikan program yang sedang berjalan bisa program tersebut selesai saya pergunakan kemudia hanya  gambar wallpaper saja yang kelihatan, iya benar sekarang yang kelihatan hanya gambar Dian Sastro tersenyum  saja. Asik bener,  saya bisa seolah-olah bertemu dengan artis kesayangan karena wallpaper tersebut saya buat ‘close up’ dan hanya pundak serta wajah saja yang kelihatan, sehingga besar kepala saya dan Dian Sastro relative sama. Bisa membayangkan dong.</p>
<p>Hari-hari berlalu dengan indahnya, sampai pada suatu saat ada hal lain yang saya rasakan …, suatu perasaan yang sama dengan perasaan saya saat jatuh cinta.  Hem …, apakah saya jatuh cinta lagi?&#8230; Masak sih?&#8230; Saya biarkan saja. Semakin saya biarkan semakin nyata gambar itu, warnanya semakin jelas dan warna-warni. Tik tok … tik tok …  biar saja lah  tapi kok setiap selesai bekerja  dan menutup program-program serta melihat wallpaper kok perasaan ini menjadi lain. Gawat!</p>
<p>Pasti ada apa-apa dengan perasaanku kini. Agar perasaan saya nyaman saya ganti wallpaper laptopku dengan pemandangan alam saja, dan gambarpun berganti. Benar ternyata saya terbantu dengan mengganti wallpaper tersebut tapi  ternyata belum cukup karena gambar tersebut berpindah ke dalam pikiranku.<br />
Cukup !!, Ini harus diakhiri batinku meronta.</p>
<p>Benar saja … walaupun gambar tersebut sudah di hapus dari  wallpaper laptopku tapi gambar tersebut tidak terhapus dari pikiranku … gambar tersebut masih tersenyum manis dalam peta pikiranku walaupun peta tidak sama dengan keadaan sesungguhnya (the map is not the territory) tapi nyatanya tubuh ini merespon gambar tersebut layaknya nyata.</p>
<p>Sekaranglah saatnya mengendalikan diri sendiri, kau yang mulai kaulah yang mengakhiri, kau yang menyulut kau lah yang memadamkan. Apa sih yang mengganggu? yang mengganggu adalah gambaran Dian Sastro yang tersenyum manis dipikiranku, berarti ‘submodality visual’ perlu diubah, oke mari kita ubah:</p>
<ol>
<li>Gambar Dian  senyum, oke Dian sekarang kamu jangan tersenyum lagi … saya buat gambar Dian yang tersenyum tadi menjadi tidak tersenyum lagi. Benar, ada pengaruh sayang belum siknifikan. Perlu TOTE nih.</li>
<li>Gambar Dian di jauhkan jangan di depan mata lagi. Dian menjaulah kau dari mataku … Lha kok susah!! Perlu ke minta ijin ke Tuhan dulu rasanya. Kemudian saya  ulang dengan membaca bismillah …,   Alhamdulillah dia sudah mau menjauh. Lanjutkan!</li>
<li>Oke Dian sekarang gambarmu yang sudah tidak tersenyum lagi pelan-pelan menjauhlah seratus meter dari tempatku. Oke  cukup di situ. Ternyata gambar Dian yang telah saya jauhkan seratus meter dari mataku saya sudah tidak mengganggu lagi. Exit.</li>
<li>Selesai! Ternyata NLP mudah dan mempermudah lho… sadari itu.</li>
</ol>
<p>Setelah membaca dengan seksama tulisan saya mungkin anda mulai tergelitik  menggunakan teknik yang sama untuk menghilangkan permasalahan yang sama yang sedang anda alami, berikut adalah tip yang perlu dilakukan:</p>
<ol>
<li>Ingat kembali pengalaman yang membuat anda jatuh cinta (namun yang tidak anda inginkan).</li>
<li>Lalu cek pengalaman tersebut pada masing-masing panca indera (vakog) anda sebagai berikut:</li>
</ol>
<ul>
<blockquote>
<li>Mata: apakah ada gambaran yang terkait dengan kejadian tersebut. Kalau ada mulailah memperkecil gambaran itu, lalu buatlah gambar tersebut menjadi abu-abu kemudian jauhkan sejauh-jauh sampai gambaran tersebut hilang lenyap. (sebagian besar orang akan berhasil dengan cara ini dan seandainya belum berhasil lakukan sebaliknya)</li>
<li>Telinga: apakah ada suara-suara yang terdengar terkait dengan kejadian tersebut.  Kalau ada mulailah memperkecil volume suaranya, kalau suaranya stereo buatlah menjadi mono, lalu buatlah suara yang sudah pelan dan mono tadi menjadi lirih dan menghilang. (sebagian besar orang akan berhasil dengan cara ini dan seandainya belum berhasil lakukan sebaliknya)</li>
<li>Rasa atau sensasi: apakah ada senyum atau sensasi  pada tubuh anda yang terdengar terkait dengan kejadian tersebut.  Kalau ada mulailah menghilangkan senyum yang terkembang terkait buatlah biasa saja,  kalau ada sensasi ditubuh anda seperti panas atau dingin buatlah menjadi netral. (sebagian besar orang akan berhasil dengan cara ini dan seandainya belum berhasil lakukan sebaliknya).</li>
<li>Bau dan Pengecapan: buatlah seperti yang dijelaskan di atas.</li>
</blockquote>
</ul>
<ol>
<li>Lakukan pada semua panca indera anda, kalau sudah berhasil berhentilah dan selesai.</li>
</ol>
<p>Semoga tip sederhana ini bisa membantu anda  dan berbahagilah dengan keluarga anda karena bahagia merupakan pilihan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2009/05/19/aduh-aku-jatuh-cinta-lagi-pada-dian-sastro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Experience With Perceptual Positions</title>
		<link>http://republiknlp.com/2009/02/06/my-experience-with-perceptual-positions/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2009/02/06/my-experience-with-perceptual-positions/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 02:34:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hasni Halim, Licensed Practitioner of NLP ™ Jujur, sampai dengan saya duduk dihadapan lap top ini saya belum tahu apa yang akan saya tulis untuk berbagi pengalaman…Saya percayakan saja alam bawah sadar saya untuk menuntun jari jemari diatas key pad (kan saya ingat pesannya Pa ‘De Bandler: TRUST YOUR UNCONSCIOUS!)… Sampai akhirnya teringat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : </strong><strong>Hasni Halim</strong><strong>, Licensed Practitioner of NLP ™</strong></p>
<p>Jujur, sampai dengan saya duduk dihadapan <em>lap top</em> ini saya belum tahu apa yang akan saya tulis untuk berbagi pengalaman…Saya percayakan saja alam bawah sadar saya untuk menuntun jari jemari diatas key pad (kan saya ingat pesannya Pa ‘De Bandler: <em>TRUST YOUR UNCONSCIOUS!</em>)… Sampai akhirnya teringat pada hari ketujuh dimana kami diminta untuk mempraktekan <em>PERCEPTUAL POSITIONS</em>…</p>
<p>Kami diminta Pa Ronny  untuk untuk mengingat konflik dengan seseorang yang belum terselesaikan… Agak sulit bagi saya untuk dapat mengingatnya, karena saya bukan orang yang suka berkonfrontasi dengan orang lain dan sepanjang yang saya ingat.  Saya tidak punya musuh satu orangpun.</p>
<p>Sampai akhirnya saya teringat kepada anak tunggal saya, sebut saja Ananda umur 17 tahun, dia anak yang sangat baik, halus tutur katanya dan baik budi pekertinya, secara akademispun dia termasuk anak yang pintar di kelasnya, hanya saja ada 1 hal yang sangat mengganjal bagi saya yaitu; Ananda memiliki masalah TIME MANAGEMENT, yang bagi saya Ananda “<em>super duper lelet</em>”, hal ini seringkali membawa pertengkaran kecil dan kejengkelan saya terhadapnya. Nasihat, sindiran sampai bentakan sudah dilakukan untuk merubah kebiasaannya itu.<br />
<span id="more-122"></span>Akhirnya saya putuskan masalah “keleletan” Ananda sebagai <em>pilot project</em> di <em>Perceptual Position</em>… Sesuai dengan pesan Pa Ronny bahwa untuk berlatih pertama kali, pilih masalahnya jangan yang terlalu emosional ya…? (Hm….saya pikir masalah keleletan Ananda bukan hal yang terlalu besar, jadi saya berasumsi harusnya tidak terlalu menguras emosi dan saya pun teringat kalau siang nanti ada ujian Practitioner, kami harus menjaga “mood”…).</p>
<p>4 kursi telah ditata, kursi pertama: saya mengeluarkan unek-unek &amp; kekesalan hati atas keleletan Ananda, mulai dari mandinya yang lama (untuk perbandingan; kita masuk ke kamar mandi pada jam &amp; menit yang sama&#8230;saya sudah ber”make up” dan berganti pakaian, Ananda baru keluar dari kamar mandi&#8230;), saya sudah panaskan mesin mobil, Ananda masih membereskan buku, makan &amp; pakai sepatu&#8230;padahal dia yang meminta saya untuk mengantarkannya ke sekolah dan jam sudah menunjukan pukul 6.50 WIB.</p>
<p>Kursi Kedua; saya meng”<em>associate</em>” diri saya sebagai Ananda&#8230; Saya merasakan bahwa Ananda mengatakan: Saya &amp; Bunda adalah pribadi yang berbeda, jangan paksa saya untuk seperti Bunda.</p>
<p>Kursi Ketiga, saya meng”<em>associate</em>” sebagai kakak tertua saya&#8230; Terdengar beliau menasihati saya bahwa harus sabar dalam mendidik anak&#8230; (Sabar bagaimana lagi? Wong saya sudah memberikan contoh, nasehat..dst&#8230;dst), rupanya saya masih mau mengelak nih.</p>
<p>Kursi Keempat, saya naik &amp; berdiri di kursi ke 4 ini untuk mendapatkan <em>perspektif &amp; kearifan</em> dari Sang Maha Pencipta &#8230; Maaf, kali ini saya tentunya tidak meng”<em>associate</em>” diri saya sebagai Sang Maha Pencipta&#8230; Terdengar: &#8220;<em>Hi umatku&#8230;! KU titipkan anak untukmu sebagai penerus keturunanmu, Hitam dan Merahnya anak mu adalah tanggung jawab mu untuk mendidiknya, dan akan KUminta pertanggung-jawabanmu sebagai orang tua kelak</em>!&#8221;</p>
<p>Begitu turun dari kursi ke4..hati saya tergetar dengan dahsyatnya, tak kuasa menahan lelehan air mata yang semakin deras&#8230;saya tersentak dan tersadar bahwa saya telah memaksakan kehendak saya kepada Ananda agar dia bisa sama gesit &amp; lincah seperti saya atau minimal dia bisa mengimbangi ritme saya&#8230;</p>
<p>Astagfirullah&#8230;! Bukankah beberapa waktu yang lalu -sebelum ikut pelatihan NLP- melalui penggunaan alat tes psikologi saya sudah tahu kalau Ananda adalah tipe: Harmoni – Pemikir?, sementara saya adalah Gaul – Kuasa? (Red: profiling manusia). Secara kuadran saja itu sudah sangat menjelaskan bahwa kita memiliki kepribadian yang 180 derajat berbeda. Orang Harmoni pada umumnya: lambat gerakannya dan tidak bisa dipaksa untuk bergerak cepat (simbolnya saja Koala&#8230;!), sementara saya orang Gaul-Kuasa yang mana dalam hal waktu teramat sangat ”commit” &amp; tidak sabaran (tipe Kuasa). Masalah waktu bagi saya adalah penting, hal ini karena saya sudah terbiasa ”<em>back-to-back meeting</em>” dengan client, sedikit banyak jenis pekerjaan pastinya akan mempengaruhi kepribadian seseorang.</p>
<p>Akhirnya saya menyadari bahwa sifat ketidaksabaran sayalah yang perlu dikompromikan dengan <em><strong>diri saya</strong></em> sendiri&#8230; Duh Gusti&#8230;saya merasa sangat bersalah! Terlalu memaksakan kehendak, padahal kalau ditimbang-timbang sisi baik &amp; positifnya Ananda jauh lebih banyak&#8230; Tetapi mengapa saya seolah menuntut dia untuk menjadi anak yang sempurna di mata saya? Sementara, sayapun jauuuuh dari sempurna.</p>
<p>Ketika saya pulang ke rumah malam itu&#8230; Hati saya siap untuk menerima kekurangan Ananda dimata saya (saya akhirnya sadar bahwa LELET itu relatif&#8230;.lama &amp; cepatnya waktu kan berbeda ukurannya bagi setiap orang), dan saya langsung memeluknya dengan hangat &amp; duduk disebelahnya. Setelah menanyakan aktifitas dia hari ini, saya tanyakan padanya dengan <em>Double Binding</em>: ”<em>Cantik&#8230;.kamu habiskan makan pisang dulu baru mandi <strong>atau</strong> tunggu bibi siapkan air panas untuk mandi</em>?”&#8230;  Otomatis dia menjawab: ”<em>Habiskan makan pisang ini kemudian minta bibi siapkan air panas untuk mandi</em>” (He..he&#8230;berhasil!, kali ini saya menyuruh dia untuk mandi tanpa tarik urut nih!&#8230;enak juga ya?).</p>
<p>Tak lupa saya katakan: ”<em>Nak&#8230;besok pagi kalau mau Bunda antar ke sekolah jam 6.30 harus sudah siap ya</em>”? Dan selanjutnya saya gunakan strategi: <strong>tepatnya jam berapa</strong> dia harus sudah siap&#8230;”<em>Sayang, nanti siang jam: 14.00 kita mau jalan ke Mall, kamu mandi &amp; bersiap ya</em>” (saya katakan ini pada Minggu pagi jam 10.00), dan strategi ini berhasil, karena saya mengatakan padanya jam berapa tepatnya dia harus sudah bersiap &amp; saya serahkan kepadanya untuk dapat mengatur waktunya sendiri&#8230;tanpa harus dipaksa, diburu-buru dan diteriakan: Naaaakkkk&#8230;.cepet dong, ngapain aja sih&#8230;lama banget?????</p>
<p>Pelajaran berharga yang saya ambil dari <em>Perceptual Positions</em> adalah bagaimana kita mau BERDAMAI dengan <em>DIRI kita sendiri</em>. Mudah untuk diucapkan tetapi seringkali sulit untuk dilakukan terutama jika sudah menyangkut EGO kita. Hikmah selanjutnya adalah jika ingin merubah orang&#8230;<em> I GO FIRST!,</em> caranya adalah dengan kita menempatkan diri kita pada posisi dia atau ber”<em>empathy</em>”, menghilangkan ego kita, berdamai dengan hati kita dan kita yang meMULAI UBAH CARA PENDEKATAN ANDA.</p>
<p>Alhamdulillah&#8230;Saya sudah dapat memahami &amp; memaknai arti simulasi Perceptual Positions&#8230; Semoga pengalaman saya ini dapat dijadikan sebagai <em>Excellent Model</em> bagi saya pribadi untuk menghadapi hari hari saya ke depan.</p>
<p>Thanks a lot Pa De’ Bandler &amp; Pa Ronny! You really enlighten my life!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2009/02/06/my-experience-with-perceptual-positions/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bima dalam pelatihanku</title>
		<link>http://republiknlp.com/2009/01/05/bima-dalam-pelatihanku/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2009/01/05/bima-dalam-pelatihanku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 15:37:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Hendry Risjawan, Licensed Practitioner of NLP ™ Pada saat di kelas Practitioner NLP yang lalu, teman-teman masih ingat mengenai latihan naik ke atas time-line khan. Nah saat saya melayang ke atas mengikuti instruksi, maka saya mulai merasakan tubuh saya mulai bergerak seperti wayang. Sempat saya bingung, berasosiasi menjadi apakah diri saya ini? Sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh :</strong><strong><strong> Hendry Risjawan, </strong>Licensed Practitioner of NLP ™</strong></p>
<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Pada saat </span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">di kelas Practitioner NLP yang lalu, teman-teman masih ingat mengenai </span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">latihan naik ke atas <em>time-line </em>khan. Nah saat saya melayang ke atas mengikuti instruksi, maka saya mulai merasakan tubuh saya mulai bergerak seperti wayang. Sempat saya bingung, berasosiasi menjadi apakah diri saya ini? Sampai akhirnya saya merasakan bahwa diri saya berasosiasi dengan sosok Bima.</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Sepulang ke rumah saya langsung mencari data tentang apa dan siapa sosok </span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Bima</span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> ini. Setelah saya menemukannya di internet, akhirnya saya ambil kesimpulan bahwa TUHAN YME memberi kesempatan kepada saya untuk dapat mengakses tokoh </span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Bima</span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> ini pasti ada sesuatunya, dan sesuatu tersebut adalah saya harus banyak berubah, berubah sebagaimana dengan contoh kisah sosok </span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Bima</span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> yang telah mencapai tahapan marifat. Ia telah mengenal dirinya sendiri dan penciptanya. Sebagai satria pinandita, ia melakukan tapa ngrame agar bermanfaat bagi sesamanya. </span></span></p>
<p><span id="more-112"></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"><span style="color: black;"><span style="color: black;">Bima adalah ksatria yang lurus hati, setia, sederhana dan jujur. </span></span>Kalau sudah menjadi tekadnya, siapa saja akan sulit mempengaruhi, bahkan untuk mencapai cita-cita itu meskipun sampai mati akan ditempuhnya juga. Itulah perubahan yang harus saya lakukan. Dan selama kelas <em>practitioner, </em>maka energy </span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Bima</span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> adalah energy yang paling besar saya rasakan.</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Seminggu setelah <em>practitioner</em> NLP saya berangkat untuk memberikan pelatihan <em>hypnopregnancy</em> selama dua hari di Bali. Sebelum saya mulai training saya akses energy </span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Bima</span></span><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"> dan sangat luar biasa besarnya, hal ini membuat diri saya sangat powerfull, tanpa merasakan lelah bahkan peserta yang semuanya adalah ibu-ibu dan sebagian sudah lanjut usia, mengatakan “luar biasa baru kali ini kami merasakan training tanpa merasa lelah dan mengantuk apalagi pada siang hari”.</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Setelah selesai pelatihan tsb, saya langsung mengucapkan rasa syukur yang begitu dalam dan terima kasih luar biasa kepada TUHAN YME. Kemudian, saya juga berterima kasih pada diri saya dan pada &#8216;Bima&#8217;.</span></span></p>
<p><span style="font-family: Verdana; font-size: x-small;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;">Untuk ini saya menghimbau kepada rekan-rekan semua manfaatkan potensi yang telah kita dapatkan selama kelas <em>Practitioner</em> <em>NLP</em>. Thanks utk mas Ronny yang telah membimbing kita semua.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2009/01/05/bima-dalam-pelatihanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Singkirkan BeTe!!!</title>
		<link>http://republiknlp.com/2009/01/05/singkirkan-bete/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2009/01/05/singkirkan-bete/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 15:19:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>republiknlp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://republiknlp.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Henry Yonathan, Licensed Practitioner of NLP ™ Halo semua! Senang sekali bisa berjumpa kembali dalam tulisan ini. Artikel ini ditulis dalam format tanya-jawab (hmmm jadi ingat seperti siapa ya&#8230;?), karena memang aslinya ini terjadi di dunia maya. Sebuah terapi kecil melalui Yahoo Messenger pada bulan November 2008. Klien saya, tepatnya teman, adalah teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Henry Yonathan, Licensed Practitioner of NLP ™</strong></p>
<p>Halo semua! Senang sekali bisa berjumpa kembali dalam tulisan ini. Artikel ini ditulis dalam format tanya-jawab (hmmm jadi ingat seperti siapa ya&#8230;?), karena memang aslinya ini terjadi di dunia maya. Sebuah terapi kecil melalui Yahoo Messenger pada bulan November 2008. Klien saya, tepatnya teman, adalah teman kantor saya yang sebelumnya. Jadi, artikel ini sekaligus menepis “suara-suara” yang mengatakan saya menjadikan tunangan saya “Ginny Pig” &#8211; walaupun memang sih <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Walaupun klien saya ini tidak keberatan nama aslinya ditulis, tapi saya memilih (bukankah hidup itu pilihan?) untuk menyamarkan namanya. Kalimat dalam cetak miring merupakan informasi tambahan dari saya sendiri.</p>
<p>Dengan MULAI membaca tulisan ini, Anda dapat MEMBAYANGKAN kejadian yang saya alami. Semakin Anda membaca, semakin Anda TERLIBAT didalamnya&#8230;..</p>
<p>(09:23:08 PM) Yuli: bingung deh gw ..kenapa ya hari ini orang2 pada bikin gw kesel</p>
<p>Hmmm rupanya dia mengeneralisasi, sebenarnya siapa orang-orang ini? Tidak mungkinkan semua orang.<br />
<span id="more-109"></span><br />
(09:23:10 PM) Yuli: huh</p>
<p>(09:23:11 PM) Yuli: bete</p>
<p>(09:23:29 PM) Ting Li: Bisa pakai reframing</p>
<p>Sebelumnya kita sempat ngobrol mengenai reframing dan jenis-jenisnya. Makanya saya minta dia me-reframe masalah yang dia hadapi.</p>
<p>(09:23:41 PM) Yuli: apa..?</p>
<p>(09:24:09 PM) Ting Li: Me-reframe masalah2 hari ini</p>
<p>(09:24:35 PM) Yuli: bokap rese..temen gw lagi chat enak2 tau2 ngomongnya nyolot..gw ga bales2 lagi ym nya</p>
<p>Oh ternyata ada dua masalah, bokapnya rese dan teman chattingnya ngomongnya nyolot. Emang bisa ya chatting pakai ngomong? Hmmm bisa sih, tapi rata-rata orang chatting cuma pakai teks.</p>
<p>(09:24:36 PM) Yuli: hihihihi</p>
<p>(09:24:44 PM) Yuli: ga tau lah</p>
<p>(09:24:50 PM) Yuli: dah keburu bete</p>
<p>(09:24:58 PM) Ting Li: OK</p>
<p>(09:24:58 PM) Yuli: apa yang lakuin kayanya ga dihargain banget</p>
<p>(09:25:08 PM) Ting Li: Bokap?</p>
<p>(09:25:16 PM) Ting Li: Oh Ok</p>
<p>(09:25:17 PM) Yuli: iya</p>
<p>(09:25:32 PM) Yuli: huhuhuhu..keel banget pokoknya</p>
<p>Saking bete-nya, kesel jadi keel <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>(09:25:38 PM) Ting Li: Gua juga pengen merasakan Bete lu</p>
<p>(09:25:40 PM) Ting Li: Boleh?</p>
<p>Saya mau coba untuk merubah pattern bete dia.</p>
<p>(09:25:43 PM) Yuli: mentang2 lagi ada sodaranya trus ngomel2in gw</p>
<p>(09:25:50 PM) Yuli: padahal dari tadi gw dikamar aja</p>
<p>(09:26:05 PM) Yuli: hahaha..mau ngapain ngerasain bete</p>
<p>(09:26:08 PM) Yuli: ga enak tau</p>
<p>(09:26:13 PM) Ting Li: Serius&#8230; gua mau tau</p>
<p>(09:26:28 PM) Ting Li: Apa yang pertama kali terjadi?</p>
<p>(09:26:37 PM) Ting Li: Sesuatu yg lu liat, lu dengar atau rasakan?</p>
<p>(09:27:06 PM) Yuli: yang pertama bikin bete kalo gw nanya trus ga dijawab..jawabannya malah nanya balik</p>
<p>(09:27:09 PM) Yuli: males banget</p>
<p>(09:27:55 PM) Yuli: trus gw lagi chat ama temen gw&#8230;lagi ngomongin temen gw yang lain..tau2 dia nylot gitu jawabnya padahal gw cuma kasih pendapat gw sendiri dan aga ada nyinggung opendaopat dia</p>
<p>(09:28:36 PM) Yuli: trus gw bilang dia ikut2an gw dengerin lagu westlife..eh dia bilang dia dah dengerin dari tadi sebelom gw</p>
<p>(09:28:45 PM) Yuli: ya ampun lu mau dengerin juga gpp kaliiiii</p>
<p>(09:28:52 PM) Yuli: males banget ym ama dia lagi</p>
<p>(09:28:56 PM) Yuli: ga gw bales2</p>
<p>(09:28:58 PM) Yuli: hihihihi</p>
<p>(09:29:03 PM) Yuli: trus bokap gw..</p>
<p>(09:29:33 PM) Yuli: gw baru aja pegang telpon rumah eh dibilang maenin telpon mulu..mentang2 ada om gw dateng dia seenak2nya ngomelin gw</p>
<p>(09:29:38 PM) Yuli: yang bayar telpon juga gw</p>
<p>(09:29:41 PM) Yuli: rese</p>
<p>(09:29:43 PM) Yuli: huh</p>
<p>(09:30:24 PM) Yuli: huaaaaaaaaaaaaaaaa&#8230;rese</p>
<p>(09:30:35 PM) Yuli: ga enak banget ya kalo kesel tapi ga bisa di keluarin</p>
<p>(09:30:45 PM) Yuli: <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> (</p>
<p>(09:30:46 PM) Ting Li: Ga perlu</p>
<p>(09:31:06 PM) Ting Li: Mau perbaiki suasana hati?</p>
<p>(09:31:52 PM) Yuli: gimana..?</p>
<p>(09:31:59 PM) Yuli: dari tadi gw dah setel lagu keras2 hehehe</p>
<p>(09:32:03 PM) Yuli: nyanyi2 sendiri gw</p>
<p>Ini buktinya bahwa manusia bisa mengntrol emosinya. Hanya masalah strateginya tepat atau tidak.</p>
<p>(09:32:05 PM) Yuli: hehehhe</p>
<p>(09:32:40 PM) Ting Li: Pernah mengalami hal yang paling menyenangkan/membahagiakan dalam hidup?</p>
<p>(09:33:05 PM) Yuli: menyenangkan&#8230;apa ya..</p>
<p>(09:33:09 PM) Yuli: wait..gw pikir</p>
<p>(09:33:11 PM) Yuli: heheheh</p>
<p>(09:33:34 PM) Yuli: gw cuma seneng kalo gw sekeluarga kumpul..ga ada berantem2</p>
<p>(09:33:37 PM) Yuli: itu doang</p>
<p>(09:33:38 PM) Yuli: hihi</p>
<p>(09:33:56 PM) Yuli: oohh yang pasti..pas gw lulus sidang..hhehehhe finally..lulus juga gw</p>
<p>(09:33:57 PM) Yuli: heheheh</p>
<p>(09:34:12 PM) Ting Li: OK</p>
<p>(09:34:19 PM) Ting Li: Jadi lu pilih yg mana?</p>
<p>(09:35:15 PM) Yuli: yang pertama</p>
<p>(09:35:17 PM) Yuli: kenapa..?</p>
<p>(09:36:12 PM) Ting Li: OK</p>
<p>(09:36:17 PM) Ting Li: Ini instruksinya</p>
<p>(09:36:22 PM) Ting Li: Tolong diingat</p>
<p>(09:36:32 PM) Yuli: yes</p>
<p>(09:36:45 PM) Ting Li: Coba lu tutup mata, lalu membayangkan kembali kejadian yg pertama tadi</p>
<p>(09:36:57 PM) Ting Li: Kemudian</p>
<p>(09:37:21 PM) Ting Li: Coba lu masuk ke dalam kejadian itu atau seolah-olah lu sendiri mengalaminya kembali</p>
<p>OK, saya coba untuk memanggil kembali pengalaman yg menyenangkan/membahagiakan dan langsung minta dia associated.</p>
<p>(09:37:32 PM) Yuli: <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>(09:37:46 PM) Ting Li: Kemudian, perjelas warna2 yg lu lihat</p>
<p>Amplify sub-modality visual</p>
<p>(09:37:53 PM) Ting Li: Perbesar suara yang lu dengar</p>
<p>Amplify sub-modality auditory</p>
<p>(09:37:57 PM) Ting Li: Gimana siap?</p>
<p>(09:38:21 PM) Yuli: waaahhh mau di hipnosis ya</p>
<p>(09:38:22 PM) Yuli: hehehehe</p>
<p>(09:38:35 PM) Yuli: ok</p>
<p>(09:38:36 PM) Yuli: mulai</p>
<p>(09:39:14 PM) Ting Li: Klo sudah kasi tau</p>
<p>(09:39:25 PM) Yuli: udah lagi dibayangin</p>
<p>(09:39:36 PM) Ting Li: Iya kalau sudah puas, kasi tau</p>
<p>(09:39:43 PM) Ting Li: enjoy your time</p>
<p>(09:40:10 PM) Yuli: ok</p>
<p>(09:40:12 PM) Yuli: trus</p>
<p>(09:40:23 PM) Ting Li: Now, how you feel?</p>
<p>(09:40:33 PM) Yuli: better</p>
<p>Good feedback, seperti yang diharapkan</p>
<p>(09:40:37 PM) Ting Li: Ok good</p>
<p>(09:40:42 PM) Ting Li: Sekarang</p>
<p>(09:41:07 PM) Ting Li: Bayangkan lu melihat kejadian bokap lu marahin lu, tapi lu diluar kamar</p>
<p>(09:41:20 PM) Ting Li: Jadi lu melihat lu dimarahin bokap, tapi lu sendir diluar kamar</p>
<p>(09:41:27 PM) Ting Li: Atau melihat dari pintu kamar</p>
<p>Sekarang hancurkan pola pengalaman buruknya dengan disassociated</p>
<p>(09:41:44 PM) Yuli: trus</p>
<p>(09:41:51 PM) Ting Li: Lalu suara bokap diperkecil</p>
<p>Hancurkan lagi dengan sub-modality auditory</p>
<p>(09:42:00 PM) Yuli: ;</p>
<p>(09:42:00 PM) Ting Li: Gambarannya diburamkan</p>
<p>Hancurkan lagi dengan sub-modality visual</p>
<p>(09:42:01 PM) Yuli: 0</p>
<p>(09:42:03 PM) Yuli: <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>(09:42:04 PM) Ting Li: OK coba</p>
<p>(09:42:14 PM) Yuli: hihihi</p>
<p>(09:42:15 PM) Yuli: lucu</p>
<p>(09:42:17 PM) Yuli: trus..?</p>
<p>(09:42:37 PM) Ting Li: Gimana sekarang?</p>
<p>(09:42:43 PM) Ting Li: How do u feel?</p>
<p>(09:42:57 PM) Yuli: hihiihihih..</p>
<p>(09:42:59 PM) Yuli: lucu</p>
<p>(09:43:04 PM) Yuli: yaaa better deh dari tadi</p>
<p>(09:43:08 PM) Yuli: heehehheheh</p>
<p>(09:43:15 PM) Yuli: gw bayangain muka temen gw dulu ya</p>
<p>Wah sudah mulai pandai running her own brain <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>(09:43:24 PM) Yuli: hihihi lucu ya</p>
<p>(09:43:49 PM) Ting Li: Ok</p>
<p>(09:43:57 PM) Ting Li: How d you feel now?</p>
<p>(09:44:23 PM) Yuli: feel..ya enak lah..gw dah ga kesel lagi</p>
<p>(09:44:36 PM) Yuli: yang ada gw bayangin muka bokap gw ama temen ge yang gw buremin</p>
<p>(09:44:38 PM) Yuli: hihihihihi</p>
<p>Lucu juga ya, kayaknya dia visualnya cukup kuat. Lebih &#8216;dapat&#8217; waktu memburamkan wajah.</p>
<p>(09:44:42 PM) Ting Li: Well, that&#8217;s NLP</p>
<p>(09:45:02 PM) Ting Li: And, I&#8217;m glad I can help you throw away your bad experience</p>
<p>(09:45:14 PM) Yuli: tengkyuuuuu</p>
<p>Ini kepuasan pribadi tersendiri dalam membantu orang lain. Saya yakin Anda pun demikian</p>
<p>(09:45:23 PM) Yuli: <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>(09:45:34 PM) Ting Li: Np</p>
<p>(09:45:40 PM) Yuli: &lt;:-P</p>
<p>(09:45:43 PM) Ting Li: Boleh gua jadikan ini artikel?</p>
<p>(09:45:51 PM) Yuli: boleh lah</p>
<p>(09:45:55 PM) Ting Li: Nama gua samarkan</p>
<p>(09:45:56 PM) Yuli: kalo udah kasih tau gw</p>
<p>(09:45:58 PM) Yuli: heheheheh</p>
<p>(09:46:14 PM) Ting Li: Atau mau nama asli?</p>
<p>(09:46:28 PM) Yuli: nama asli juga gpp..kan meningkatnkan popularitas</p>
<p>(09:46:30 PM) Yuli: hahahhahah</p>
<p>(09:46:44 PM) Yuli: terserah lu deh mau asli apa samar</p>
<p>(09:46:45 PM) Ting Li: =))</p>
<p>(09:46:46 PM) Yuli: gpp sama aja</p>
<p>(09:46:52 PM) Ting Li: Nama samar aja ya</p>
<p>(09:46:57 PM) Yuli: pada ga kenal juga ke gw</p>
<p>(09:46:58 PM) Yuli: hehehehe</p>
<p>(09:47:09 PM) Yuli: ok</p>
<p>(09:47:16 PM) Ting Li: Hati2, lu ngga akan pernah tau siapa yg kenal lu</p>
<p>(09:47:37 PM) Yuli: hehehe..tukang ojek se-xxxxx dah kenal gw</p>
<p>Sorry, saya sensor tempat tinggalnya klien <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>(09:47:39 PM) Yuli: heheheeh</p>
<p>(09:47:42 PM) Ting Li: =))</p>
<p>(09:48:03 PM) Ting Li: Jangan2 ada Tukang Ojek yg belajar NLP baca di web tempat gua posting artikel</p>
<p>(09:48:04 PM) Ting Li: <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>(09:48:10 PM) Yuli: hahahhaha</p>
<p>(09:48:13 PM) Yuli: dasar lu</p>
<p>(09:48:17 PM) Yuli: mana ada</p>
<p>Penutup</p>
<p>Anda dapat menggunakan cara yang sama untuk menghilangkan bete Anda. Sesuaikan dengan prefered representational system Anda, sehingga hasilnya bisa lebih dahsyat dan efektif. Bila masih belum memberikan hasil yang Anda harapkan, try another method, be flexible. Sampai jumpa pada tulisan selanjutnya, Tuhan memberkati.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2009/01/05/singkirkan-bete/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian dan Hadiah untuk Kekasih</title>
		<link>http://republiknlp.com/2008/11/06/ujian-dan-hadiah-untuk-kekasih/</link>
		<comments>http://republiknlp.com/2008/11/06/ujian-dan-hadiah-untuk-kekasih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 01:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Henry</dc:creator>
				<category><![CDATA[Praktek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ciptarasakarsa.com/artikelnlp/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Henry Yonathan, Licensed Practitioner of NLP ™ Hari ini saya kecapean, setelah kemarin menghabiskan waktu mengantar Wan Cin (my fiancee) belanja kebutuhan workshop, ke bengkel untuk ganti jari-jari roda depan, makan malam di MegaMal dan berkaraoke ria. Pagi ini saya berkomputer ria setelah 8 hari tidak berkomputer ria dengan puas. Akhirnya tubuh saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Henry Yonathan, Licensed Practitioner of NLP ™</strong></p>
<p>Hari ini saya kecapean, setelah kemarin menghabiskan waktu mengantar Wan Cin (my fiancee) belanja kebutuhan workshop, ke bengkel untuk ganti jari-jari roda depan, makan malam di MegaMal dan berkaraoke ria. Pagi ini saya berkomputer ria setelah 8 hari tidak berkomputer ria<br />
dengan puas. Akhirnya tubuh saya memberitahu untuk istirahat dengan munculnya influenza.</p>
<p><strong>Sulitnya Menulis Nama</strong><br />
Sore hari sekitar pukul 4 sore saya bangun dan menghubungi Wan Cin menanyakan keberadaanya. Lalu kami membuat janji untuk bertemu di rumahnya. Sesampainya disana kami berbincang-bincang sambil menunggu nasi matang. Lalu dia minta dihypnosis. Beberapa cara saya praktekan<br />
padanya tapi tidak berhasil. Ini karena dia tidak fokus dan menganggapnya lucu.<br />
<span id="more-30"></span><br />
Selain itu kata-kata saya juga sempat terputus dalam menginduksi dia (no failure, only feedback). Lalu saya ingat sewaktu Mas Fitra di-induksi oleh Pak Yan Nurindra dengan diminta menggambar lingkaran secara terus menerus. Saat teknik ini dipraktekan, Wan Cin jadi tidak dapat menulis namanya walaupun dia sudah berusaha menulis namanya. OK, berhasil, presuposisi NLP sudah mulai terintegrasi, behaviour flexibility.<br />
Jadi ujian dari kekasih saya sudah dijalani dengan baik <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Merasa Bahagia</strong><br />
Tiba saatnya makan <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Kami makan ayam saus (ngga tau saus apaan) dan cap cay. Setelah selesai kami minum teh hijau, hmmm nikmatnya (jadi ingat Pak Hianoto, si NLP kuliner). Sambil menikmati teh, saya lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 18:30 WIB. Lalu saya beritahu Wan<br />
Cin bahwa pukul 19:00 WIB saya akan pulang ke rumah. Dan tidak lupa saya tanya dia apa pengalaman/kerjadian dimana dia merasa bahagia/senang. Dengan mengelicit sub-modality-nya saya amplify kejadian tersebut dan ngengker (baca : Anchor) di bahu kirinya.<br />
Setelah selesai… break state dengan menanyakan proposal thesis temannya. Dan tiba-tiba saya fire anchornya, lalu tanya gimana perasaanya. Dia menjawab senang. Hore!!! The anchor&#8217;s working. Saya beritahu dia, tiap kali merasa gundah coba tekan anchor yang sudah<br />
saya buat.</p>
<p><strong>Masalah dengan Pembimbing</strong><br />
Kemudian pembicaraanpun berlanjut. Dan saya mendengar Wan Cin membicarakan pembimbingnya. Dulu Wan Cin pernah ada masalah dengan pembimbing tersebut. Mendengar itu saya jadi ingat bahwa saya bisa bantu dia untuk menyelesaikan masalah tersebut. Gestalt Therapy, teknik yang saya pelajari hari terakhir di NLP Practitioner, saya gunakan untuk memperbaiki pandangan dan emosinya. Walaupun pada posisi observer dia sempat ketawa-ketawa, karena meminjam figur saya sebagai observer, pada akhirnya selesai juga prosesnya. And guess what? She&#8217;s<br />
now feeling better.</p>
<p><strong>Penutup</strong><br />
Sebelum pulang, saya bilang pada Wan Cin, &#8220;Ini hadiah dari saya sebelum saya pulang ke rumah&#8221;. Tidak lupa mengatakan padanya agar tidak sering-sering memicu anchor, karena akan mengurangi efeknya.</p>
<p>Demikian laporan dari lapangan. <img src='http://republiknlp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
Sampai jumpa di tulisan berikutnya!</p>
<p>Tuhan memberkati!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://republiknlp.com/2008/11/06/ujian-dan-hadiah-untuk-kekasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

