Kisah Inspiratif Para Alumni NLP Practitioner
Sunday May 20th 2012

“Ndemok-Ndemok” Pattern – The Double Ambiguities

Oleh : Rudi Tamrin, Licensed Practitioner of NLP ™

Sementara Anda mempertanyakan judul ditulis di atas, saya sarankan Anda tidak  perlu membayangkan apa-apa terlebih dahulu sehubungan kata “ndemok” tersebut.

Istilah ini saya temukan dari beberapa rangkaian sesi Licensed NLP Practitioner yang saya ikuti pada batch ke-10 yang lalu. Siapa lagi kalau bukan dari trainer yang kita kagumi bersama.

Istilah ini menjadi menarik karena ternyata “NLP” lebih fun(ny) dari apa yang saya bayangkan mengenainya sehingga calon-calon NLP-er yang tadinya serius bisa tertawa juga.

Membayangkan Pak Ronny mengucapkan kata “ndemok” saja, saya sudah terpingkal-pingkal. Apalagi jika beliau melafalkannya dengan logat kesukaannya, Madura, “mok ndemok ta’iye”.

Semakin Anda penasaran dengan istilah itu, semakin banyak pertanyaan yang akan meng-kritisi pattern yang satu ini bukan? Sebab, perasaan mengatakan bahwa Dr. Bandler tidak pernah menciptakan patern tersebut! Wow, begitu seru pelatihan kita ini!

Sambil Anda terus bertanya penuh selidik mengenai hal ini, sebentar lagi saya akan mengajak Anda melihat relevansinya dengan ilmu manusia yang menarik ini, tapi tidak sekarang….!


Adalah seorang bernama Basiyo, pelawak asal Yogyakarta, yang memiliki pattern (pola) lawakan terkenal dengan ciri khas tertentu. Meniru istilah Bpk Putu Darma Putra seorang kawan dari batch 10 juga yang tawanya amat khas, juga istilah dari Asmuni seorang pelawak yang sudah almarhum, Basiyo ini punya lawakan yang ‘cas’. Kekhasan Basiyo adalah kemampuannya dalam memplesetkan sebuah kata sehingga memiliki makna lain. Dalam istilah NLP, gejala bahasa itu mirip dengan Phonological Ambiguity, kata yang berbunyi mirip tapi memiliki arti yang berbeda.

Plesetan ala Basiyo cepat sekali merambah ke bidang lain, terutama sosial dan politik. Sastrawan dan Budayawan Emha Ainun Najib adalah seseorang yang membukukan gejala bahasa ini dalam buku berjudul Oples (Opini Plesetan) tahun 90-an.

Contoh plesetan terkini yang tertangkap oleh pengamatan saya adalah ”kasus Ariel Peterporn cukup membuat heboh kalangan anak muda kita.” Sekali lagi saya tidak minta Anda membayangkan Cut Tari ataupun Luna Maya dalam drama tersebut he..he..he.., tapi bayangkan saja keambiguan kata-kata peterporn ini.

Tentu saja sampai disini, pikiran kita dengan mudah menyimpulkan dan mengingat bahwa Ambiguity memang pattern yang hebat dan penting untuk dipelajari di Sinergy Lintas Batas!

Nah, tentunya Anda sudah tahu bahwa kata Peterporn adalah plesetan dari kata Peterpan, group band yang digawangi Ariel. Ambigu ini mengandung kelucuan dan memplesetkan makna yang menarik…

Begitu akrabnya gejala bahasa itu di telinga kita, sampai-sampai tanpa kita sadari kita sering bermain-main dengan plesetan kata-kata dalam keseharian kita. Ayo mari kita membuat “Kesenangan Rumah” (ini adalah reframing ala Pak Ronny untuk Pekerjaan Rumah) masing-masing 2 contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, “ndemok-ndemok” pattern adalah plesetan Bpk Ronny terhadap salah satu Hypnotic Language Patters, tepatnya “the more…. the more” pattern. Aslinya ini ada dalam rumpun Semantic Ill-Formedness – Causal Modelling or Linkage, yaitu penggunaan kata yang mengakibatkan hubungan sebab di antara sesuatu yang tengah terjadi dan sesuatu yang diinginkan terjadi oleh komunikator, dan mengajak pendengarnya untuk merespon bahwa hal itu yang menyebabkan hal lain.

The more-the more à Ndemok-ndemok…. Akhirnya menjadi plesetan yang begitu kuat, ketika diucapkan dengan intonasi dan logat yang khas. Sekarang saya ajak kita membayangkan bagaimana Pak Ronny mengucapkan ”mok ndemok, ta’iye”.

Wkkkwkkkwkkkk …. menggelikan bukan?!

Makna ambigu lain dari ndemok-ndemok pattern

Di sisi lain, dalam pelatihan itu juga sering dipakai istilah ndemok-ndemok pattern dalam konteks yang berbeda. Tentunya ndemok-ndemok pattern yang ini memiliki arti yang sangat berbeda dengan the more..the more pattern, walau bunyinya mirip apalagi kalau dimirip-miripkan oleh ahlinya.

Di sini, istilah ndemok adalah memiliki arti “memegang” (dalam bahasa jawa). Jadi ndemol-ndemok pattern adalah berarti “kebiasaan / pola suka pegang-pegang si klien”.

Nah, ndemok-ndemok pattern yang ini adalah ‘pattern pengecualian’ yang tidak boleh diakuisisi sebagai tehnik NLP. Kenapa demikian?

Berbahaya sekali, jika kita tanpa sengaja melakukan “ndemok” seorang klien pada saat emosinya sedang intense sekali, karena bisa menjadi suatu anchor!

Semakin kita sering ndemok seseorang dalam sesi coaching atau teraphy, semakin banyak unintended-anchor yang kita tanamkan dalam diri orang tersebut, itupun kalau anchornya tepat dan kontekstual.

Semakin banyak anchor sentuhan yang kita tanamkan dalam diri seseorang, semakin besar kemungkinan terjadi transfer hal-hal yang tidak kita inginkan.

Critical point terjadi di sini.

Singkat kata alih-alih ingin mengcoach atau menghypnosis seseorang, malahan kita yang dicoach atau yang terhypnosis. Beberapa teman saya (berarti lebih dari satu) dulu pernah terjebak dalam pattern yang tidak semestinya ini.

Baiklah…

Candaan ini memang terkesan remeh temeh, tapi pesan yang terkandung di dalamnya begitu amat dahsyat. Di awal pembelajaran saya mengenai NLP, saya bersyukur bisa mengenali warning system “ndemok-ndemok pattern” ini.

Terima kasih.

One Comment for ““Ndemok-Ndemok” Pattern – The Double Ambiguities”

  • agus s. djamil says:

    Pak Rudi,
    Wah seru nih ndemok-ndemok pattern-nya…. :-) Tentu bukan untuk dipraktekkan. Ndemok sekali aja untuk anchor.. atau auditory anchor “ndemok” aja sudah cukup untuk bikin geli dan terpingkal-pingkal.
    Yang maunya “the more the more” patern…eh kok malah jadi patern HLP baru.. makin diingat makin geli aja…dan makin tergambar jelas suasana ruang kelas Prac 10 itu.
    Phonological ambiguity (alias plesetan) khas orang Jogya ini, sejak Basiyo sampai Ronny, memang asyik untuk ‘menghipnotis’ pendengarnya. Anda tentu sudah mikir-mikir untuk memanfaatknya bukan, Pak Rudi.
    Salam kangen untuk semua alumni batch Prac 10 !
    Salaam,

    Agus S. Djamil
    Brunei


Leave a Comment

More from category

EFT & Submodality NLP

Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM) DOR…TAR…TER…TOR…suara petasan bersahut-sahutan…anak-anak [Read More]

Membuang pengalaman buruk dengan Submodality

Oleh : Sugeng Harjono, Licensed Practitioner of NLP (TM) Pengalaman ini sebenarnya sudah terjadi pada sekitar bulan [Read More]

NLP untuk tenangkan anak yang sedang sakit

Oleh : Sari Sasomo, Licensed Practitioner of NLP (TM) Saya mau berbagi pengalaman dalam penggunaan NLP yang sangat [Read More]

Apa Yang Tak Mungkin Dipelajari? Memodel-lah…

Oleh : Endah Kurniadarmi, Licensed Master Practitioner of NLP (TM) Anakku yang bungsu lebih banyak bergerak lewat [Read More]

Insider

Archives