367 viewsPrint This Post Print This Post

Trilogi Sapujagat: # 2 Episode Cermin

Date May 15, 2009

(Sapujagat dikonotasikan dengan seseorang yang serba bisa atau sesuatu yang bisa dipakai untuk apa saja)

Oleh : Bambang Suyono, Licensed Practitioner of NLP ™

Di awal tahun 90an, saya sudah mulai matang sebagai coach dan mentoring setelah 3 tahun belajar dengan cara nyantrik (ngasisteni) manajer HRD di berbagai macam event people development. Salah satunya yang paling saya suka adalah perjalanan keliling nusantara untuk melakukan assessment pada program MDP.  Banyak cara dan teknik yang saya pelajari dari manajer dan Kepala Divisi HRD pada saat mereka menjadi panelis pada event assessment itu. Pengkayaan wawasan, kedewasaan sikap dan kearifan dalam melihat masalah, secara tidak sadar saya modeling dengan intent. Salah satu sifat yang tumbuh kemudian dari mengikuti acara tersebut adalah apa yang disebut coaching intention – keinginan untuk membantu orang lain agar bergerak maju untuk mencapai keinginannya (cita – cita) dengan cara – cara yang positif dan paling sesuai dengan dirinya (Jamie Smart – The Top Secret of Conventional Hypnosis).

Dengan menipisnya elemen buruk yang saya ceritakan di atas dan berganti dengan coaching intention ini, maka saya memasuki babak baru dalam kehidupan karir saya. Sampai suatu hari saya menemukan sebuah premise. Kata menemukan itu berarti pada saat itu saya memang mengalaminya sendiri dan mengambil kesimpulan dari pengalaman itu. Premise itu adalah “bahwa setiap orang menyukai orang lain, karena dia melihat sebagian dirinya ada dalam diri orang itu”.

Kata menyukai merupakan dasar untuk menaruh kepercayaan kepada orang lain dan kepercayaan merupakan elemen penting dalam coaching, counseling dan bahkan therapy sekalipun. Perhatikan dengan baik urutan kalimat saya di atas, kalau anda sedang menjalankan coaching, counseling atau therapy. Get the points …. jadi tidaklah heran kenapa mirroring, pacing ataupun matching berjalan begitu dahsyat ketika membangun hubungan (building rapport).  Pacing anda akan sangat efektif dan dahsyat sekali, jika pada saat itu anda sudah menjadi pribadi yang gampang disukai. Salah satu cara cepat (shortcut) untuk gampang disukai itu adalah melakukan matching dengan lawan bicara anda dengan menggunakan “dirinya sendiri”, menemukan dirinya sendiri dalam diri anda atau mirroring.  Ikuti pelan – pelan kalimat di atas … (dan jangan lupa disassociate / break state begitu setiap kasus selesai).

Teknik ini juga sangat efektif untuk hal – hal yang sangat krusial dan penuh ketidak nyamanan, misalnya memutuskan hubungan kerja (PHK).  Salah satu kasus yang pernah saya hadapi sebagai HRD manager di berbagai perusahaan mengharuskan saya untuk menerapkan aturan yang berkaitan dengan keselamatan (safety) dan kejujuran (honesty) secara hitam putih. Ke dua elemen ini merupakan elemen pokok dalam code of conduct di setiap perusahaan yang saya singgahi. Sementara elemen – elemen yang lain masih bisa jadi ada abu – abunya.

Pada satu sore saya harus menemani seorang supervisor dan manajer produksi untuk memutus hubungan kerja seorang operator. Ke dua atasan langsung itu sudah membawa berkas berbagai pelanggaran yag pernah dilakukan dan berita acara pemeriksaan berisi pelanggaran yang mengganggu rekan kerja dan suasana kerja. Saya baca di BAP bahwa si operator ketahuan mengganti informasi pada surat keterangan dokter setelah dua hari tidak masuk kerja karena sakit. Operator tersebut kemudian dipanggil ke ruang rapat untuk diproses bersama dengan HRD.

Ketika operator tersebut masuk ke ruang rapat, dia masih pakai sepatu boot dengan lengan seragamnya dilinting sehingga kelihatan badannya yang besar dan macho. Disamping itu dia bergaya sangat kasual (informal). Sayapun kemudian menarik lengan baju saya sekenanya (dan saya tidak macho) ketika membuka pertemuan dan gayanya persis seperti yang dia lakukan.  Dari ribuan orang karyawan, tentu saja saya tidak familiar dengan semuanya, tetapi teknik ini membuat operator tersebut dengan cepat ‘melihat dirinya dalam diri saya’.  Singkat cerita, dengan dua atasan langsungnya, dia masih ngeyel, tetapi ketika giliran saya berdialog tidak sampai satu jam, selesai. Pertama, mirroring, kemudian eliciting, dan terakhir setelah timingnya tepat, saya menggunakan teknik perceptual perception.  Selama satu jam, yang terjadi adalah bahwa pengakuan keputusan manajemen memang seharusna demikian. Dalam satu jam itu juga ada tawa, ada tangisan dan ada salaman minta maaf serta terus menjalin hubungan baik. Surat pernyataan di tanda tangani, uang pisah diberikan dan urusan selesai.

Paling penting there was no hurt feeling …

3 Responses to “Trilogi Sapujagat: # 2 Episode Cermin”

  1. Ronny FR said:

    Apik Mas Bambang…
    Keren banget

  2. mastono said:

    wah
    bener-bener sapujagat neh…
    keren

  3. Fitra said:

    Jadi pacing orang bergaya preman juga dgn bergaya preman ya Pak Bambang

    Tulisan yang Menarik & Mendorong nih Pak !

    Barakallah ‘alaik

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>