Oleh : Istoto Suhartoyo, MM, Licensed Practitioner of NLP ™
Menjadi seorang Praktisioner NLP yang konkruen ternyata sangat nyaman. Beberapa kekurangan masih terjadi, namun dengan terus belajar, semakin banyak melakukan dan mempraktekan NLP, semakin banyak hal dalam hidup terbaharui dan termudahkan.
Memahami NLP melalui sebuah proses installment dalam kelas Licensed NLP Practisioner sangat berbeda dengan cara membaca atau mengikuti kelas NLP yang tidak demikian. Tentunya installment yang dimaksud adalah proses pembelajaran NLP yang dilakukan secara dan menggunakan NLP sehingga audience mengalami proses pembelajaran secara bawah sadar. Proses pembelajaran seperti itu hanya dapat dilakukan oleh seorang yang memiliki kompetensi dan sepengetahuan serta se-sistem dengan bagaimana NLP diajarkan di tempat asal muasalnya ilmu NLP itu sendiri.
Di kelas Licensed NLP Pract, menjalani proses belajar di kelas, di mana waktu berjalan begitu cepat tak terasakan, padahal seharian duduk di satu kursi, berpindah karena kursi ditinggal mencari partner berlatih, dan diakhiri dengan ujian sebagai pendalaman penguassaan materi ajar, maka setiap peserta dilepas dan memasuki ujian yang sesungguhnya, yaitu mempraktekan NLP dalam kehidupan sehari-hari. ”Jadilah bagian dari konspirasi Bendler untuk melakukan kebaikan minimal sehari satu kali”, demikian kata sang Guru.
Nah, inilah tantangannya…. kata seorang sahabat sekelas yang sangat pendiam selama dikelas, mengejutkan sekali. Kepada teman lain manakala teman-temannya sibuk mempersiapkan diri untuk ujian di hari terakhir, sementara dirinya mondar mandir dan santai, Ia mengatakan satu kalimat;”Ujian sesungguhnya adalah nanti setelah kita pulang dan melanjiutkan hidup kita….”, demikian katanya. Benar kawan, saya membuktikannya.
Setiap hari ilmu yang di install di kelas itu, kini bermunculan menunjukkan ’giginya’. Ia begitu lincah menunjukkan kata, sikap, perilaku yang tidak konkruen dan sejalan dengan NLP. Wah, dengan NLP di pikiran, layaknya menemukan diri memiliki mesin baru, benar-benar NLP adalah manual untuk optimalisasi pikiran, untuk menghapus yang tidak perlu, dan menginstall yang diperlukan. Pengalaman berikut buktinya.
Sebagai orang Jawa, didikan untuk memilih kata-kata santun dan merendah sangat kuat. Banyak orang menggunakan kata-kata yang men-disempower diri dalam kalimat-kalimat yang diucapkannya, dan telah menjadi kebiasaan hidupnya, seolah itu kalimat yang santun dan bagus. Dengan NLP dapat ditemukan banyak kata-kata itu ternyata yang harus diganti dengan kata lain karena berakibat tidak memberdayakan alias mendiskon kemampuan yang seharusnya lebih menjadi berhenti dan macetdi pikiran. Kalimat-kalimat ini sering kita dengar dikatakan orang:
- ”Saya sudah MENCOBA dengan sekuat tenaga, namun tidak berhasil juga…”
- ”Saking seringnya mencoba berhenti, sekarang ini saya merasa sulit untuk fokus…”
- ”Itu sulit, banyak sekali persoalan yang terlibat di dalamnya, Itu tidak mungkin diselesaikan!”
- ”Mungkin kita harus mencoba dengan lebih keras. Saya ingin ini berhasil”
- ”Jangan mencubit, nanti temannya sakit”, saya mencoba melarang anak yang nakal supaya jangan menjadi pengacau.
Dan tentu masih banyak lagi kata dan kalimat yang sudah sangat biasa kita katakan. Apa yang terjadi dengan pikiran kita, dan bagaimana dampaknya terhadap hidup kita?
Inilah yang dapat saya rasakan, ternyata bila kita maknai setiap kata yang kita ucapkan, dapat saja berakibat pikiran kita terbuka dan kreatif, sebaliknya dapat menjadi berhenti dan stop berpikir.
Kata COBA atau MENCOBA, bermakna dalam pikiran ’itu bukan sungguhan’. Jadi mengapa musti serius? Kata GAGAL itu tidak ada kan? Hanya perlu cara lain. Kata SULIT membuat pikiran kita berhenti berpikir. Demikian juga dengan prase ’TIDAK MUNGKIN’. Apalagi gabungan dari beberapa kata itu sekaligus dalam kalimat seperti kalimat nomor 4, ditambah kata INGIN yang bermakna selalu hanya berada ’sesaat sebelum dilakukan’. Sementara kata JANGAN yang diikuti dengan kata dibelakangnya, pikiran kita akan memikir kata setelah kata jangan itu dan baru berpikir soal jangan, terlambat sudah.
Jadi, betapa hebatnya makna kata dapat mendiskon kemampuan diri kita. Dan tentu sahabat punya contoh lebih banyak lagi untuk di share…
Bagaimana kalimat-kalimat diatas sebaiknya?
- ”Saya melakukannya dengan sekuat tenaga, dan saya masih perlu cara lain untuk berhasil…”
- ”Saya sudah sering berhenti namun saya melakukannya lagi, dan saya masih memerlukan usaha dan cara serta lebih fokus…”
- ”Hal itu banyak tantangannya, semakin menemukan persoalan di dalamnya, semakin kita mendapat tantangan untuk mengerjakan agar segera selesai!”
- ”Mari kita lakukan bersama, Ini segera berhasil”
- ”Ayo, temannya disayang”, saya ajak anak saya belajar menghargai, ia memang kreatif.
Atau dapat juga dengan cara Anda yang berbeda….
Semakin melakukan perbaikan diri menggunakan kata-kata yang positif dan tepat bagi pikiran, hasilnya mendorong terjadinya percepatan perubahan ke arah lebih baik dalam hidup, saya sudah mengalaminya. Jadi apa yang membuat Anda tidak melakukannya juga?










Wahhh..
Sebuah contoh : Walk The Talk…!
Salut mas Istoto!
Wahh menarik sekali untuk dipraktekkan sehari-hari. ditambahin lagi donk contoh2nya. biar lebih mudah utk di aflikasikan dalam kehidupan.
semoga sukses selalu
wahhh telat……………. kok ya baru sekarang saya baca tulisan master Istoto ini………….. luar biasa….
HOPLAH…!!
mas istoto emang gudangnya kata2…yang semakin kita membaca semakin kita terbius untuk lagi – lagi – dan lagi untuk aq copy paste ke otakku….
Setuju mas Istoto , dengan merubah kata-kata terjadi perubahan emosi… dan itu menentukan hasilnya juga..
Benar master Istoto…kata-kata yang dahsyat dan memberdayakan. Terima kasih sharing yang luar biasa mas Istoto