My Experience With Perceptual Positions
February 6, 2009
Oleh : Hasni Halim, Licensed Practitioner of NLP ™
Jujur, sampai dengan saya duduk dihadapan lap top ini saya belum tahu apa yang akan saya tulis untuk berbagi pengalaman…Saya percayakan saja alam bawah sadar saya untuk menuntun jari jemari diatas key pad (kan saya ingat pesannya Pa ‘De Bandler: TRUST YOUR UNCONSCIOUS!)… Sampai akhirnya teringat pada hari ketujuh dimana kami diminta untuk mempraktekan PERCEPTUAL POSITIONS…
Kami diminta Pa Ronny untuk untuk mengingat konflik dengan seseorang yang belum terselesaikan… Agak sulit bagi saya untuk dapat mengingatnya, karena saya bukan orang yang suka berkonfrontasi dengan orang lain dan sepanjang yang saya ingat. Saya tidak punya musuh satu orangpun.
Sampai akhirnya saya teringat kepada anak tunggal saya, sebut saja Ananda umur 17 tahun, dia anak yang sangat baik, halus tutur katanya dan baik budi pekertinya, secara akademispun dia termasuk anak yang pintar di kelasnya, hanya saja ada 1 hal yang sangat mengganjal bagi saya yaitu; Ananda memiliki masalah TIME MANAGEMENT, yang bagi saya Ananda “super duper lelet”, hal ini seringkali membawa pertengkaran kecil dan kejengkelan saya terhadapnya. Nasihat, sindiran sampai bentakan sudah dilakukan untuk merubah kebiasaannya itu.
Akhirnya saya putuskan masalah “keleletan” Ananda sebagai pilot project di Perceptual Position… Sesuai dengan pesan Pa Ronny bahwa untuk berlatih pertama kali, pilih masalahnya jangan yang terlalu emosional ya…? (Hm….saya pikir masalah keleletan Ananda bukan hal yang terlalu besar, jadi saya berasumsi harusnya tidak terlalu menguras emosi dan saya pun teringat kalau siang nanti ada ujian Practitioner, kami harus menjaga “mood”…).
4 kursi telah ditata, kursi pertama: saya mengeluarkan unek-unek & kekesalan hati atas keleletan Ananda, mulai dari mandinya yang lama (untuk perbandingan; kita masuk ke kamar mandi pada jam & menit yang sama…saya sudah ber”make up” dan berganti pakaian, Ananda baru keluar dari kamar mandi…), saya sudah panaskan mesin mobil, Ananda masih membereskan buku, makan & pakai sepatu…padahal dia yang meminta saya untuk mengantarkannya ke sekolah dan jam sudah menunjukan pukul 6.50 WIB.
Kursi Kedua; saya meng”associate” diri saya sebagai Ananda… Saya merasakan bahwa Ananda mengatakan: Saya & Bunda adalah pribadi yang berbeda, jangan paksa saya untuk seperti Bunda.
Kursi Ketiga, saya meng”associate” sebagai kakak tertua saya… Terdengar beliau menasihati saya bahwa harus sabar dalam mendidik anak… (Sabar bagaimana lagi? Wong saya sudah memberikan contoh, nasehat..dst…dst), rupanya saya masih mau mengelak nih.
Kursi Keempat, saya naik & berdiri di kursi ke 4 ini untuk mendapatkan perspektif & kearifan dari Sang Maha Pencipta … Maaf, kali ini saya tentunya tidak meng”associate” diri saya sebagai Sang Maha Pencipta… Terdengar: “Hi umatku…! KU titipkan anak untukmu sebagai penerus keturunanmu, Hitam dan Merahnya anak mu adalah tanggung jawab mu untuk mendidiknya, dan akan KUminta pertanggung-jawabanmu sebagai orang tua kelak!”
Begitu turun dari kursi ke4..hati saya tergetar dengan dahsyatnya, tak kuasa menahan lelehan air mata yang semakin deras…saya tersentak dan tersadar bahwa saya telah memaksakan kehendak saya kepada Ananda agar dia bisa sama gesit & lincah seperti saya atau minimal dia bisa mengimbangi ritme saya…
Astagfirullah…! Bukankah beberapa waktu yang lalu -sebelum ikut pelatihan NLP- melalui penggunaan alat tes psikologi saya sudah tahu kalau Ananda adalah tipe: Harmoni – Pemikir?, sementara saya adalah Gaul – Kuasa? (Red: profiling manusia). Secara kuadran saja itu sudah sangat menjelaskan bahwa kita memiliki kepribadian yang 180 derajat berbeda. Orang Harmoni pada umumnya: lambat gerakannya dan tidak bisa dipaksa untuk bergerak cepat (simbolnya saja Koala…!), sementara saya orang Gaul-Kuasa yang mana dalam hal waktu teramat sangat ”commit” & tidak sabaran (tipe Kuasa). Masalah waktu bagi saya adalah penting, hal ini karena saya sudah terbiasa ”back-to-back meeting” dengan client, sedikit banyak jenis pekerjaan pastinya akan mempengaruhi kepribadian seseorang.
Akhirnya saya menyadari bahwa sifat ketidaksabaran sayalah yang perlu dikompromikan dengan diri saya sendiri… Duh Gusti…saya merasa sangat bersalah! Terlalu memaksakan kehendak, padahal kalau ditimbang-timbang sisi baik & positifnya Ananda jauh lebih banyak… Tetapi mengapa saya seolah menuntut dia untuk menjadi anak yang sempurna di mata saya? Sementara, sayapun jauuuuh dari sempurna.
Ketika saya pulang ke rumah malam itu… Hati saya siap untuk menerima kekurangan Ananda dimata saya (saya akhirnya sadar bahwa LELET itu relatif….lama & cepatnya waktu kan berbeda ukurannya bagi setiap orang), dan saya langsung memeluknya dengan hangat & duduk disebelahnya. Setelah menanyakan aktifitas dia hari ini, saya tanyakan padanya dengan Double Binding: ”Cantik….kamu habiskan makan pisang dulu baru mandi atau tunggu bibi siapkan air panas untuk mandi?”… Otomatis dia menjawab: ”Habiskan makan pisang ini kemudian minta bibi siapkan air panas untuk mandi” (He..he…berhasil!, kali ini saya menyuruh dia untuk mandi tanpa tarik urut nih!…enak juga ya?).
Tak lupa saya katakan: ”Nak…besok pagi kalau mau Bunda antar ke sekolah jam 6.30 harus sudah siap ya”? Dan selanjutnya saya gunakan strategi: tepatnya jam berapa dia harus sudah siap…”Sayang, nanti siang jam: 14.00 kita mau jalan ke Mall, kamu mandi & bersiap ya” (saya katakan ini pada Minggu pagi jam 10.00), dan strategi ini berhasil, karena saya mengatakan padanya jam berapa tepatnya dia harus sudah bersiap & saya serahkan kepadanya untuk dapat mengatur waktunya sendiri…tanpa harus dipaksa, diburu-buru dan diteriakan: Naaaakkkk….cepet dong, ngapain aja sih…lama banget?????
Pelajaran berharga yang saya ambil dari Perceptual Positions adalah bagaimana kita mau BERDAMAI dengan DIRI kita sendiri. Mudah untuk diucapkan tetapi seringkali sulit untuk dilakukan terutama jika sudah menyangkut EGO kita. Hikmah selanjutnya adalah jika ingin merubah orang… I GO FIRST!, caranya adalah dengan kita menempatkan diri kita pada posisi dia atau ber”empathy”, menghilangkan ego kita, berdamai dengan hati kita dan kita yang meMULAI UBAH CARA PENDEKATAN ANDA.
Alhamdulillah…Saya sudah dapat memahami & memaknai arti simulasi Perceptual Positions… Semoga pengalaman saya ini dapat dijadikan sebagai Excellent Model bagi saya pribadi untuk menghadapi hari hari saya ke depan.
Thanks a lot Pa De’ Bandler & Pa Ronny! You really enlighten my life!

Posted in 

content rss
February 6th, 2009 at 6:57 am
Salam “Wow” (pinjam ucapan mas Ronny)
Mbak Hasni, Pengalaman yang mengesankan, sekaligus menginspirasi.
Sehingga saya ikut juga hanyut dalam membacanya.
Karena setidaknya airmata hangat yang membasah itu, sebagai tali cinta yang mengikat.
Sukses, Mbak
February 9th, 2009 at 7:13 am
Begitu hidup, soul-nya nyampe dan maknanya dalam….
Sebaik-baiknya ilmu adalah yang bermanfaat. Bagi saya, bermanfaat adalah “diaplikasikan” dan “bernilai tambah”. Dan ibu sudah mendapatkannya….
Trims untuk self-refectionnya ya bu. Juga berarti untuk saya….
Selamat bu atas quantum leap-nya,
Oki, Julie & Dary
February 10th, 2009 at 4:35 am
Salut bu hasni,
Good articles, saya jadi ikut terinspirasi dari pengalaman bu Hasni.
Sukses ya.
February 10th, 2009 at 6:05 am
Luar Biasa neh Bu Hasni ceritanya ….
Banyak hal dari Practitioner kemarin yang membuat kita melakukan apa yang selama ini sebenarnya kita sudah kita tahu tapi belum dilakukan …..
February 18th, 2009 at 6:59 am
Salammm..
Tulisan yg bagus & mudah dicerna.. sedikit tambahan dari sy, topik “time management-nya” jgn kalo mo antar sekolah, ke Mall, mandi dll. Sebaiknya IBADAH-nya juga dilihat ya bu.. dan untuk kalimat “… nanti siang jam 14:00…” bisa diganti dengan “…setelah Sholat Dhuhur..”, mungkin itu lebih bagus lagi juga memiliki efek yang dlm… oke yaaa…
trims..
by A. Wibowo
March 3rd, 2009 at 2:44 am
Selamat Bu Hasni !
Semoga hubungan dengan Ananda semakin baik & semakin harmonis
Sukses Berpraktek kembali Bu Hasni !
“Salam Empowering!”
Fitra Faturachman
“Empowering Trainer, Empowering You !”
Trainer, Konselor & Coach berbasis NLP + Islam
Licensed Practitioner of NLP(TM) by Dr Richard Bandler / The Society of NLP(TM)
http://www.fitra-fr.com
http://www.empowering-you.info
fitra.faturachman@yahoo.co.id
0856 932 90 479
March 4th, 2009 at 4:10 am
wah bu, anak kita sama tipenya. kalau anak saya leletnya waktu makan. benar2 bikin stress. gimana cara menghadapinya ya? mohon sarannya dong
March 4th, 2009 at 4:11 am
maaf lupa ngasih tau anak saya umurnya baru 4,5 th
March 24th, 2009 at 12:34 pm
mama Hasni…salam kangen dan salam special dr ivon…
mama Hasni pernah bilang gini “ivon tuh klo cerita detiiillll bangeettt…jadi aku selalu associate klo dia cerita…” dan membaca artikel mama Hasni iv juga associate lho…hehehehe
kereeeeeeen banget artikel mama Hasniku yang cuantique ini…bahkan iv sendiri belum berhasil menuliskan artikel seperti mama Hasni telah lakukan..(hehehe…ngaku..) Makasih ya mama Hasniku…sungguh menginspirasi buat ivon…Iv yakin mama Hasni HEBAT…udah gitu cantik pula…
Sukses ya mama Hasni…sun sayang buat mama Hasni dan anandanya ya ma….eemwaaahhh….
love-ivon