(Sebuah epilog – Kelas 60 detik – setelah mendalami presupposition).
Oleh : Bambang Suyono, Licensed Practitioner of NLP ™
Tidak lebih dari 60 detik, anda bisa membelokkan (atau bahkan merubah) “pemikiran” orang yang sedang anda ajak berbicara. Seorang peserta pelatihan mengeluh bahwa dia tidak percaya diri untuk menjual lebih. Saya katakan kepadanya agar memejamkan mata (melihat cahaya biru, menguatkan perasaan dan mendengarkan kekuatan hatinya) dan mengikuti teriakan saya. Sayapun berteriak sekeras – kerasnya “Saya bisa…saya bisa … ” sebanyak tujuh kali. Diapun mengikutinya sekuat – kuatnya sampai suaranya habis. Apa yang terjadi kemudian?.
Saya minta dia ambil salah satu nama prospeknya, melakukan visualisasi, auditory dan kinesthetic atas prospek tersebut. Melakukan penguatan mengenai selling power yang dia miliki sekali lagi dan mengakses sang prospek dalam pikiranya, menarik sang prospek dengan kuat secepat – cepatnya ke dalam medan energinya atau frekwensinya. kemudian menelpon sang prospek. Boom … setelah beberapa menit berlalu, ada pacing, ada leading, ada tertawa – tawa, suasana yang cair dan santai … dan diakhiri dengan closing the deal.
Tidak lebih dari 60 detik, anda bisa membantu orang untuk tidur lelap, nyaman,rileks dan damai serta bangun dalam keadaan lebih segar dan lebih sehat. Siang itu Fika (anak bungsu saya) dan saya baru pulang dari toko buku. Kami membeli beberapa buku sebagai hadiah atas nilai ulangannya yang bagus. Di tengah jalan, ketika memasuki gerbang tol, Fika mengeluh tidak dapat tidur enak sejak dua hari, karena badannya capai sehabis ujian olahraga dan stress karena ujian tulis beberapa hari lalu. Saya bilang “Fika dengarkan kata – kata papa yaa … supaya Fika bisa tidur nyaman dan mimpi indah”.
Sayapun mulai melakukan induksi sambil tetap menyetir mobil. Supaya tidak ribet, maka saya pindahkan obyeknya ke depan saya, sambil terus menyampaikan pesan kepada Fika. Fika tertidur lelap di samping kiri saya yang tetap sedang menyetir. 60 detik lalu, Fika masih tertawa – tawa dan melecehkan karena mengangap bahasa dan tone suara saya sangat lucu, ketika menginduksi dan “menghipnotis” dia untuk tidur lelap.
Tidak lebih dari 60 detik, anda bisa membantu orang lain untuk mempunyai keyakinan bahwa dia bisa lulus TOEFL. Hari itu pukul 11.30, saya sedang hendak berangkat sholat dhuhur di masjid dekat rumah, karena sedang tidak ada acara apapun. Tiba – tiba Ratih, putri pertama saya, memanggil dan sayapun berhenti memperhatikan ceritanya. Ratih bercerita bahwa dia sedang akan mengikuti ujianTOEFL untuk syarat kelulusan S1, tapi dia sendiri ragu – ragu apa bisa langsung lulus, selain belum pernah ikut, juga karena tiga temannya sudah tiga kali ikut ujian dan tidak lulus terus.
Sayapun memberikan beberapa tips bagaimana mencapai skor TOEFL yang baik. Lalu menginduksi dia sebentar agar dia lebih rileks serta berjanji untuk mengantarnya ke tempat test setelah sholat. Di perjalanan, di dalam mobil, saya mulai melakukan induksi lagi agar dia tidur dengan rileks dan nyaman. Alasannya sederhana dengan kondisi rileks, segar dan nyaman, maka mengerjakan soal TOEFL akan jauh lebih mudah. Diapun tidur sekitar 20 menitan. Menjelang gerbang kampusnya, dia saya bangunkan dengan perasaan yang sangat segar. Lalu saya minta dia memodel siswa yang paling tinggi skor TOEFLnya.
Dia bilang tidak punya referensi. Tapi Ratih cerdik juga, dia tanya “papa skor TOEFLnya berapa waktu belajar dulu, khan lebih mudah memodel papa, karena tiap hari aku tahu bagaimana kebiasaannya dan lain – lainnya”. Sayapun lalu menyebut angka tertinggi saya waktu itu. Dia bilang “enggak usah segitulah, yang penting aku lulus, 475 ajalah yang penting cukup untuk lulus, sudah 15 point diatas standard”. Okelah, mulailah saya menuntun dia untuk modeling, mirroring diri saya sendiri, sambil mengajari sedikit tentang future pacing. Tepat 1 menit, pukul 12.57, kami sampai di gerbang fakultas hukum. Pukul 19.00, sebuah teriakan terdengar dari pintu rumah saya, mengejutkan semua orang yang lagi nonton tv. “mana papa, mana papa” teriak Ratih. Saya yang sedang berada di ruang lain muncul karena teriakannya. Dia menghambur ke pelukan saya dan menciumi saya sambil histeris berteriak “it’s a magic papa, aku lulus, aku lulus TOEFL, skornya 465”. Ternyata dia tidak dapat skor 475, tetapi dia lulus 15 poit di atas standard lulus 450.
Seorang teman di pagi yang dingin bulan ini, kira – kira pukul enam pagi, mengirim sms yang berbunyi “maaf pak, janji kita ketemu terpaksa saya batalkan, karena tadi malam sehabis rapat, badan saya kedinginan, tulang linu – linu, teler dan gak bisa bangun sampai pagi ini”. Saya jawab “ok, pak, istirahat saja & get well soon”. Beliau menjawab lagi dengan “tks pak. Tolong kirim energy positif dari master NLP”. Saya agak terpana dengan menggumam apa maksudnya, tapi saya segera mereframing mind saya dengan “ehm berarti bapak ini meminta bantuan dan membuka diri untuk menerima bantuan saya”.
Saya pun segera balik sms “pejamkan mata dan lihat warna biru terang … dan terima warna biru itu dengan kesungguhan untuk masuk ke dalam diri anda … SEKARANG … katakan dengan kuat asale waras balik waras* WUSS … kun fayakun … terjadilah kesembuhan dengan kehendakMU … “. Keesokan harinya kami bertemu, beliau menyatakan setelah menerima sms itu dan menjalankannya beliau merasa lebih nyaman, kemudian bisa tidur tenang. Setelah bangun dari istirahat, minum obat dan vitamin, beliau mulai pulih dan datang ketemu saya.
Walaupun saya lihat wajahnya masih pucat, tapi sinar kesegaran mulai tampak. Ini juga yang saya maksud dengan process chain yang harus dilalui, ketika beliau menerima swish pattern via sms, maka proses yang berjalan adalah (acceptace) menerima sakitnya, perubahan ke lebih segar dan nyaman, mengikuti keinginan tubuhnya untuk istirahat, mengabaikan handphone-nya (otaknya istirahat dari radiasi), makan, minum vitamin, dan seterusnya. Yakinlah … kita sudah dibekali dengan kesempurnaan … untuk survive di dunia ini. Secara sunnatulloh tubuh kita waktu lahir sangat sehat wal’afiat. Kalau ada yang lahir tidak sehat, maka ada pertanyaan besar yang perlu dijawab oleh kita sendiri (dalam proses awal sampai sang bayi lahir, apa yang salah atau tidak diikuti prosesnya … ingat segala kerusakan di bumi, lautan dan udara adalah akibat ulah manusia …). Jadi kalimat orang jawa asale waras bali waras itu punya arti yang dalam. Kembali ke fitrahmu.
Itu beberapa contoh dari pengalaman saya, semoga bermanfaat untuk teman – teman, sidang pembaca republic NLP.
Kajilah presupposition, tingkatkan kemampuan submodalities, pahami makna – makna yang lebih dalam dan semakin dalam, temukan mutiara keindahan dan kedahsyatannya disana, maka terapan swish pattern, six step reframing, dan lain – lainnya yang ingin anda pakai sebagai tools, akan menjadi semakin dahsyat, congruent dalam diri anda. Anthusias* untuk menerapkan NLP utuk membuat kebajikan.
* Konon katanya, kata anthusias berasal dari kata entheos (en – di dalam, theos – tuhan). Heem … apa artinya ?. Temukan maknanya.
* Sekali lagi saya beruntung saat pelatihan SLB Pak Ronny membuat katagori kelulusan secara mendadak sebelum ujian dimulai, salah satunya adalah Lulus HGB (dengan catatan Harus Giat Berlatih), kalau anda tidak giat berlatih mengolah kemampuan, olah rasa, olah raga, sebagai pemula anda akan merasakan pusing dan lapar sekali, ketika melakukan adegan – adegan di atas sambil menyetir mobil.









