Pesona NLP (1)
January 20, 2009
(Prologue – menuju NLPer, sebuah Reborn)
Oleh : Bambang Suyono, Licensed Practitioner of NLP ™
Bulan itu adalah bulan Juli 2008. Bulan ke lima saya beristirahat pasca operasi kantung empedu. Dalam kurun waktu lima bulan (Pebriari – Juli) itu saya membuat rencana kasar sebagai hadiah kepada raga saya yang telah sudi menemani saya sampai di usia sekarang, yang telah sudi beristirahat dari rutinitas dan paling penting kepada hati saya yang membuat keputusan berbeda tanpa keraguan dan penundaan. Kenapa hati saya ?. Karena biasanya saya dalam memutuskan sesuatu melalui terlalu banyak detil dari sayatan pisau analisa (mind) sehingga akhirnya banyak hal baru terlewatkan. Ada banyak keraguan dan kegalauan untuk takut berhasil atau gagal.
Contoh, saya pernah membuat rencana besar untuk membuat integrated business zone yang terdiri dari beberepa bisnis yang berkaitan, investasi dan business plan sudah dibuat, giliran sudah siap untuk implementasi, ada keraguan. Bagaimana kalau rencana ini nanti berhasil, padahal saya masih terikat dengan pekerjaan (current jobs) ?. bagaimana kalau diserahkan ke orang lain dulu, tapi bagaimana kalau gagal, karena orang lain belum tentu tahu strategi, taktik dan detil lainnya?.*
* Setelah saya belajar NLP, ternyata pertanyaan semacam ini tidaklah salah, memang harus dipersiapkan secara mental dan dimunculkan untuk dijawab oleh pikiran (mind) kita pada awal melangkah hendak menuju desired states. Dalam NLP pertanyaan – pertanyaan ini merupakan sebuah rantai process dalam WFO atau change process using NLP. Pertanyaan – pertanyaan ini justru harus dimunculkan dan dijawab melalui eliciting the present states. Bahkah bila ini dilakukan melalui eliciting & calibrating submodalities akan menjadi lebih kuat (powerful).
Saya sangat menyadari kondisi di atas dan kapan pemicunya itu ada dalam diri saya, saya tidak pernah mencarinya. Penguatan orang – orang di sekitar saya atas hasil kerja saya dengan kata – kata pujian smart and comprehensive analysis atau wise and careful toughts membuat saya semakin comfort dengan kondisi ini. Disisi lain, walaupun pada akhirnya hasil analisa itu benar adanya dan kejadiannya sama persis dengan hasil otak – atik otak saya, saya sebenarnya tidak pernah merasakan hal – hal baru. Bagaimana bisa dibilang menang, bila tidak ada peperangan atau kekalahan. Bagaimana bisa dibilang berhasil, bila tidak berani mencoba. Jadi saya selalu menang untuk mempertahankan old framework atau tidak pernah keluar dari kepompong untuk menjadi kupu – kupu.
Maka tanggal 24 Januari 2008, pukul 20.00, di malam yang gelap itu, ketika dokter membaca hasil tes laboratorium organ dalam saya dan mengatakan “Pak malam ini langsung opname dan besok dokter bedah akan mengevaluasi kondisi bapak, kalau ada kamar di RS ini serta kondisi bapak memungkinkan, dua hari lagi bapak akan dioperasi. Jangan khawatir dengan ilmu pengetahuan saat ini, dua hari berikutnya, bapak sudah bisa pulang dan seminggu kemudian bisa beraktivitas kembali”. Saya menyatakan setuju, tanpa analisa atau detil apapun, bahkan tanpa pertimbangan istri saya yang persis ada disamping saya waktu itu.
Setelah operasi berlangsung, ternyata hasil analisa yang seharusnya dioperasi dengan laparaskopi atau bahasa awamnya dioperasi pakai laser yang menyisakan hanya dua lobang kecil di perut saya, berbeda sama sekali. Hasilnya bukan dua lobang kecil, melainkan sayatan sepanjang 20 centimeter melintang di perut saya sebelah kanan. saya tidak menyesalinya. Banyak orang mengatakan saya terburu – buru atau ada yang nyeletuk “kenapa tidak pakai pengobatan alternative dulu”, ketika melihat sayatan sepanjang itu di perut saya. Sayapun hanya tersenyum. Saya lebih bahagia dan semakin bisa menerima sayatan panjang itu, ketika beberapa sms yang saya terima menyatakan “sakit, bila kita menerimanya dengan ikhlas, merupakan tanda – tanda pengampunan dosa kita di masa lalu” . Amin.
Dari keputusan itulah, saya perlu memberi hadiah kepada diri saya sendiri. Hadiah itu berupa pelatihan karena sudah empat tahun saya tidak pernah mengikutkan diri saya sendiri ke pelatihan manapun. Kalaupun saya menjadi peserta pelatihan, hal itu saya lakukan karena saya dikirim oleh atau menjadi wakil dari perusahaan. Saya menetapkan tiga pelatihan yang akan saya ikuti pada kuartal empat 2008. Salah satunya adalah mengikuti pelatihan NLP dan dua lainnya juga telah tuntas pada akhir tahun lalu. Keputusan saya pergi ke SLB dan justru menjadikan sebuah berkah kepada kehidupan saya dalam beberapa bulan ini. Bukan karena sertifikatnya, tetapi karena keajaiban lain yang saya dapatkan setelah itu.
Jadi beranilah melangkah mengikuti rencana – rencana yang anda buat, dengarkanlah kata hati, dia adalah guiding light dalam melangkah. Banyak resolusi dibuat pada tahun baru, di akhir tahun kondisinya sama juga, yang beresolusi stop smoking, ternyata malah jadi harder smoker. Ini karena tidak mengikuti change process dalam WFO, tidak mengelicit, mengcalibrate, bahkan tidak melakukan ekologi, parahnya ketika change process berjalan, kita tidak berani menjalaninya. Contoh, ketika WFO kita adalah berhenti merokok, maka change process chain berjalan, dan sampai pada badan gemetar, kepala pusing, karena darah kita meminta nikotin sebagai supplement. Kita malah menyerah dengan mengambil sebatang rokok ditambah dengan excuse (dalam kamus hukum hal ini disebut alasan pemaaf dan pembenar) yakni “memang stop smoking tidak boleh langsung harus bertahap”. Aneh. Padahal badan gemetar dan kepala pusing dalam process chain itulah seni dan sensasi yang harus dinikmati dalam mind games …
Cerita tentang NLP
Saya baru tahu ada ilmu terapan namanya NLP tahun 2004, walaupun saya suka mempelajari ilmu tentang pikiran sejak masih belia. Saya baca dari berbagai referensi yang ada di internet, juga belajar dari para staff di kantor, yang baru dikirim untuk ikut kelas NLP di beberapa pelatihan di Jakarta. Saya merasa bahwa kalau dilihat dari hasil akhirnya, NLP terapan hampir sama dengan ilmu – ilmu yang saya telah dianugerahkan kepada saya, bedanya cuma NLP lebih terstruktur. Instant.
Sampai akhirnya saya dihantarkan ke pelatihan NLP practitioner di SLB. Apakah SLB pilihan utama saya?. Bukan. Setersohor apapun Pak Ronny, saya awam dan tidak kenal beliau sama sekali. Teman saya yang berniat datang, tapi tidak jadi, kemudian meneruskan iklan pelatihan kepada saya. Saya langsung menelpon pak Henry dan berikutnya terima formulir pendaftaran dari SLB. Transfer pembayarannya. Selesai dalam waktu tidak lebih dari satu jam. Hanya ada satu keyakinan untuk menuntaskan rencana – rencana saya sebelumnya tanpa pakai ribet alias njlimet. Ikuti kata hati (yang sudah lama tertinggal entah dimana).
Tujuan saya ke SLB saat itu untuk bersenang – senang dan mengembalikan touch feeling saya, setelah lama tidak berlatih. Mohon maaf kalau di kelas saya pasif, diam atau mungkin tidak aktif. Tapi sebenarnya saat itu saya sedang menyerap ilmu dan energy positif berupa kegairahan (passionate) belajar dari seluruh peserta (yang rata – rata anak muda) sekaligus trainernya. Ingat pada hari pertama, trainer menyatakan (kurang lebih) begini “ketika saya belajar NLP di kelas Richard Bandler, peserta dilarang nulis, merekam, kegiatan satu – satunya adalah memerintahkan alam bawah sadar untuk menyerap semuanya, tapi di kelas ini nulis masih boleh koq”. Maka ketika itu saya tersentak kaget, karena hal itulah yang telah saya niatkan dari rumah untuk saya lakukan selama pelatihan, mengingat saya tidak kenal sama sekali tentang NLP. Heem .. sudah beberapa kali kebetulan yang datang kepada saya setelah mengikuti kata hati bukan kata pikiran. Kenapa saya berani mengatakan kata atau kekuatan (cahaya) hati, karena hal ini bisa terjadi ketika kita berada pada no mind atau knowing nothing state. Bukankah ini berarti ketika pikiran (mind) berhenti, maka kekuatan lain yang menggerakka. Kalau secara kasar manusia terdiri dari raga (Body) , pikiran (Mind) dan hati atau jiwa (spirit, maka hatilah yang menggerakkan. Mudah – mudahan saya bisa menuliskan kekuatan NLP dengan bersandar pada kekuatan (cahaya) hati pada kesempatan lain.
Pasca Pelatihan di SLB
Ternyata setelah selesai pelatihan, malah menjadi lebih menarik, karena beberapa hal yang mendasar dan dianggap dasar seperti presupposition memerlukan kajian dan perenungan yang lebih dalam. Disini saya menemukan tautan, kaitan, ataupun persinggungan NLP dengan “ilmu – ilmu” yang dianugerahkan kepada saya terlebih dahulu.
Ketika pertama portal ini diluncurkan, Pak Ronny menulis beberapa kalimat sebagai pembuka dan inspirasi bagi para alumni NLP Practitioners SLB. Kalimat itu adalah beberapa presupotition sebagai dasar pembelajaran pilar NLP.
Kemudian Pak Yan, salah satu mentor di kelas practitioner, juga menulis tentang pendapat Pak Ronny di sebuah milis lain. Ketika itu Pak Yan mengundang Pak Ronny di kelas beliau sebagai observer dan beliau merasa banyak hal yang lebih membukakan pintu pikir dalam mengenal NLP lebih dalam dibandingkan pencariannya sendiri selama bertahun – tahun. Beliau mengatakan menurut Pak Ronny NLP is a methodology and also attitude. Pada bagian akhir tulisannya, beliau menyatakan “temukan roh NLP”.
Ajakan – ajakan tersebut seakan mengajak saya, yang masih gagap NLP, untuk menyelam ke dasar lautan khasanah ilmu atau lebih tepat dikatakan khasanah perenungan guna mencari pemahaman lebih jauh atas makna kalimat – kalimat itu.
Dalam beberapa bulan selepas dari pelatihan itu, saya merasa terlahir kembali (reborn), lebih segar, lebih fit, lebih beruntung dan semakin bersyukur atas anugerah berada di kelas SLB di akhir bulan Oktober 2008 itu. Dalam kehidupan profesional saya, aktivitas saya menjadi lebih meningkat. Saya telah hadir di berbagai diskusi jalanan, di emperan masjid, kantor, pelatihan maupun diskusi mandiri (manja – manja sama diri sendiri). Kehadiran saya disana adalah membuktikan pelajaran – pelajaran yang saya dapat dari kelas SLB. NLP is an attitude. The Map is not the territory. Behind every behavior has a positive intention.
Hebatnya adalah dengan mendalami khasanah presupposition itu, maka terapannya justru sangat dahsyat. Tapi sebelum saya menulis tentang hal – hal yang saya baru temukan atau ketahui itu, ada baiknya saya tuliskan pengalaman terapan – terapannya saja dulu, karena ini adalah hasil praktisnya sebagai alumni kelas practitioner SLB. Ikuti kisahnya di kelas 60 detik.

Posted in 

content rss
Recent Comments