Oleh : Hendri Harjanto, Licensed Practitioner of NLP ™
Selamat tahun baru saya ucapkan buat rekan-rekan dan pembaca sekalian. Tahun 2008 telah berlalu dengan segala hal yang perlu kita tingkatkan dan tentu saja kita syukuri.
Baru tiga tahun ini saya melakukan “ritual” yang bahasa kerennya New Year Resolution. Saya menuliskan impian-impian saya yang ingin saya capai tahun itu. Beberapa hari yang lalu saya dibuat kaget dan sekaligus bersyukur ketika menemukan catatan mimpi saya 1 dan 2 tahun yang lalu. Betapa kagetnya ketika saya menemukan dan membuka kembali catatan mimpi saya tersebut dan menemukan banyak mimpi yang telah saya raih tahun ini, bahkan yang waktu saya tulis “kelihatannya” tidak mungkin. Saya bahkan saat itu baru sadar bahwa saya pernah menuliskannya.
Cerita diatas saya sharingkan untuk mengawali tulisan saya tentang impian atau istilah kerennya dream.
DREAM
Setiap orang tentunya punya impian. Impian adalah bahan bakar yang selalu membuat kita terus maju. Tanpa mimpi (dream) kita akan merasa hampa dalam melakukan suatu hal. Menjadi mimpi setiap orang untuk bisa sukses. Karena pada dasarnya semua manusia ingin sukses. Namun apakah ukuran sukses itu sendiri?
Saya tidak mengatakan sukses identik dengan pencapain financial saja. Ukuran sukses setiap orang sangatlah subjektif. Kita harus menentukan definisi sukses kita sendiri
Lanjutkan kalimat di bawah ini tanpa analisis dan berfikir panjang:
Sukses adalah….
Saya merasa sukses jika….
Dua kalimat diatas sepertinya sederhana namun hal itu menjadi pondasi mendasar dalam kita menggapai kesuksesan kita. Dengan menjawab hal itu kita bisa mengetahui belief kita tentang sukses. Belief dalam Neuro Logical Level berada tataran yang tinggi yang langsung berpengaruh pada capability, behavior dan environment. Artinya dengan mengganti belief maka kita bisa merubah kapabilitas ataupun juga perilaku kita. Dengan mendefinisikan sukses kita bukan hanya tahu ukuran sukses kita tapi jika kurang mendukung bisa kita ganti dengan definisi yang lebih sesuai.
Jangan ikutan mimpi orang lain. Kita punya jalan sukses sendiri.
Saya meyakini bahwa manusia di lahirkan ke dunia mengemgban misi masing-masing. Coba anda bayangkan kalau semua manusia jadi presiden siapa yang kan jadi rakyatnya. Kalau semua jadi dokter siapa pasiennya?. Misi hidup itulah yang menurut saya ada dalam hati setiap orang yang menjelema menjadi passion seseorang.
Jadi ketika membuat mimpi harus bersifat personal dan bermakna. Artinya mimpi harus berasal dari hati nurani dan punya makna dan alasan yang di dalam impian itu. Kenapa personal dan bermakana? Karena jika suatu impian personal dan bermakna itu menandakan sesuai dengan value-value. Ketika impian yang kita buat sesaui dengan value-value kita maka impian pasti membawa muatan emosi positif yang sangat besar mendorng kita membangkitkan motivasi dari dalam diri untuk mencapai impian yang sudah kita tetapkan
Juallah mimpi ke Subconsious
Kita jarang mengajak subconscious kita bekerja sama mengejar impian kita. Padahal Subconsious adalah gudang kreatifitas dan bahkan ada yang menyebutnya pintu penghubung dengan alam semesta. Ketika Subconsious bisa kita ajak kerjasama maka pikiran kita akan dengan mudah meng attract sesuatu yang kita perlukan untuk mencapai apa yang kita inginkan, sekaligus juga mengarahkan kita untuk melakukan atau menggerakkan kita supaya semakin dekat dengan impian kita.
Pikiran bawah sadar mau membantu kita mencapai impian yang kita tetapkan kalau kita mampu “menjual” impian kita kepadanya. Bagaimana cara kita menjual mimpi ke subconscious? Kita harus bisa berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar yaitu dalam kondisi rileks (alpha-theta) dengan memasukkan minimal tiga submodality (Visual, auditori, kinestetik) dan juga submodality yang tepat. Ada berbagai cara yang bisa dipakai salah duanya adalah dengan visualisasi dan timeline.
Impian, pikiran dan NLP
Terus apa kaitan antara pikiran dan impian? Sangat erat. Pikiran punya dua prisip kerja yaitu attraction dan direction.
Vibrasi pikiran akan meng-attract atau menarik sesuatu yang punya vibrasi yang sama dengan vibrasi pikiran itu. Positif akan menarik positif dan sebaliknya.
Prinsip kedua adalah direction, kita bisa dengan sadar mengarahkan energi kita kepada suatu sasaran tertentu.
Dari dua sifat pikiran itulah, kita bisa melihat ternyata yang namnya keberhasilan hidup bermula dari pikiran kita.
NLP adalah manual untuk memaksimalkan pikiran kita. Bagaimana aplikasi NLP untuk memaksimalkan dua hal diatas? Dalam NLP ada satu tool yang dikenal dengan WFO kependekan dari Well-Formed Outcome.
Ketika membuat impian kita harus memenuhi syarat dibawah ini:
1. Nyatakan dengan positif dan spesifik
2. Terkendalikan, dapat dicapai tanpa menggantungkan pada orang lain
3. Melibatkan bahasa yang sensory based (visual, auditori, kinestetik)
4. Ekologis- memastikan impian berdampak positif pada semua bagian, tidak ada bagian yang dirugikan.
Saya menambahkan sendiri versi saya dalam membuat impian, diakhir setiap outcome atau impian saya beri “….atau yang lebih baik”
Begitulah saya memahami mimpi dan NLP, siapa tahu berguna buat pembaca semua.
Salam Super NLP!!!










Superb Hend…
Keep on writing!