Kisah Inspiratif Para Alumni NLP Practitioner
Thursday February 9th 2012

Behavior Flexibility 2 : Let’s The Show Begins

Oleh : Bambang Suyono, Licensed Practitioner of NLP ™
Pagi yang dingin dan bening itu membawaku meniti angin, melintasi awan – awan, langit dan angkasa yang semburat dengan warna merah jingga, sinar – sinar putih kemilau matahari yang masih jauh disana. Menimbulkan sensasi awal hari yang luar biasa. Syukur dan segala puji bagimu, Sang Maha Agung. Senyum serta salam perdamaian aku tebarkan dengan hati yang penuh kasih kepada siapa saja yang melintas atau berpapasan pagi itu.

Pagi itu saya enggan untuk berurusan dengan hal – hal yang berkaitan dengan “keruwetan”, misalnya jalan raya. Oleh sebab itu saya menyewa sopir untuk berangkat ke tempat saya memberikan pelatihan di Trawas. Hari – hari biasa, menyetir di jalan raya utama di Surabaya, satu mobil bisa dikerubuti 10 sampai 15 sepeda motor. Saya tidak perlu panic atau susah terus mengeluh, cuma melakukan reframing yang mudah saja “saya merasa bak seorang pejabat atau orang yang dihormati, sehingga mobil ini harus dikawal oleh para patwal, bukan hanya 3 atau 5 motor tetapi 15. Jadi saya lebih hebat  dari pejabat tertinggi di kota ini.

Terimakasih atas kehormatan yang Kau berikan”. Sudah beres. Jalan kemudian lancar – lancar saja, lha wong namanya mobil komandan ya pasti dihormati toh. Kalau saya mengklakson satu kali saja, maka para pengawal sudah mengerti kalau boss minta jalan, jadi patwal depan langsung buka jalan dengan cara membuat barisan menyetop mobil dari arah yang searah dan hendak menuju jalan yang saya lewati. Ajeb banget. Andapun bisa melakukannya, asal anda mau berlatih. Berlatih apa?.  Berlatih dengan siapa ?. Bagaimana melakukannya latihannya?. Aha … tapi yang lebih penting adalah sudah siapkah anda berlatih ?. berlatih punya perasaan nyaman, rileks, tenang dan damai dengan dasar perasaan (baca : HATI) yang berkelimpahan.

Coba anda teliti diri anda sendiri (body, mind and spirit – BMS) sejak tanggal 1 November 2008 sampai tanggal 10 Desember 2008 nanti. 40 hari setelah anda lepas dari padepokan NLP Practitioner – Santika. Kalibrasi yang benar dan seteliti – telitinya diri anda sendiri, coba  masuk ke Internal States, lihat juga External States, managing responsesxamati trigger – trigger (bisa motif, niat dll.) yang membuat anda melakukan sesuatu atau merespon stimulus – stimulus eksternal ataupun stimulus yang datang dari pikiran dalam interaksi kehidupan keseharian anda (ini juga masih dalam cakupan managing response). Apakah anda sudah mulai menerapkan presupposition – presupposition yang anda pelajari dalam mengelola respon anda (managing response) dalam setiap aktivitas dan interaksi anda sehari – hari. Ambil saja contoh presupposition “the map is not the territory”. Terapkan saat anda menonton tv atau membaca Koran.

Apakah anda sudah bisa menghormati berita tv, berita koran, omongan presenter, dialog – dialog, dan lain sebagainya?. Sudahkah anda bisa menyikapi bahwa krisis finansial yang katanya mendunia, hanyalah sebuah peta bukan wilayah dalam kehidupan anda pribadi, sehingga anda tetap bisa terus menyampaikan dan menikmati syukur anda ?. Kalau belum berlatihlah untuk tidak menonton TV atau Membaca Koran minimal 40 hari ke depan.

Presupposition kedua Every behavior has positive intention. Sudahkah anda menyikapi semua email yang masuk ke email address anda, dengan positif?. Bahkan anda merespon pun dengan ke dua presuposisi di atas. Bukan hanya dengan pikiran yang panas kemudian mengelus dada lalu mengatakan sabar sabar sabar tarik nafas panjang (kemudian anda sebut anchor) lalu menahan diri untuk merespon sesuatu dengan cara yang dibijak – bijakan atau pura – pura supaya kelihatan bijak (That’s Fake, karena anda tidak bisa lupa setelah memberikan respon itu, bahkan kadang – kadang masih muncul emosi di dalam pikiran anda yang mengatakan “heemmm seharusnya aku tadi menulis atau mengatakan begini, sehingga kelihatan atau terasa lebih tegas, lebih gagah, lebih pintar … de es te” – hayati kata “kelihatan atau terasa”, lalu lakukan meta model). Sekali lagi bukan itu.

Kali ini saya mengajak anda untuk berlatih menggunakan raga dan pikir (serta  hati – saya akan menuliskannya nanti dibawah) dengan sengaja (intentionally) dalam mempraktekkan kedua presupposition di atas. DENGAN SENGAJA. SENGAJA ITU OTOMATIS, BUKAN PURA – PURA ATAU SUPAYA KELIHATAN …
Tujuannya apa sih koq kayaknya sulit banget dimengerti ?.Memang, tapi bagi siapa dulu (sulit itu)?. Tentu, bukan bagi anda yang NLPers, atu rakyat republik nlp. Karena NLP sudah dikatakan “mudah dan mempermudah”. Asal anda mau berlatih dan menyelaminya lebih dalam dan semakin dalam pasti tidak sulit.  Saya pribadi menganggap NLP ini ilmu tua. Anda harus mengalaminya atau minimal merasakan pengalaman itu setiap kali melakukan sesuatu atau praktik dengan NLP, itulah kenapa anda diminta step into atau go first dalam setiap praktiknya. Tanpa olah rasa itu teknik yang anda praktekkan tidak akan berdampak, paling kalau berhasil, lamanya hanya selama klik dua jari dilakukan (bayangkan tayangan street hypnosis). Menurut pendapat saya, hal ini penting dan sangat penting. Contohnya gampang, praktekkan kedua presupposition di atas dalam waktu 40 hari, saya yakin nanti ke dua hal itu menjadi biasa dan membiasa. Setelah itu kedua hal itu “congruent” kan dengan BMS anda. Ekologikan semua five sensory base (Body), dengan Mind dan Spirit (Rasa  di dalam dada / jantung) anda .

Baru nanti anda bisa mengajar, melatih atau mengkonseling dengan baik melalui kedua presupposition ini. Bayangkan kalau anda kemudian mampu menguasai atau mengekologikan semua presupposition NLP. WOW … saya yakin anda akan lebih huebat dari NLPers atau motivator terdahulu atau yang ada sekarang. Dan kreditnya untuk siapa ? Untuk Sang Guru. Bukankah Guru yang huebat itu kalau bisa mencetak murid yang luebih huebat lagi atau minimal meng” cloning” dirinya kepada muridnya?. Nah sekarang jawabannya adalah ada pada anda sendiri sebagai murid, mau tidak ?. siap tidak wadahnya ?. siap tidak berlatih lebih keras, lebih lama, semakin keras dan semakin lama dari sang guru sendiri?.

Walaupun demikian, jangan beranggapan bahwa NLP itu wilayah, NLP juga hanya sebuah peta. Kalau sudah menguasai NLP atau membaca semua buku “asli dan ditanda tangani” penulis seluruh guru atau guru besar NLP terus merasa menguasai wilayah. Guru saya juga pernah menyinggung “NLP pun hanya sebuah peta, jangan – jangan hanya sebuah quanta atau titik, diantara wilayah yang tak berbatas, seperti sebuah ujung jarum yang dicelupkan ke dalam lautan”. Hanya DIAlah ilmu yang tak terbatas itu. Membahas hal ini. saya jadi ingat beberapa teman saya yang berdialog masalah NLP, Neuro Semantic, Silva Method, Transformational Thinking, dan sebagainya, terus berakhir dengan dialog tak berujung karena merasa saling menang, paling mengerti dan lalu mereka semuanya merasa sudah punya wilayah, bukan peta lagi. Padahal kalau dicermati, semuanya peta, begitu juga tulisan ini. Coba Tanya pakai meta model.

Bagi teman – teman yang masih muda,  saya ingin berbagi tentang peta yang lain. Ada ilmu yang memang di luar (peta) NLP, kalau NLP ini adalah ilmu yang menggunakan bahasa (linguistic), maka ada ilmu lain yang tanpa bahasa dalam arti bila anda hendak melakukan “cure” pada seorang klien anda tidak perlu melakukan eliciting. Anda bisa melakukannya melalui ilmu yang sering disebut “tulisan tanpo papan” nama kerennya sastro jendro hayuningrat dan jawaban demi jawaban akan berjalan dengan sendirinya di hadapan anda lalu boom begitu saja anda langsung melakukan aksi kuratif sesuai apa yang tertulis tadi dan boom ke dua sang klien “cured atau enlightened atau apapun tujuan dari proses yang dilakukan tadi” . Atau mungkin sebuah ilmu lain yang lebih dahsyat yakni limu yang tanpa menggunakan kata, bahkan tanpa huruf, dan tanpa suara dalam transformasinya. Saya memberikan gambaran ini untuk membuat kita terus mempraktikkan behavior flexibility dalam kondisi apapun. “NLP bukan Panacea, Langit punya jenjang dan tingkatan”, kata guru saya pada suatu hari.

Mari kita legkapi khasanah pembelajaran kita dari demi hari. Misalnya kita  coba belajar semuanya itu. Kita akan menjadi lebih hebat dan semakin hebat, bukan?. Sementara itu, setelah program 7 hari di padepokan Santika, peta saya terhadap diri saya sendiri dan rekan – rekan lain yang berdiskusi di milis (bukan Belajar NLP atau republic nlp loh..) masih sebatas sepeti ini “bagi yang trainer, motivator, konsultan merasa sudah tambah ilmunya dan merasa jadi lebih hebat, siap terima order lebih banyak bahkan anda yang bilang lebih gampang cari duit …”. heem … heem … heem. Oh … saya tidak sedang mengatakan ini tidak benar, tetapi ini sangat benar, dengan menggunakan teknik NLP dan LOA (Law of Allah), maka terjadi peningkatan kualitas pengajaran, penjualan, kehidupan, setara dengan 231 juta %. Sekali lagi, itu benar adanya.

Ssst, ngomong – ngomong,  ada tahu darimana angka 231 juta %?. (daripada ditanya, mending saya tanya duluan?). Angka 231 juta % ini adalah angka inflasi di Zimbabwe. Konon disana uang sebesar ZWD 2.000.000.000 (2 miliar ZWD) tidak cukup untuk membeli sepotong roti. Jadi BERSYUKURLAH anda pernah belajar di republik ini, Republik NLP, karena kalau anda yang mengalami kejadian seperti di Zimbabwe, maka anda tahu bagaimana caranya selamat atau keluar dari hal semacam itu. (lihat kata “hal” merupakan sebuah kondisi atau situasi, bukan masalah atau ujian atau adzab dan sejenisnya … “hal” itu sangat prediktif (predictable) dan terjadi karena di “attract” oleh mereka, maka terjadilah (LOA).

Kembali kepada tulisan di awal tadi, karena saya sudah mengalir kemana – mana. Maka tibalah saya harus memungkasi tulisan ini, walaupun ada beberapa highlights yang memerlukan bahasan tersendiri dan mudah – mudahan merupakan inspirasi untuk terus menulis dan berbagi dengan anda semua.

Di awal pagi itu, ketika saya dalam perjalanan ke tempat pelatihan “redefining the future”, dimana saya bebas dari segala keruwetan jalanan, maka saya bebas menggerakkan BMS saya dengan sengaja. Maka saya perintahkan pelan – pelan ke lima indra sensor saya untuk bekerja. Pelan saya gerakkan ke lima indra untuk melihat, mendengar, merasa, membau, dan mengecap semua yang kelihatan dan dekat kemudian menjadi jauh dan lebih jauh lagi. Dari mobil yang saya tumpangi, kemudian sopir yang lagi nyetir, kemudian sepeda motor yang berserak di jalanan, para polisi cepek yang mengatur jalanan, anak – anak kecil penjaja koran, gunung pananggungan di balik awan biru, hawa sejuk sejak memasuki daerah Pandaan, bau wangi bunga hutan ketika memasuki wilayah Prigen, kemudian menikung di Trawas, bukit, lembah, ngarai, tempat kami melakukan outdoor activities selama 5 tahun terakhir, lalu rasa lapar yang mulai datang dan mengajak mampir ke warung mbak Tatik di perempatan Puncak Trawas, kemudian membelok ke Blessing Hills Cottage tempat pelatihan diselenggarakan. Pemandangan yang menakjubkan, Suara yang begitu indah, Kesejukan yang menggetarkan, Rasa getir dan manis, bau wangi surgawi, meresap ke mata, hidung, telinga, kulit dan lidah saya.

Tiba – tiba trance itu menjadi semakin hebat bukan trance di luar tetapi di dalam jiwa saya … Innertia …
Saya bersyukur dan semakin bersyukur dengan kondisi dan situasi yang saya alami. Saya kalibrasi dengan hati saya … ada ucapan “segala puji bagimu, kami hanyalah hambamu dan hanya mengabdi kepadamu” … kemudian saya ekologikan semuanya dan anchor tepat di jantung kiri saya. Saya semakin bersyukur pernah memberikan semua kondisi dan situasi ini kepada kehidupan saya. Sebuh janji berkelebat begitu saja “di pelatihan nanti adalah saatnya saya memberikan semua “trance” ini kepada peserta. Mengalirkan energy positif kepada semua makhluk di seluruh Blessing Hills untuk bersyukur dan mensyukuri nikmat ini, apakah nantinya hasil pelatihan itu nantinya mewujud dalam rupa materi atau non materi pada kehidupan mereka setelah pelatihan selesai”.

Di akhir dari tulisan ini, saya mengajak kita semua, rakyat republik NLP ini, untuk terus mempertajam atau memekakan (sensitizing) 5 sensory base kita. Kita lakukan dengan niat dan tentang hal yang positif, dengan inisiatif sendiri, dirawat (maintained) secara rutin dan sadar (detikan, menitan, jam – jaman, harian dll.), diekologikan terus sehingga terus congruent dalam BMS kita. Seiring waktu maka mereka pasti menjadi tentara – tentara hati (heart / soul/ spirit/ qolbu) yang handal. Saya pribadi berpendapat dengan terus berlatih melihat, mendengar, merasa, membau, dan mengecap lebih jauh (dari yang kelihatan, kedengaran, terasa, terbau, atau terkecap — beyond them), maka kita pasti mengalami transformasi BMS yang luar biasa.

Dan KUN … JADILAH:
“ Seorang hamba di antara hamba – hambaKu, yang mencari kedekatan denganKu melalui amal yang aku wajibkan atasnya, maka ia sungguh – sungguh menjadi dekat kepadaKu, melalui amal saleh yang ikhlas sampai Aku mencintainya. Aku menjadi telinganya yang dengannya dia mendengar. Aku menjadi matanya yang dengannya dia melihat. Aku menjadi lidahnya yang dengannya dia berbicara … Bila dia meminta dariKu sesuatu, aku memberinya”

Semoga kita sampai pada state yang indah luar biasa ini. Then, let the show begins.
Salam berkelimpahan,
BSY

5 Comments for “Behavior Flexibility 2 : Let’s The Show Begins”

  • mastono says:

    asyik banget …
    Kun Jadilah maka jadilah … presiden

    mastono

  • Istoto says:

    Pak Bambang, mantab luar biasa…..
    Semakin jelas kasepuhannya…… Saya sampai trance mengikuti uraian Bapak…. Saya semakin yakin, manakala seorang mendapat tambahan detail dalam peta miliknya, maka wilayah akan menjadi semakin mudah dikuasai. Dan sebagian wilayah itu adalah: wujud dari diri kita ini, jiwa dan raga sebagai anugerah Yang Maha Kuasa yang sangat SEMPURNA seperti ditulis Uda HAsbi, yang pertama pantas untuk DISYUKURI.
    Kun..pak Bambang, terjadi. Anda sudah HEBAT…AKAN TERUS MENJADI SEMAKIN HEBAT, dan orang banyak AKAN SEMAKIN BELAJAR BANYAK DARI ANDA!
    Salam hormat,
    Istoto

  • bambang says:

    wow … saya ketularan huebatnya 32 orang yang saya “baru” kenal di Santika beberapa bulan lalu … terima kasih

    Salam
    BSY

  • Fitra says:

    Assalamu’alaikum Pak Bambang
    Whuaahh . . . .
    Perlu beberapa kali pak, membaca tulisan bapak ini, sehingga sy merasa dapat menangkap maksud bapak di tulisan ini
    Tulisan bapak ini, dari NLL environment sampe ke NLL spiritual !
    Tulisan dari sebuah pengalaman yang luar biasa, Pak
    Salut Pak Bambang !
    What a nice inspring article, deep into down soul
    Terima kasih Pak Bambang
    Barakallah
    Wassalam

    Fitra
    Menulis di ruangan dengan ditemani sejuknya udara sukabumi yg mulai dingin, dibawah kaki gunung salak, cidahu

  • BAMBANG says:

    wa’alaikumsalam wr wb,

    terima kasih mas Fitra atas complimentarynya… barokalloh juga amin … saya bisa membayangkan uenaknya ada di ruangan itu … di kaki gunung salak … ehm … sejuk … indah … subbanalloh …


Leave a Comment

More from category

“Ndemok-Ndemok” Pattern – The Double Ambiguities

Oleh : Rudi Tamrin, Licensed Practitioner of NLP ™ Sementara Anda mempertanyakan judul ditulis di atas, saya sarankan [Read More]

EFT & Submodality NLP

Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM) DOR…TAR…TER…TOR…suara petasan bersahut-sahutan…anak-anak [Read More]

Membuang pengalaman buruk dengan Submodality

Oleh : Sugeng Harjono, Licensed Practitioner of NLP (TM) Pengalaman ini sebenarnya sudah terjadi pada sekitar bulan [Read More]

NLP untuk tenangkan anak yang sedang sakit

Oleh : Sari Sasomo, Licensed Practitioner of NLP (TM) Saya mau berbagi pengalaman dalam penggunaan NLP yang sangat [Read More]

Apa Yang Tak Mungkin Dipelajari? Memodel-lah…

Oleh : Endah Kurniadarmi, Licensed Master Practitioner of NLP (TM) Anakku yang bungsu lebih banyak bergerak lewat [Read More]

Insider

Archives