Kisah Inspiratif Para Alumni NLP Practitioner
Thursday February 9th 2012

Self Empowering # 1

Use your words wisely, so you can put your self into Resourceful State  !

Oleh : Fitra Faturachman, Licensed Practitioner of NLP ™
Awal cerita
Saat itu hujan. Saya rasakan rem depan saya agak los, kendor gitu. Di tengah perjalanan, saya sempatkan mampir ke sebuah bengkel resmi. Sambil motor saya ditangani mekanik bengkel tersebut, saya biasa melihat-lihat motor-motor keluaran terbaru di showroom yang letaknya bersebelahan dengan bengkel tersebut. Saya bersama seorang kawan. Dia biasa memanggil teman-teman kami dengan panggilan “syech”, maka saya dan teman-teman lain pun ikut pula gaya dia memanggil dengan sebutan “syech”. Sebut saja ia dengan “Si Syech”. Si Syech ini pun saya ajak melihat-lihat motor-motor keluaran terbaru itu.

Mulanya Si Syech ini – terkesan oleh saya – menarik diri dan cenderung menutup diri, kalau tidak dikatakan minder.

Singkat cerita, saya ‘paksa’ Si Syech ini untuk ikutan saya dalam bertanya-tanya mengenai beberapa produk motor yang dijelaskan Sang SPG (Sales Promotion Girl). Saya katakan,”PD aja lagi syech!” “Sekarang itu yang penting gaya!” “Beli urusan belakangan!” “Yang penting kan sama-sama senang!” Dia (SPG itu) senang bisa menjelaskan produknya, nah kita juga senang kan bisa nanya-nanya!” sahut saya pada Si Syech ini. Akhirnya Si Syech pun menuruti acting saya saat itu.

Cerita pun berlanjut, ketika motor saya telah selesai diservis oleh mekanik, maka kami pun melanjutkan perjalanan.

Ditengah perjalanan, saya pun mengajukan pertanyaan begini,”Syech, koq sepertinya – terkesan oleh saya – ente tadi menarik diri?” “Ada apa syech?” lalu dia menjawab : “Koq, ente bisa bilang begitu?” “Rasanya belom pernah ada, orang yang mengatakan itu ke saya, tapi ente bener syech!”

“Saya tuh dibesarkan dari keluarga miskin, dan dari kecil banyak mendapat celaan, jadi sekarang tuh susah bagi saya untuk tampil percaya diri, apalagi membuka diri. Ya, walopun saya dari kecil, dari SD, sering dapet juara, tapi mungkin karena orangtua saya dulu nggak ngerti, jadi saya tidak mendapat apresiasi dari orangtua mengenai prestasi saya,walopun saya juara tak terkalahkan dari SD sampe SMP, gitu syech!” ujar Si Syech.

Mendengarkan dengan seksama kata-kata yang dia ucapkan, membuat saya merasa ingin berbuat sesuatu agar dia lebih memberdayakan dirinya.

Kata-katanya bagi saya terdengar begitu membenamkan dia jauuuuuh ke dalam Disempowering State yang akut-kronis.

Kawan saya ini merupakan orang yang begitu cerdas ! Dia mampu menguasai beberapa program komputer, meskipun dia tidak berlatar belakang pendidikan IT (Information Technology). Namun dia secara otodidak bisa menguasai beberapa program atau software komputer. Dia ini pun termasuk orang shaleh ! Jadilah tergerak hati saya untuk benar-benar membantunya, menyadarkannya, sehingga Semoga, Insya Allah dia lebih mampu memberdayakan dirinya sendiri !

Hal yang saya lakukan, begini . . . .

“Sejak kapan ente ngerasa seperti itu, syech ?” saya mulai bertanya. “Gak tau, ya sejak kecil lah!” jawabnya. “Gini syech!”, kata saya, “Hanya manusia yang dapat memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya!”

Termasuk merubah diri, membuka diri, syech !” lanjut saya. “Sepengalaman saya, hidup ini jauh lebih enak, jauh lebih nikmat ketika kita membuka diri, syech !”

Kemudian karena saya mengetahui bahwa si syech ini, orangnya cukup kuat religiusitasnya, maka langsung saja saya berbicara kepadanya dari level Spiritual.

“Gini syech !” kata saya selanjutnya “Rezeki itu darimana ?” tanya saya. “Ya dari Allah lah !” jawab si syech. “Nah, pertanyaan saya berikutnya syech,’Apakah rezeki itu selalu yang datang atau melalui tangan ente aja, syech ?” tanya saya lebih lanjut. “Ya, nggak lah!” jawab si syech.

Berikutnya langsung saya bombardir dia dengan sejumlah pertanyaan metafor dengan mengambil contoh-contoh yang pernah terjadi di masyarakat, seperti, “Ada orang yang mendapat rumah karena dikasih orang yang bermurah hati”, “Ada orang yang memberikan mobilnya begitu saja tanpa alasan yang jelas”, “Ada orang begitu saja mendapat uang dalam jumlah besar tanpa melakukan kerja apapun”, “Ada orang yang mau memberangkatkan kita haji tanpa kita pernah memintanya” dan seterusnya.

Pada saat itu kami sepakat bahwa hal-hal seperti itu pernah terjadi dilingkungan kami, di orang-orang sekitar kami. Lalu saya menanyakan “Mungkinkah hal-hal seperti itu terjadi pada diri kita, syech ?” tanya saya. “Iya, ya!” jawab si syech. “Nah, semua itu bisa terjadi pada kita hanya jika diri kita membuka diri terhadap berbagai kemungkinan seperti itu!” “Kalo diri kita tidak membuka diri, tidak mengijinkan hal-hal seperti itu terjadi dalam hidup kita, bagaimana mungkin semua itu akan terjadi ?” tanya saya ke si syech.

Saya ga tau, mungkin ente sering berdoa, minta diberi kesempatan, dan seterusnya. Dan Allah sebenarnya udah kasih, tapi karena ente ga membuka diri, maka kesempatan yang didepan mata itu lewat begitu saja !” saya lanjutkan. “Tapi karena Allah sayang sama ente, Allah kasih lagi kesempatan yang lain – lagi-lagi karena ente ga membuka diri, maka kesempatan bagus, atau peluang terbuka itu, lenyap terbang begitu saja!” begitu saya meneruskan celotehan saya. Hingga akhirnya teman saya ini, si syech mulai tersadarkan akan “ketertutupan dirinya oleh dirinya sendiri”, karena dia – dulu memilih untuk menutup diri.

Dan begitu seterusnya, cerita berlanjut hingga kami mampir ke rumahnya untuk minum teh dan makan roti bakar – diluar rumah sedang gerimis romantis saat itu. Di rumah si syech ini, saya ulang-ulang kembali pesan saya – untuk mempertegas pesan saya – untuk memberdayakan dirinya sendiri hingga saya yakin bahwa saat itu si syech sudah mulai masuk ke Resourceful State dan bisa menggunakan kata-katanya untuk memberdayakan dirinya sendiri.

Pesan saya “Use your words wisely, so you can put your self into Resourceful State!”

Leave a Comment

More from category

“Ndemok-Ndemok” Pattern – The Double Ambiguities

Oleh : Rudi Tamrin, Licensed Practitioner of NLP ™ Sementara Anda mempertanyakan judul ditulis di atas, saya sarankan [Read More]

EFT & Submodality NLP

Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM) DOR…TAR…TER…TOR…suara petasan bersahut-sahutan…anak-anak [Read More]

Membuang pengalaman buruk dengan Submodality

Oleh : Sugeng Harjono, Licensed Practitioner of NLP (TM) Pengalaman ini sebenarnya sudah terjadi pada sekitar bulan [Read More]

NLP untuk tenangkan anak yang sedang sakit

Oleh : Sari Sasomo, Licensed Practitioner of NLP (TM) Saya mau berbagi pengalaman dalam penggunaan NLP yang sangat [Read More]

Apa Yang Tak Mungkin Dipelajari? Memodel-lah…

Oleh : Endah Kurniadarmi, Licensed Master Practitioner of NLP (TM) Anakku yang bungsu lebih banyak bergerak lewat [Read More]

Insider

Archives