Behaviour Flexibility: Bikin Hari-hari Lebih Nyaman
December 3, 2008
Oleh : Bambang Suyono, Licensed Practitioner of NLP ™
Tadi malam rasanya jauh lebih pendek dari pada malam – malam sebelumnya, karena hanya istirahat tidak lebih dari 3 jam. Tubuh rasanya penat sehingga saya putuskan tidur lebih awal. Seharian, dari pukul 10.00 pagi sampai pukul 23.00, saya membolak balik susunan presentasi yang akan saya bawakan esok hari di depan peserta training “Redefining Your Future”.
Sejak pagi saya memasukkan diri ke dalam flow state dan mengarungi slide demi slide. Bahkan setelah maghrib tadi, saya menuliskan kalimat demi kalimat untuk merangkai script self hypnosis yang akan dipraktekkan oleh peserta pada sesi munajah beningnya kalbu. Akhirnya, hari ini harus saya akhiri dengan secangkir coklat hangat, tepat pukul 23.30. Menurut teman saya yang psikolog, secangkir coklat hangat bisa menghantar tidur menjadi lebih nyaman.
Sebelum tidur saya memutar ulang video hari ini, menghisab diri sebentar, setelah mengambil wudhu “heem hari yang luar biasa, sungguh semakin hari semakin luar biasa anugerah yang aku terima”. Hari ini bukan hari tanpa tantangan, ditengah – tengah flow state of mind yang lagi on fire seringkali datang hal – hal yang memecah aliran flow state itu. Ada sms yang perlu jawaban segera, tukang ngamen dan peminta – minta, petugas catering, laundry, datang bertubi – tubi di tenhan asyik – asyiknya merehearse topic demi topik.
Tensi menunggu terus memasuki pukul 15.00, Fika (putri bungsu saya) tiba menyampaikan kalau antar jemputya tiba – tiba tidak bisa datang dan Fika dengan setengah panik meminta diantar untuk kegiatan pramuka, karena waktu sudah mepet. Saya menarik nafas panjang tiga kali dan mengatakan “oh … it’s ok, it’s time for break. Ok. Break state, man”. Gelengkan kepala dan tersenyum. Lima menit kemudian, saya berada di jok belakang dan Fika menyetir motor ‘beat”nya menapaki jalan – jalan setapak menuju ke sekolahnya.
Setelah mencium tanganku, fika berpesan “Jangan lupa yaa, jam 17.30 jemput aku, pulsaku habis, jadi Fika enggak bisa sms or miskol”. “heeem, what can I say?. Okelah”. Jam 17.30, alarm di kepala langsung berdering. “Jam segitu, khan kamu ada di masjid Sabilul Muhtadin”. “gak apa – apa wes, emergency call, nanti habis sholat langsung keluar. Be flexible, man” , self talk itu meluncur begitu saja. Oh, ini toh yang namanya behavior flexibility. Enak juga tidak pakai panik, marah atau kesal.
Pukul 17.00, sebuah pesan pendek (short message) masuk “pa, tolong saya diantar untuk beli jeruk kupas, buat resepsi Bu Aris, yang mau berangkat haji besok pagi”. Oops pesan dari istriku yang lagi rewang di tetangga. Jam 17.00, jam 17.30, de es te de es te. “so, the flow has to be stopped ?. Wah reconnectnya gimana nih ?. My brain has been in motion. Lagi lancar – lancarnya, banyak hal – hal yang hebat lagi mengalir melalui otak kanan, kiri, dan trigger – trigger bergantian menginspirasi mereka. But It’s oklah.
Jangan panik.
Tandai saja tempat dan waktu berhentinya dimana, pause dulu, nanti pas kembali, langsung pencet play lagi. Beres khan. Oo gitu yach… aha … great .. yes.click. pause. Kata saya memberi perintah kepada otak.
Pukul 17.30 jemput Fika, karena Fika masih ada tugas lain yang akan diselesaikan di rumah, terpaksa saya antar pulang dulu, baru ambil istri, terus berangkat ke toko buah di ruko depan. Paling 15 menit selesai, otak saya pun memasang alarm, dalam 15 menit semuanya harus beres. Kembali ke laptop. Tidak begitu banyak orang di toko buah, hanya ada 5 mobil di parkir dan beberapa motor.
Tidak lebih dari 5 menit, istriku sudah balik ke mobil dan mengatakan “Jeruk kupasnya habis, diborong sama – sama ibu – ibu di dalam, baru besok datang lagi, kalau kita ke Makro, kejauhan yaa, khan kerjaanmu masih banyak. Koq, enggak diselesain kemaren – kemaren sih, masak besok berangkat pagi – pagi, jam segini masih kerja”.
Heem … Booom … ada suara keras di kepala saya “ah sok tahu banget orang ini. Gak penting khan tentang kerjaan saya, yang penting kamu diantar ke Makro, dapet buahnya, beres khan !”. Tapi diri yang dalam keadaan flexible tetap siaga. Anger Management berjalan dengan baik. Stimulus masuk ke otak dan diterima. Jedah sebentar, free choices. Mau balik marah atau santai saja. Hormati map orang lain “Istrimu khan enggak ngerti kerjaanmu, enggak ngerti kalau buat kamu, Rehearsal lebih nyaman kalau dikerjakan mepet – mepet, banyak fantasi dan kreasinya”. Jadi, sayapun dengan santai menjawab “ok, ke makro, tapi tunggu jam 19.00, habis waktu Isya’ ya”. Kamipun balik ke rumah.
Saya sempatkan untuk mencetak 3 latihan yang akan saya gunakan besok pagi. Sambil mencetak latihan, saya kembali ke slide presentasi. Mulai menulis script kontemplasi untuk latihan para peserta. Semuanya mengalir begitu saja, melalui suara – suara kontemplatif para motivator yang saya kenal, NLPer, Ustadz, Penyanyi, Trainer, yang terngiang begitu saja di telinga saya. Tidak terasa 4 slides selesai. Pukul 19.00, tinggal hitungan menit, adzan Isya’ sudah terdengar dari masjid – masjid di sekitar perumahan. Saya berhenti menulis dan buru – buru hendak menyimpan file. Oops … bencana datang … entah apa yang tersentuh tiba – tiba layar laptop menutup. Saya masih berbesar hati khan ada autosaving … buka lagi … dan pasti semuanya ada disana lagi, lalu di save ulang, beres. So far, behavior flexibility still works.
Layar terbuka dan slide kontemplasi tinggal 1 slide, bukan 4.
Diyeng … ! Palu menggodam kepala saya. Suara halus memberi tahu “take it easy … cepetan sholat, lalu pergi ke Makro, sambil nunggu istri belanja, khan asyik nulis kontemplasi di parkiran Makro, di bawah langit pasti hasilnya lebih top”. Tidak ada kemarahan, tidak ada kepanikan yang terjadi. Semuanya beres dengan begitu nyaman dan rileks.
Pukul 23.40 saya sudah lelap di tengah gemericik air yang terdengar dari alunan brainwave yang saya putar di WMV. Entah sudah putaran yang ke berapa, ketika saya terbangunkan oleh sebuah kalimat yang memberitahu bahwa sesi meditasi itu telah selesai. Waktu menunjukkan pukul 02..30 dinihari.
Saya membersihkan diri. Air dingin berisikan kesegaran, kesehatan, pengetahuan dan syukur menerpa badan saya. Setelah selesai, di temaram lampu ruang kerja, saya berdiri, membungkuk, dan bersujud dihadapannya. Dalam keheningan sujud itu, suara batin saya begitu halus menyatakan “Engkau Maha Agung, Maha Mulia, sumber segala cahaya dan kasih yang sempurna dan abadi selamanya, demi cintamu padaku, sungguh jangan pernah kau tinggalkan aku sendirian”. Beberapa menit berlalu, begitu nyaman, begitu hening.
Saya masih duduk dalam keadaan tahiyat (bersimpuh), saya memutar video presentasi esok hari di kepala saya dan melihatnya melewati garis waktu (time line). Saya gerakkan VAK saya. Saya perjelas gambarnya, dengan brightness dan contrast yang balance. Saya perkeras suaranya dengan soundsystem ala konser. Saya perdalam perasaan itu menggetarkan dada saya. OMG … how wonderful class … it’s really great … it’s a blessing moment … . Ketika semua selesai saya hanya bisa bergumam “ Ya Allah, terimakasih atas anugerah, bimbingan dan petunjukmu pada hari lalu, hari ini dan hari esok. Terima kasih para guru atas inspirasi dan ilmunya”.
Suasana begitu hening, sampai suara tarkim terdengar sayup – sayup, menyadarkan saya kembali.
Salam berkelimpahan,
BSY

Posted in 

content rss
December 3rd, 2008 at 10:41 am
Pak Bambang,
Luar biasa, sedemikian sehingga kesepuhan Anda sunggu pantas disepuhkan!
Sikap fleskible yang pasti akan menghambat naiknya dolar kalau dimiliki oleh para penguasa ekonomi dunia.
Sayabelajar banyak dari tulisan ini, saya diingatkan, diajkah, didorong. Semakin saya baca berulang, semakin saya menjadi dan assosiate pada peristiwa luar biasa ini.
Selamat pak, terus bantu generasi muda meningkatkan kualias hidupnya.
Salam,
Istoto
December 4th, 2008 at 3:23 pm
Mas Istoto, terimakasih atas complimentarynya. saya hanya meneruskan berlatih dari apa yang saya dapat di pelatihan dari mas Ronny dan teman2 semua. sekali lagi terima kasih.
SAlah sukses dan maju terus mas Is.
December 8th, 2008 at 2:45 pm
Pak Bambang yang Luar biasa,
Semakin sering saya membaca tulisan Anda semakin saya takjub dengan cara Anda berfikir, sungguh sederhana dan menyederhanakan.
Hari ini saya belajar 1 hal lagi dari Anda,
Terima kasih Pak BSY, keep writing
Regards
Agus
December 9th, 2008 at 8:14 am
Mas Agus, terima kasih. Anda juga luar biasa. Kita akan terus saling belajar dan memperkaya diri dengan berbagi pengalaman.
Salam, BSY
December 10th, 2008 at 5:35 am
Kang Bambang,
Nah, sampeyan ini dalam training diem, tapi diem-diem menjadi pengamat dan pengamal yang luar biasa. Dan tulisannya mengalir terus …..
Hebat pak, keep writing !
wap
December 11th, 2008 at 4:43 am
he ..he
maksudnya … hebat
mastono
December 12th, 2008 at 3:33 am
he he he … emang mas tono huebat … kapan nich ke Balikpapan?. Minggu 2 atau 3 Januari 2009?. he he he
BSY
December 22nd, 2008 at 7:42 am
Pak Bambang,
Hal yg telah bapak lakukan itu, pernah juga disampaikan oleh Kang Asep dengan nama ‘flow’
Dengan tulisan Bapak ini, menjadi lebih jelas bagi saya dalam memahami flow yang dimaksud Kang Asep
Terima kasih banyak Pak Bambang
Barakallahufik
December 23rd, 2008 at 4:31 am
Mas Wied,
Sorry telat, terimakasih complementarynya … saya pasti lebih semangat menulis dengan pujian anda .. nuwun
December 23rd, 2008 at 4:36 am
Mas Fitra,
Benar sekali. Ini ke berapa kalinya saya “membaca”, dalam konteks NLP, saya tahu ya di santika itu, lalu di LOSAnya Mas Prihatno, terus waktu ketemu Kang Nunu, nah sekarang Kang Asep melalui anda … jadi lebih dan semakin sippp lah banyak ilmu dari banyak guru yang huebat2… terus amalkan saja dengan amanah pengalaman yang sudah kita dapat …
selamat berkarya dan sukses selalu
June 9th, 2010 at 7:31 am
Pak Bambang…sungguh luar biasa….fleksibel.so emosi sungguh-sungguh semua pilihan…satu hal lagi bagi saya, anger management Anda luar biasa…insyaallah pembaca seperti halnya saya layak seperti Anda..amien