949 viewsPrint This Post Print This Post

Chunking Down (Meta Model) dan Reframing

Date November 30, 2008

“Sebuah alat ampuh menghidupkan komunikasi yang solutif”.

Oleh : CFI Tri Wulandari, Licensed Practitioner of NLP ™

Surprise, kota saya kedatangan Sang Begawan!
Kabar-berkabar, akhirnya teman-teman NLP Prac dari jogja bisa ngumpul, eh surprisenya nambah lagi, ada pak Hasbi (Padang), Pak S. Agus (Jakarta), Pak Zein (Surabaya), Bu Henny Budi (Jakarta), Sementara dari Jogja lengkap 4 orang, Mas Hendri, Pak Is, Pak Tono dan saya sendiri, jadilah seperempat peserta NLP Pract ngumpul di Jogja.

Kebersamaan di Jogja menjadi komplet, ketika Pak Ronny, berkesempatan mengundang dan kami semua berkumpul di tengah malam 22 November lalu. Dengan arahan Pak Ronny, kami berlatih untuk saling berbagi tentang apa yang sudah dilakukan dengan Ilmu NLPnya masing-masing. Mmmm….saya jadi langsung pasang ’antena’ karena memang pengen banget share kejutan-kejutan hidup yang selama ini terjadi setelah NLP Pract usai.

Kami diberi kesempatan secara bergiliran untuk memberikan sharing pengalaman selama setelah mengikuti pelatihan NLP 25 s.d 30 Oktober lalu. Mengutip apa yang disampaikan Pak Aman Ciang pada suatau kesempatan dalam NLP Pract, ujian sebenarnya adalah bagaimana NLP digunakan setelah training. Saya selalu berusaha mencoba menerapkan beberapa alat yang praktis untuk saya terapkan. Terima kasih Pak Aman dengan dengan pernyataan itu, membuat saya semangat untuk mengamalkan NLP dalam hidup saya.

Ketika pada giliran saya tiba, saya sampaikan bahwa dengan NLP, saya telah mewarnai kehidupan rutin keluarga menjadi keluarga yang terasa ringan dalam “REMBUGAN”. Sebelum ikut pelatihan saya merasakan bahwa saya harus mencari cara agar saya dimampukan untuk membantu mencari solusi akan masalah-masalah dalam keluarga dan orang-orang yang terdekat dengan saya. Kebetulan saat saya menghadapi hal-hal kecil dalam keluarga yang makin diper-‘sulit’ masalahnya, secara otomatis bereaksi untuk menanggapi, bahwa kalau dirasakan sulit maka akan semakin sulitlah persoalan yang dihadapi.

Saya menggunakan chunking down (Meta Model)….  Ketika anggota dalam pertemuan keluarga satu sama lain mengatakan bahwa persoalan yang dihadapi terlalu SULIT, maka saya sampaikan pertanyaan sederhana:

‘Tepatnya persoalan yang mana, yang dianggap sulit itu?’,

‘Tepatnya Siapa yang merasakan persoalan ini sebagai sulit?’

‘Sulit dibandingkan dengan apa? Lebih sulit mana masalah ini dengan masalah yang akan timbul jika masalah ini tidak diselesaikan?’

‘Alangkah baiknya melihat ‘persoalan‘ ini sebagai ‘tantangan‘ .’

‘Apa yang menghalangi kita untuk mencari penyelesaian tantangan ini?’

‘Sudahkah kita mencari jalan keluarnya / solusinya?’

Karena dari NLP saya meyakini  bahwa bila kita memelihara kata (memiliki frame berpikir) ‘Sulit’ maka akan semakin sulitlah apapun persoalan yang sedang kita hadapi. Pikiran bawah sadar akan berhenti berusaha mencari solusi untuk kita. Dan hal itu akan tertancap kuat-kuat dalam pikiran kita. Haruskah dibuat semakin Sulit????

Saya mengajak keluarga untuk menjadikan ’Belief’ bahwa kalau  kita mampu berpikir sebaliknya, yang positif dan memberdayakan, maka akan berhasil dengan mudah dan lancar. Saya teringat bagaimana Pak Ronny selalu mengingatkan soal ’utilisasi’ semua hal dalam menghadapi berbagai hal dalam hidup. Dan apa yang terjadi??… … Dengan apa yang telah saya lakukan itu, saya dapat membuat mereka menjadi lebih hati-hati dalam berkata SULIT sekarang ini.

Hal ini persis dengan apa yang saya alami saat dulu mengikuti NLP Pract. Saya jadi ingat, bagaimana Pak Ronny yang sering mengingatkan saya tentang penggunaan kata “SULIT” saat itu.

Begitu juga saat staff yang sedang hamil pada minggu awal yang merasakan sakit, tidak enak badan, muntah-muntah yang membuat ia merasakan betapa berat menjadi ibu yang mengandung, dengan wajah yang muram dan terbeban. ’Pada saat mengandung anak pertama saja tidak begini, Bu’, katanya.  Saya lakukan reframing padanya, saya katakan bahwa hamil adalah rahmat, hamil adalah saat yang dinantikan oleh banyak wanita lain yang telah menikah, hamil adalah hal yang sangat membahagiakan bagi kebanyakan wanita (hehehe…..berapa banyak jumlahnya kalo saya katakan kebanyakan wanita, dan karena tidak semua wanita mau hamil dan punya anak). Dan mustinya hamil bagi wanita adalah hal yang harus disyukuri.

Apa yang terjadi saat itu, wajahnya berubah cerah dan terlihat ringan hatinya dari perubahan sikap tubuhnya. Akhirnya Ia tersenyum dan berkata ”Terima kasih ya Bu”.

Ah………bahagia rasanya membuat orang lain bahagia, saya merasakan badan saya merinding dengan hal kecil yang saya katakan itu dan ternyata mampu membuat reaksi yang baik. Bahagia buat saya untuk berbagi meski hal-hal kecil disekitar saya.

Masih ada PR untuk saya, Pak Ronny menyarankan kepada saya untuk mempraktekkan ’Perceptual Position’ dalam menyelesaikan hubungan personal dalam persoalan yang saya hadapi.

Terima kasih Pak Ronny, atas kesempatan berbaginya.
Salam berkelimpahan….
Wulan

3 Responses to “Chunking Down (Meta Model) dan Reframing”

  1. bambang said:

    hayoo kerjain PRnya terus ditulis lagi disini biar aku bisa belajar lebih banyak lagi …

    Salam SUkses LUar BIasa
    BSY

  2. saifu akbar said:

    mantap!

  3. Heru Kurnianto Tjahjono said:

    Luar biasa…mudah dan aplikatif

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>