Kisah Inspiratif Para Alumni NLP Practitioner
Thursday February 9th 2012

Cara Mudah & Cepat Mempelajari Tehnik Closing

Oleh : Heni Budi Hastuti – Licensed Practitioner of NLP ™

Waah… gara-gara tulisan pertama saya kemarin, saya jadi harus menyempatkan diri untuk membuat tulisan kedua malam ini, hehehe… luar biasa juga nih, hal ini dikarenakan permintaan khusus dari mas Tono yang langsung menghubungi saya dari Yogya. Maturnuwun ya mas Tono…buat supportnya, mudah-mudahan tulisan saya ini membawa manfaat buat mas Tono dan tim.

Kemarin saat mas Tono menelpon saya by phone, sempat sedikit menanyakan kepada saya tentang bagaimana caranya agar mudah dan cepat mengajarkan kepada tim tentang tehnik closing ala NLP dan meminta saya untuk berbagi kepada beliau, karena beliau ingin sekali tehnik ini diterapkan ke dalam timnya mas Tono, tapi karena kesibukan saya di kantor yang lumayan banyak, saya janji ke mas Tono untuk menjawab lewat tulisan.


Mas Tono yang baik, tulisan berikut adalah atas permintaan mas Tono. Jika tulisan saya masih dirasa kurang lengkap, saya mohon bantuan rekan-rekan agar dapat membantu menambahkan.

Menurut pengamatan saya yang saat ini sedang menjadi trend di pasaran, ada beberapa cara tehnik closing yang sangat penting untuk kita tiru dan diperhatikan, khususnya bagi mereka yang memang berprofesi menjadi sales. Untuk lebih mudahnya saja, saya mengelompokkan tehnik closing ini dalam 2 bagian.

Menjual dengan cara sendiri-sendiri

Menjual dengan cara sendiri-sendiri, ini adalah tehnik menjual dan melakukan closing yang biasa di lakukan sejak dulu. Seorang sales yang melakukan kegiatan menjual sebuah produk secara sendiri, bagi kita yang sudah belajar ilmunya NLP, tentunya akan dengan mudah sekali mengidentifikasi strategy apa yang dilakukan oleh penjual tersebut, atau bahkan bagi mereka yang tidak belajar NLP pun, cara menjual para sales tersebut dapat dengan mudah diidentifikasi sehingga lebih mudah untuk dipatahkan, karena biasanya cara mereka menjual dilakukan dengan cara yang sangat kuno sekali, kecuali orang tersebut diajari NLP dan Hypnosis sama bosnya hehehe….. Kalu itu pasti menjualnya bakalan canggih, meskipun tidak harus seorang practitioner ya?

Tapi minimalnya perusahaan tempat sales itu bekerja, pasti entah itu ownernya atau managernya atau staff lain yang di tunjuk untuk menjadi tenaga trainer di perusahaan tempat sales itu bekerja telah mempelajari ilmu NLP dan Hypnosis, contoh sederhana saja, di PT. Hydro Water dimana si owner adalah salah seorang trainer junkiest dan Licensed Practitioner NLP pula (kalau yang ini khusus batch pertama yang mengenal dengan akrab, karena dia satu-satunya orang paling beruntung ketiban rezeki dari panitia, gitu ya Mas Teguh? J) dan masih banyak lagi contoh-contoh dimana Ilmu NLP dan Hypnosis ini memang sangat perlu dimiliki oleh para pelaku bisnis saat ini.

Hal Itu bisa saya rasakan perbedaannya setiap kali saya pergi kesebuah pusat perbelanjaan semacam mall, pasar atau pusat grosir dan sejenisnya.

Mari sama-sama kita perhatikan bagaimana cara seseorang dalam menjual atau meyakinkan seorang klien agar membeli produk yang kita jual.

Dalam setiap aktivitas komunikasi, prinsip utama yang harus dilakukan adalah Building Rapport, dan bagi sales, melakukan Building Rapport adalah aktifitas utama yang paling penting.

Kalau kita melakukan survey terhadap 20 orang pembeli, maka hampir bisa dipastikan hanya 3-4 orang saja dalam sehari yang memutuskan untuk membeli produk yang di tawarkan.

Hal ini pun saya perhatikan terhadap cara menjual ke dua adik saya yang bekerja di Advance tersebut. Yang sukses saya coach adalah adik bontot saya, dari mulai cara berdiri, cara memperkenalkan diri, berpakaian meskipun menggunakan seragam, bau badan, semuanya saya perhatikan, dan yang paling penting lagi adalah bagaimana cara adik saya berucap dan menerangkan tentang keistimewaan produk yang akan di jual.

Kemampuan seorang sales dalam membangun Rapport, dengan cepat mengidentifikasi Rep system dan sub modalities serta kemampuan  meng-elicit strategy pembeli sangat penting dilakukan dalam hitungan menit.

Hal ini perlu dilakukan berulang-ulang agar menjadi terbiasa, sehingga dapat melakukan tehnik closing dengan mudah dan cepat.  Dan tidak perlu seperti paflov yang harus melakukan sebanyak 32x tentunya baru bisa melakukan dengan baik dan lancar hehehe…., sebab kita bukan paflov toh?

Bagi sales yang memiiki jam terbang minim, maka tehnik tersebut diatas, tidak dilakukan sebagai sebuah tool yang powerfull, contoh sederhana, tadi, saat pulang kantor, saya sempatkan diri untuk mampir ke Cempaka Mas untuk membeli beberapa kebutuhan Pribadi. Disebuah toko pakaian yang saya lewati, ada sebuah baju yang menarik perhatian saya, sebagai calon pembeli, sebenarnya saya sudah tergoda untuk membeli baju itu. Dari warna, modeldan ukurannya saya sudah cocok, harga pun sudah dapat ditaksir dikisaran berapa. Tapi ada hal yang membuat saya akhirnya, membatalkan untuk membeli baju tersebut.

Yang membuat saya membatalkan adalah, cara penjual tersebut melayani, orangnya judes banget, nggak ada senyum, ngomongnya sepotong-sepotong, bahkan saya nggak dipuji sama sekali saat saya memadupadankan baju itu di tubuh saya.

Ini bukan karena saya ingin di puji ya…, tapi si penjual harus memperhatikan mood pembeli, memberikan rasa senang, nyaman dan percaya bahwa apapun yang dibeli akan memberikan manfaat bagi si pembeli itu sangat penting dilakukan oleh seorang sales . Tapi itu tidak dilakukan oleh si penjual tersebut.

Koloni atau berkelompok

Naah…, kegiatan menjual ini, sering saya lihat banyak dilakukan oleh penjual di Mall, bahkan menjadi modus menipu secara halus, mereka menggunakan cara-cara memberikan iming-iming hadiah, harga murah, kwalitas international dll, itu sudah cara dan bentuk Rapport yang dilakukan diawal menjual.

Biasanya mereka menjual secara berkelompok, 1 klien bisa di keroyok sama 3 atau 5 penjual, cara mereka berjualan pun cantik, ada 1-2 orang yang bertugas pacing, lalu ada yang tugasnya mirroring, ada lagi yang tugasnya me-lead pembeli, dan ada lagi yang tugasnya khusus menyiapkan segala keperluan leader dalam menjual.  Mereka sudah menyiapkan berbagai macam strategy, agar ketika mendapatkan calon pembeli yang tepat, mereka dapat langsung melakukan tehnik closing dengan cepat.

Menjual secara koloni, ternyata cukup ampuh untuk mengacaukan Sub Modality seseorang. Karena konsentrasi pembeli jadi tidak terpaku di satu titik saja. Dan secara sadar pembeli sudah terhypnosis dengan aktivitas tersebut, sehingga bagi penjual akan lebih mudah penjual untuk melakukan closing.

Sementara ini dulu yang bisa saya sharingkan ke mas Tono ya?, nanti kalau ada waktu buat ketemu, kita sama-sama belajar bagaimana mengclosing dengan cepat dan mudah.

Saya mau ke Yogya hari sabtu ini, kalu ada kesempatan buat ketemu dan sharing lebih lanjut, boleh juga. Ada teman-teman yang mau menambahkan??

3 Comments for “Cara Mudah & Cepat Mempelajari Tehnik Closing”

  • mastono says:

    terima kasih
    mbak Heni ……. atas responnya. ini merupakan kelanjtan dari artikel “Meningkatkan Income lewat Submodality” yang memang saya minta.

  • Henry says:

    Mau nambahin aja, ini pengalaman tunangan saya.
    Waktu itu dia mau beli sesuatu di Body Shop, barangnya yang dia lihat tinggal 1 dan bimbang beli atau tidak. Lalu sales menghampirinya dan memberitahu, “Itu tinggal satu-satunya loh Mba”. Akhirnya dia beli (bukan ambil ya).
    Sales tersebut sebenarnya bisa mengkalibrasi tunangan saya (mungkin da biasa liat orang yng lg conflict part) lalu suasana mendukung (barang tinggal satu), langsung hajar aja.
    Saya pernah baca, ini salah satu teknik waking hypnosis juga (CMIIW)

  • Heru Kurnianto Tjahjono says:

    Luar biasa…dan tentunya pastikan subconscious nya sudah berulang-ulang menyetujui apapun yang sudah dikomunikasikan kita dengan teknik chunking up-nya ….


Leave a Comment

More from category

“Ndemok-Ndemok” Pattern – The Double Ambiguities

Oleh : Rudi Tamrin, Licensed Practitioner of NLP ™ Sementara Anda mempertanyakan judul ditulis di atas, saya sarankan [Read More]

EFT & Submodality NLP

Oleh : Qodrisyah, Licensed Practitioner of NLP (TM) DOR…TAR…TER…TOR…suara petasan bersahut-sahutan…anak-anak [Read More]

Membuang pengalaman buruk dengan Submodality

Oleh : Sugeng Harjono, Licensed Practitioner of NLP (TM) Pengalaman ini sebenarnya sudah terjadi pada sekitar bulan [Read More]

NLP untuk tenangkan anak yang sedang sakit

Oleh : Sari Sasomo, Licensed Practitioner of NLP (TM) Saya mau berbagi pengalaman dalam penggunaan NLP yang sangat [Read More]

Apa Yang Tak Mungkin Dipelajari? Memodel-lah…

Oleh : Endah Kurniadarmi, Licensed Master Practitioner of NLP (TM) Anakku yang bungsu lebih banyak bergerak lewat [Read More]

Insider

Archives