286 viewsPrint This Post Print This Post

Pelajaran di Hari Terakhir

Date November 15, 2008

Oleh : Henry Yonathan, Licensed Practitioner of NLP ™

Hari Selasa, 11 November 2008 kemarin saya ke kantor terakhir kalinya untuk beribadah dan berpamitan kepada rekan-rekan di kantor. Per Jumat 14 November 2008 ini saya sudah pindah ke perusahaan lain.

Saya pindah karena sudah tidak ada hal signifikan yang dapat saya lakukan di kantor pusat dan cenderung tidak terlalu menggunakan kemampuan terbaik saya. Dan perusahaan hidupnya berdasarkan proyek dari tender-tender pemerintahan.

Singkat cerita saya berada diruang HRD, dimana disana terdapat seorang personil HRD yang hubungannya dengan saya baik sekali. Lalu disebelahnya ada seorang rekan sejawat yang sangat senior. Dahulu waktu masih diproyek bersama-sama dengan saya, dia koordinator sistem se-Jakarta.

Di dalam ruangan HRD tersebut kita ngobrol-ngobrol dan bercanda. Lalu entah bicara apa, rekan sejawat saya bilang, “Masa perusahaan lagi kondisi seperti ini kamu keluar?”. Dari kata-katanya, saya dapat mengkalibrasi bahwa saya tidak loyal. Sewaktu masih jaya ada, giliran sudah susah, ditinggal kabur. Kasarnya demikian. Namun pertama-tama saya jawab dengan senyuman, karena senyuman meruntuhkan segalanya (menurut siapa??).

Lalu saya mulai bicara, “Saya lebih suka melihatnya dari perspektif yang berbeda” (nah loh, jurus Reframing sedang di rapal). “Dahulu waktu proyek masih berjalan, saya tidak berani meninggalkan perusahaan. Sebab saya khawatir tidak ada yang mampu menangani pekerjaan-pekerjaan saya.”, kata saya.

“Sebenarnya, waktu itu saya ada…. Ooops sorry, kata sebenarnya mempresuposisikan atau mengasumsikan bahwa sebelumnya tidak benar. Lalu kalimat yang sesudah sebenarnya baru benar. Hahahahaha”, lanjut saya.

Kemudian personil HRD ikut dalam diskusi karena saya perbaiki kalimat tersebut, “Wah Henry udah makin hebat, padahal gua yang rekomendasikan untuk training”. Sambil tertawa dan tersenyum saya mengatakan bahwa di NLP kita belajar berbahasa yang baik.

Lalu saya lanjutkan kalimat saya, “Jadi…. (sudah dihilangkan kata sebenarnya) waktu itu saya ada dipanggil untuk interview, tapi karena masih ada tanggungjawab akhirnya saya tidak datang. Selain itu ada banyak hal pribadi yang saya korbankan untuk kantor.” Kemudian saya melakukan reframing lagi untuk perspektif sesudah proyek selesai. “Nah sekarang saat proyek sudah selesai dan perusahaan sedang dalam keadaan tidak baik, saya berpikir sebaiknya saya tidak menjadi beban kantor.”

Rekan sejawat sayapun tidak berbicara lebih lanjut. Entah dia tertohok pada reframing saya yang terakhir atau tidak. Karena dalam kalimat terakhir, setidaknya bisa diartikan dua hal :

  • Saya keluar, supaya perusahaan kurang beban dimasa sulit ini
  • Dia jadi beban perusahaan

Nah sekarang itu terserah rekan sejawat saya, bagaimana dia me-reframe dirinya atas bila dia merasakan yang nomor 2, betul? Nah kalau dia tidak bisa, setidaknya ada dua hal :

  • Ia akan kepikiran bahwa dirinya adalah beban dikantor
  • Dia akan meminta saya men-terapi dia    :D

Penutup

Sebelum saya ikut training NLP Practitioner, saya cari informasi sebanyak-banyaknya mengenai apa sih NLP Practitioner itu dan manfaatnya. Beberapa menginformasikan bahwa sesudah training NLP Practitioner membuat mata para pesertanya lebih terbuka akan dirinya dan dunia sekitar.

Rekan-rekan yang sudah menempuh NLP Practitioner pasti merasakan, bahwa setelah training menjadi lebih peka. Tiba-tiba saja seolah-olah ada alaram dalam diri Anda yang berbunyi ketika Anda merasakan ada yang kurang tepat dalam suatu kalimat atau kejadian. Yang terpenting adalah, menggunakan bahasa kita dapat memberdayakan pikiran kita, melihat dari arah yang lebih baik, dan membantu orang laian melihat secara proporsional.

Selamat datang di kehidupan para NLP Practitioner!

5 Responses to “Pelajaran di Hari Terakhir”

  1. wap said:

    Wah, Henry, hebat … semua perilaku lalu dikaitkan dengan ilmu yang dapat kemarin. Aq gak secanggih itu ….

    Membaca artikel-artikel di sini, memang menjadi pembelajaran yang praktis …

    Tq

  2. mastono said:

    jadi …
    setelah ikutan ini..
    kita bisa dengan indahnya membolak-balik kata …

    taop bangeh dah …

  3. Teddi said:

    Haloooooo Para Saudara Seperguruan…!!!

    Hmmm…meskipun kita mendapatkan tanda tangan dari sertifikat dari trainer yang berbeda, kan eyang gurunya sama ya. He..he..

    Dan, Insya Allah, kita dipertemukan di kelas Master. Amiiiin…

    Wuih, keren euy portal ini. Tapi, ada yang sedikit di luar kebiasannya Kang Ronny. Biasanya, domain milik beliau selalu diawali dengan kata “portal”. Nah, kok yang ini jadinya bukan http://www.portalalumninyaronny.com ya? He..he.. piss…

    Saluuuuuut…..

  4. Fitra said:

    Selamat Mas Henry Yo !

    Selamat Memajukan Diri !

    Insya Allah, sya jg menyusul, tahun ajaran depan !

    Mohon doa & dukungan dari rekan-rekan NLPers semua bagi saya utk Memajukan Diri demi keluarga, agama, Bangsa & Negara ! MERDEKA ! (eh, ini apa sih ?!)

    he.he.he.he.he.

  5. Henry said:

    Hi all,
    Thanx buat commentnya, apalagi ada Om Teddi.
    Om Wi (atau maunya Om Wid? Sama saya ngga akan mahal de) juga canggih… elminasi phobia ketinggian. Om
    Om Tono bisa aja, sampean lebih ‘dahsyat’ di RNLP.
    Om Fitra, juga tulisannya menggedor saya

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>