Oleh : Widyarto Adi Ps, Licensed Practitioner of NLP ™
Keikutsertaan dalam NLP for Practitioners yang lalu adalah yang ke-6 kalinya saya hadir dalam pelatihan yang berkaitan dengan NLP. Sebelumnya memang “hanya” mengikuti potongan-potongan pemahaman, jadi pemahaman lengkap dan mantapnya ya didapat ketika ikut pelatihan itu.
Banyak hal menarik yang terjadi di sekitar pelatihan yang dulu-dulu saya ikuti. Ada peserta yang datang dengan persiapan untuk menguji ”teori” NLP yang sudah didengarnya sedikit-sedikit. Orang seperti ini pasti menjadi berkerut-kerut dahinya ketika mendapat materi yang di luar dugaannya. Yang sok rasional biasanya lalu mendiskusikan (dengan diri sendiri atau rekan dekatnya) alasan di belakang setiap pre-supposition, atau teori yang didapatkan, dengan sibuk mencari logika di belakangnya. Dan akhirnya malah bertanya-tanya ”kok bisa begini?” dan tidak bisa secara penuh menerima manfaat pelatihannya.
Hanya peserta yang datang dengan pikiran terbuka dan siap menerima pemahaman baru, yang biasanya berhasil memahami dengan mantap. Yang menarik, beberapa orang yang mempunyai latar-belakang ilmu pasti dan matematika jauh lebih mudah dan lebih cepat menangkap inti pemahaman NLP dan menerapkannya. Di pelatihan terakhir ini, anehnya saya menemui peserta dengan jenis-jenis yang semacam ini : sekalipun latar belakang macem-macem, namun pikirannya terbuka, bahkan diskursus dengan mereka malah semakin membukakan mata satu sama lain, bulan speri di kelas yang dulu-dulu.
Tetapi artikel ini tidak akan membahas hal itu. Kita akan membicarakan manfaat setelah mendalami pemahaman NLP. Khususnya bagi saya pribadi.
The map is not the Teritory
Pemahaman paling utama dalam pergaulan dengan orang lain adalah bahwa setiap orang berbeda. Istilah NLP-nya ya seperti yang tertulis sebagai judul alinea ini. Dan ini penting, karena kalau semua orang memahaminya, maka tidak akan ada selisih paham atau ketidak-saling-mengertian. Lha wong pemahaman sampeyan ya seturut alur pikiran sampeyan, pemahaman saya ya seturut alur pikiran saya sendiri. Kalau tidak menemukan titik persamaan, ya karena dasar pijakannya berbeda.
Dari dasar ini muncullah ketidak-samaan antara persepsi masing-masing orang, yang mempunyai wujud sesuai sudut pandang masing-masing. Beberapa teman amat senang memakai istilah ini untuk ”membenarkan diri”. Kata orang seperti ini: kalau saya tidak memahami sudut pandang Anda, itu karena map saya lain dengan map Anda. Tetapi, ini jeleknya, kalau Anda tidak tahu tentang sudut pandang saya, maka saudara harus memahami map saya. Karena map saya dan map Anda pasti berbeda, tetapi tolong dong pahami map saya ….
Itu tadi yang negatif.
Hal positif yang biasanya saya ambil dari pemahaman ini adalah memanfaatkannya kalau sedang mengalami permasalahan atau ada hal negatif yang ”menimpa”. Saya sering berpikir: ”Lho, buat saya hal ini tidak ada sudut-sudut positifnya sama sekali, tetapi kok ya orang lain bisa memandangnya secara lain – selalu ada yang positif ….” Hal yang menyulitkan saya, misalnya, sering setelah dibicarakan dengan beberapa orang lain, kok ya ada saja hal-hal positif yang sebelumnya tidak saya lihat.
Sebelum memahami NLP di jaman dulu, hal semacam itu biasanya saya pakai untuk menguji sudut pandang saya sendiri. Sudut pandang yang lain dari sudut pandang saya biasanya lalu saya anggap sebagai cara pemikiran lain – yang kebanyakan kemudian saya nilai salah. Setelah memahami NLP, sudut pandang yang dulu saya anggap salah ini malah saya eksplorasi, mengapa dapat dipunyai ybs dan kira-kira apa yang menyebabkan ybs mempunyai pendapat semacam itu.
The map is not the teritory ….. maka setiap orang pasti mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda. The map is not the teritory …percaya atau tidak, dari olah pikir memahami sudut pandang orang seperti itu, ada hal besar yang saya peroleh. Dari pengalaman memperbandingkan sudut pandang dan dasar pijak setiap orang untuk bersikap, akhirnya saya bisa merubah beberapa paradigma pikir.
Kalau dulu misalnya saya mempunyai pandangan keras terhadap hal-hal yang tidak saya setujui, saya akan melihat penganut paham seperti itu pasti negatif. Cap yang saya terapkan misalnya: gak ngikutin perkembangan jaman, sempit pikiran, keras kepala, stubborn banget – dan tentu saja hal itu berlanjut pada sikap saya terhadap ybs. Setelah mengdalami dan menghayati NLP (ceileeee !) dunia rasanya tidak perlu hanya dijadikan 2 bagian: bagian bagi yang baik hati (seperti saya … ha ha ha) dan bagian hitam untuk yang sudut pandangannya tidak sesuai dengan saya. Sekarang bagi saya, dunia itu satu, berwarna-warni, ada bermacam bau yang tentu saja tidak semuanya wangi …. Tetapi kadang menghirup bau busuk dan burut pun juga membuat kita bisa merasakan bahwa Tuhan memang Maha Pencipta. Coba, Tuhan hanya menciptakan hal yang sama dan serupa semua …. membosankan, kan ? Misalnya Tuhan tidak menciptakan …. mmm …. kentut (maaf, sengaja dipilih yang ini !), kita tidak akan menghargai bau harum yang amat wangi. Benar, kan ?
Manfaat lain yang amat berarti bagi saya adalah terkikisnya beberapa limiting belief yang selama ini membelenggu kebebasan saya bertindak. Berdasarkan pengalaman membandingkan beberapa sudut pandang di atas, kadang saya berdiskusi dengan beberapa teman yang saya anggap sanggup melakukan hal-hal yang impossible. Akhirnya saya memahami, bahwa kita memiliki semua sumber daya yang kita butuhkan. Salah satu pre-suposisi NLP ini ternyata sudah kita pahami, kita hapal dan kita ketahui, tetapi lebih sering tidak kita terapkan dalam berbagai kegiatan rutin.
Jadi kita sebetulnya sudah mempunyai apa saja yang kita pelajari dalam pelatihan kemarin. Pelatihan itu menjadi pemicu bagi kesadaran kita. Yang penting sekarang kita memahaminya, dapat menerapkan di mana perlu dan memanfaatkannya bagi kepentingan bersama: lingkungan dan siapa saja yang membutuhkan kita !
Widyarto Adi Ps.










Well !!!
Mantap Pak Wid !
Anda termasuk orang-orang yg sy kagumi ketika kelas Pract yg lalu !
Sudah mjd orang senior di kantor saja, masih mau belajar !
Dan yang terpenting lagi, disini Anda tuliskan, MAU BERUBAH menjadi Orang yang lebih baik !
Salut buat Anda Pak Wid !