Oleh : Widyarto Adi Ps, Licensed Practitioner of NLP ™
Dalam Pelatihan NLP for Practitioners yang lalu saya menyebutkan bahwa mempunyai fobia terhadap ketinggian. Banyak yang menanyakan apakah berarti saya takut naik pesawat terbang. Jawabannya: bukan.
Pasti bukan, karena kenyataan bahwa sebelum peringkat GFF (Garuda Frequent Flyer) saya menjadi Platinum, selama 3 tahun keanggotaan GFF saya tidak pernah beranjak turun dari peringkat Gold. Itu berarti minimal 36 kali setahun saya terbang dengan Garuda. Itu yang Garuda, belum maskapai yang lain.
Dalam kapasitas menjadi Trainer aktivitas outbound saya juga biasa memberi contoh meniti tali yang terbentang antar pohon di ketinggian 5 – 7 meteran. Atau meluncur pada aktivitas flying fox di Taman Safari (yang di lembah, bukan yang di area camping). Yang saya tidak bisa, atau fobia itu, adalah kalau menaiki tangga tunggal seperti pada permainan pamper pole (atau tepak bola) yang tanpa “pagar” di kiri kanan – apalagi kalau berdiri di atas ujungnya (ketinggian 8 – 10 meter), lalu bersiap-siap meloncat menepuk bola yang sudah diikat di atas sana.
Ketakutan ini saya sadari ketika suatu saat berdiri di tepi atap lantai 6 gedung perusahaan, saat diajak melihat perbaikan antena Radio Sonora. Berdiri di ketinggian tertentu, menyadari tanpa ada sesuatu yang memagari sekeliling badan, tiba-tiba ujung jari terasa dingin. Dengan cepat rasa itu menjalar ke lengan dan seluruh badan dan ada putaran cepat di depan kepala. Saya merasa badan akan oleng, sehingga harus merangkak dan merayap kembali ke dekat tangga naik. Teman yang mengajak naik membantu saya berdiri, kemudian menjadi panik ketika melihat muka saya pucat pasi dan merasakan tangan saya dingin sekali.
Fobia itu muncul lagi ketika menemani sekelompok anak-anak naik Bianglala (draimolen) di Dufan. Di ketinggian tertentu, saya harus menutup mata, gemetar sambil menunggu giliran turun kembali ke tanah.
He he … memalukan, ya ?
Sampai hari Minggu yang lalu ……….
Ibadat yang saya ikuti menayangkan video gambar elang yang sedang melayang-layang sebagai ilustrasi pujian yang dilambungkan jemaat. Gambar ini sudah setiap kali ditayangkan ketika jemaat menyanyikan :
…… ku kan terbang ….. tinggi di awan ……
…… bersamaMu ….. dalam kemuliaan .…..
Memang, sudah puluhan, mungkin ratusan, kali saya ikut menyanyikannya dan melihat tayangan elang terbang ini.
Tiba-tiba sebuat pikiran menyergap otak ….
Dalam pelatihan yang lalu, ketika diminta ”terbang” dalam sesi Time Line, saya mengidentifikasi diri menjadi elang. Kalau ketika SMA teman-teman menjuluki ”elang hitam”, waktu itu saya menjadi elang putih. Persis seperti elang di video itu.
”Saya adalah elang itu” pikiran yang menyergap otak.
Tiba-tiba saja saya mengidentifikasikan dengan elang di video itu. Saya menyerbu masuk ke dalam badannya. ”Akan saya lihat semuanya dari atas sini”, pikiran itu timbul ketika mata elang itu menjadi mata saya.
Saya, elang itu, melayang di antara celah 2 bukit. Melayang turun di atas sebuah sungai. Saya lihat garis air mengalir di bawah …… Tiba-tiba ada yang berdesir di perut, ketika si elang – atau saya – terbang meninggi. Inilah yang saya takutkan : ada di suatu ketinggian …. Gileeeee … ooops! (saya jadi ingat: masa di ibadah menyebut kata itu !) – uaaaahhh … desiran di perut bertambah. Saya ingat sesuatu dan saya kaburkan gambar di bawah sana …… Desiran di perut berkurang ketika elang itu – atau saya, saya tak tahu lagi mana sebutan yang benar – terbang menurun lagi dengan cepat. Wah … ini lembah – tergambar hitam-putih di video itu. Indah … menyenangkan …. saya ingat-ingat dan saya beri warna meriah apa-apa yang terlihat di lembah itu ….
Nyanyian sampai lagi pada bait :
….. bersamaMu …. dalam kemuliaan ……
”Hebat benar … (aslinya sih saya bilangnya dalam hati ”Gileee bener !”) … ada self-therapy yang disokong sekian puluh jemaah ….. bersamaMu – bersama Tuhan ….. dalam kemuliaan …. Jadi ini terapi pasti diridhoi Tuhan …. ” tambah pikiran saya, yakin (dan GR !).
Perut berdesir lagi, ketika luncuran turun terlalu cepat (elang ternyata kalau meluncur turun terlalu cepat, perutnya berdesir juga !) …. gambaran di bawah menjadi warna-warni lagi ……. Rasa nyeri datang lagi, ketika terbang menanjak naik …. gambaran di bawah juga menjadi buram ….. lalu kabur samar-samar ….. lalu jelas dan berwarna-warni ketika terbangnya membuat perasaan tidak menjadi nyeri lagi …..
Hebat ! (eh, aslinya: gileee!) … video ini sudah berkali-kali saya lihat, tetapi belum pernah saya manfaatkan seperti hari itu ……
Ketika pujian selesai dinyanyikan, saya merasa amaaaat lega. Self-therapy ternyata bisa dilakukan dengan berbagai cara. ’Cara Ilahi’ yang saya lami barusan (GR banget, ya ?) sungguh meresap. Saya menghayati perjalanan naik-turun jauh di ketinggian – yang kalau saya ingat pasti tidak bakal berani saya lakukan dengan sadar – karena tidak ada “pagar” yang melindungi di sekeliling badan. Dan saya melakukannya dengan enak dan benar (kalau pakai bahasa pak Istoto: uenaakkk buangeti ¡). Tanpa rasa takut, nyeri dan ngeri seperti yang selama ini pasti menyertai kegiatan semacam itu. Hebat, hebat, hebat, NLP membimbing saya merasuki tubuh di video itu …..
Yah, ada yang hilang dari diri saya di Hari Minggu siang itu. Hebatnya, (hebat, saya tidak lagi bilang gile-nya) kok malah membuat saya malah teramat senang, ya ….
Widyarto Adi Ps.










Mas, selamat yaa … kaget juga aku membaca mas wid ternyata trainer outbound. Pantes gayanya koyok james bond “quantum of solace” …
Salam
BSY
Tq pak Bambang. Aku tuh, kalau lagi sehat, masih ikutan naik gunung, hiking, camping (sudah sampai Medan, Banda Aceh, Pekan Batu, Palembang, Banjarmasin, Balikpapan, Manado, Kupang, dan seantero Jawa). He he …. tapi jeri juga kalau naik ketinggian. Dulu. Sekarang ? He he he …
he … he…, ternyata waktu latihan karo aku ra bener, ra di elicit….
dadi perlu terapi maning ….
salam berkelimpahan
mastono
Mas Tono, belajar kan di mana2. Di kehidupan juga. Terus saja …
wap
Pak Wid, congratulation yah dah licensed practitioner. Ayo pak luangin waktu menek menek gunung yuk. Smiling tour aja 2-3 hari ke puncak Gunung Lawu sing enak, bisa buat camping, tur wis ana gubug gubug nya. Nyewa porter aja buat mbawain perbekalan. Huahahahaha… lha kita kita kan ranselnya dah menyatu di perut……
Kang Antony, mending dibawain porter bawaannya, lha nggowo weteng we wis abot …
Salam berkelimpahan, pak, sampeyan ikut ngintip di sini ….
Pak Wid yang saya kagumi !
Selamat Pak udah berhasil released fobia ketinggiannya !
Semoga sekarang dan seterusnya Bapak bisa lebih lega dan berani lagi ketika berdiri di ketinggian atau menatap dari ketinggian – seperti elang putih, ya Pak !
GBUs Pak Wid !
Salam
Iya Pak Wid. Saya ngintip di sini, sebenarnya sih takut timbilen matanya karena ngintip. Hehehehe…
Lha iya lah pak kalau kita sekarang naik gunung ya barangnya di bawain porter lah, kita cukup bawa perut aja yang sudah berat ini karena ngga bisa dititipkan ke porter. Hehehehehe…..