Belajar NLP™ adalah ketika mempraktekkan
November 11, 2008
Oleh : Hendri Harjanto, Licensed Practitioner of NLP ™
(Catatan setelah mengikuti Training NLP™ Practitioner bersama Ronny F.R)
Berbahagia sekali rasanya di berikan kesempatan untuk bisa memahami manual otak manusia melalui pelatihan NLP™ Practitioner bersama Pak Ronny. Saya merasakan ada banyak hal yang sebenarnya telah tersedia, tapi selama ini belum saya optimalkan. NLP™ ternyata semakin menyenangkan dan menantang untuk di gunakan dalam berbagai aspek kehidupan.
Richard Bandler pernah mengatakan bahwa NLP™ bukanlah alat untuk mendiagnosa sesuatu. NLP™ praktik dan karena itu hanya dapat diajarkan dengan mengalaminya. Tidak cukup hanya dengan membaca. Jadi NLP™ itu intinya di praktik. Karena NLP™ di model dari orang-orang yang punya keunggulan dalam perilakunya.
Sebagai Practitioner kita diharapkan banyak praktik, namanya juga Practitioner, bukan Teoritioner.hehe…Beberapa orang yang mempunyai stigma negative terhadap NLP™ mungkin karena mereka hanya membaca buku atau artikel saja. Membaca akan memberikan internal map tentang hal yang kita baca. Namun belum memberikan pengertian yang sebenarnya tentang sesuatu, sebelum kita melakukan dan mendapatkan hasilnya. Sama seperti renang, apakah ketika seseorang bisa menjawab semua pertanyaan tentang renang dia pasti bisa berenang? Belum pasti. Apakah orang yang fasih mengucapkan istilah-istilah NLP™ pasti sudah mempraktikan NLP™ dalam kesehariannya?belum tentu juga.
Sebagai pembelajar awal kadang ada godaan untuk begitu tertarik dengan berbagai macam istilah. Salah satu yang paling sering saya temui adalah “monster” meta model. Menggunakan meta model secara berlebihan tanpa didahui pacing. Ada seorang yang belajar meta model dari buku, malah membuat orang takut dan resisten bukan hanya dengan dia tapi juga dengan NLP™. Repot kan….apa salah NLP™? Kok di takuti.hehe…“NLP™ itu mudah dan memepermudah” begitulah kata-kata bijak dari trainer saya Pak Ronny F.R, jangan sampai kita membuat orang jadi takut dan memandang ruwet NLP™.
Menurut Bandler juga NLP™ diajarkan melalui installation bukan dengan mengajarkan teknik-teknik . Teknik akan cepat usang, kita diharapkan bisa menciptakan sendiri teknik-teknik baru yang semakin banyak. “Trust your Unconsious” Itulah yang berulang kali di ingatakan Pak Ronny di dalam pelatihan. Karena dengan mempercayai Unconsious kita, kita akan semkin mudah untuk belajar. “Emanag benar pa, ada unconscious installation?” begitu pikir saya sebelumnya, eh ternyata efeknya kerasa ketika ujian dan setelah pelatihan bahkan samapi sekarang, semakin lama malah semakin besar. Ketika saya tanyakan ternyata benar itu efek dari unconscious installation. Saya yakin itu bukan hanya karena teknik atau cara tertentu yang digunakan trainer saya tetapi juga karena keikhlasan hati untuk berbagi ilmu beliau.
Mengenai teknik Pak Ronny sering kali mengingatkan dengan perumpamaan/metaphor belajar masak. Diumpamakan juga kita mau belajar masak, maka kita harus mulai meracik bumbu-bumbu dasar terlebih dahulu…beberapa hari diawal, saya bertanya “kok materinya mirip-mirip dengan yang saya pernah baca ya?” Ternyata apa yang diceritakan dihari-hari pertama adalah sebuah dasar yang sangat amat penting bagi pemahaman kita belajar NLP™.
“Jangan terburu-buru belajar teknik, teknik itu nanti gampang kalau anda sudah mengerti dasarnya dulu, saat ini kita baru meracik bumbu-bumbunya nah pattern adalah bagaimana kita mengkombinasikan sesuatu sehingga kita bisa masak apa aja, tergantung bagaimana cara kita mengkombinasikan bumbu-bumbu dasar itu” begitu kira kata-kata trainer saya yang lucu itu.
Saat itu saya tidak teralalu mengerti apa maksudnya….tapi benar saja hari-hari kemudian saya semakin mengerti dan merasakan semakin mudah memahami teknik-teknik di NLP™. Bahkan kita juga diajak untuk menemukan pola-pola yang “tersembunyi” di balik teknik-teknik hypnosis dll.
Sahabat Pembelajar NLP™ semuanya, knowledge is power, sudah tidak berlaku lagi sekarang. Sekarang jamannya “Applied Knowledge is Power” . So Bagi kita pembelajar NLP™, mari memeperbanyak membaca buku, artikel dan lainnya untuk kemudian di praktekkan lebih banyak lagi. NLP™ itu tidak stagnan, Evolusi belum berakhir, siapa tau kita bisa buat evolusi NLP™ lain semacam DHE™ , Versi Nusantara. Amien….
Bagi pembelajar NLP siapapun di tuntut untuk lebih bijaksana dalam segala aspek kehidupan, karena di NLP kita dia ajarin untuk memahami bahwa “peta bukanlah wilayah” dan kita harus “menghormati cara orang lain membentuk petanya sendiri. Bukanya kita malah mengatkan “Berusaha mengerti aku dikit bisa gak sich?” pada orang lain, pesan bijak lagi dari trainer saya adalah “Yang sudah belajar NLP yang harus lebih dahulu mengerti”.
Dan akhirnya sebelum saya mengakhiri dan kita semua menerapkananya saya ingin mengutip kata-kata Jane Gooddall “Untuk mencapai hal-hal yang luar biasa, kita bukan hanya perlu bertindak, tetapi juga bermimpi, bukan hanya merencanakan, tetapi juga yakin terhadap apa yang kita kerjakan”.
Ajakan untuk diri sendiri dan bagi pembelajar NLP™ manapun yang ingin terus belajar:
Setiap hari adalah praktik dan belajar
NLP™ sekali lagi bukan hanya soal terapi tapi amat applicable diberbagai bidang. Komunikasi misalnya, setaip hari kita akan selalu melakuakn komunikasi bukan? Mari kita praktikan sembari belajar untuk membuat hari-hari kita jadi lebih berkualitas dan lebih bermanfaat dari waktu ke waktu.
Lakukan pada diri sendiri dahulu:
Lakukan pada diri sendiri dulu. Misal ubahlah diri sendiri dulu, orang lain akan berubah. Faktor penting bagi pembelajar NLP™ adalah bagaimana kita memberdayakan diri kita terlebih dahulu. Bagaimana kita akan membantu orang lain, sedangkan kita sendiri aja belum berubah menjadi lebih baik. You go first man…
Jadilah kreatif dan inovatif:
Creator NLP™ adalah orang yang kreatif dan inovatif. Mereka berani keluar dari kotak disiplin ilmu tertentu. Dengan tegas Bandler mengatakan bahwa NLP™ bukan Psikologi, bahkan kerap kali mendapatkan kecaman karena dianggap tidak ilmiah. “Mana urus, yang penting hasilnya efektif” begitu kira-kira Bandler berkata dalam bahasa saya.hehe…
Jangan sibuk dengan istilah
Berbicarlah dengan bahasa yang dimengerti sesuai tingkat pemahaman lawan bicara kita. Menurut Pak Ronny, di pelatihan di gunakan istilah asli untuk memudahkan untuk mengambil level selanjutnya, ataupun untuk membaca buku kita sudah familiar dengan istilah itu. Tapi boleh juga kita gunakan istilah yang unik untuk membuat orang penasaran dan tertarik dengan NLP.
Keep Wise…
Boleh saja kita cantumin NLP™ di belakang nama kita, tapi ya biasa aja lah…kayak gelar haji boleh dipakai boleh gak. Yang penting gelar tidak membuat kita tinggi hati. Walalupun ada kata NLP™ di belakang nama kita, atau Practitioner NLP™ ataupun Master NLP™ kita harus tetap rendah hati bukan? Bukankah NLP™`ers adalah modeler. Kita meniru keunggulan seseorang. Termasuk keunggulan dalam berendah hati untuk belajar sama siapa saja.
Salam Super NLP…..

Posted in 

content rss
November 11th, 2008 at 9:32 am
Hmmmm ini rangkuman dari NLP is an attitude. Sesuai yg diamanahkan oleh Om Bandler. Keep up the good work bro!
November 16th, 2008 at 3:07 pm
Hmm….
Sepakat mas …
Tapi kadang masih ngerasa belajar NLP agak sulit ya.
Lha kalo belajar aja masih agak sulit, trus prakteknya gimana mas ???
Gimana sih mas rahasia belajar NLP agar terasa mudah dan menyenangkan serta cepat paham ?
Dan (hmmm …) kalo menurut mas Hendri ide dasar NLP tu sendiri gimana sih ?
Hehehe …
Mohon panuannya
Terima kasih
November 19th, 2008 at 5:13 am
Terimakasih mas henry…. Om Bandler telah memberikan landasan yang kuat, misi kita bersama untuk membumikan NLP di INdonesia.mari kita bumikan NLP di Nusantara
November 19th, 2008 at 5:18 am
Terima kasaih Mas Rhozze..”Tapi kadang masih ngerasa belajar NLP agak sulit ya”, kadangnya seberapa sering mas? kadang itu artinya kan sedikit waktu dari banyak waktu yang berhasil..he…praktikin bareng2 apa yang kita bisa, nanti pemhaman akan datang ketika kita sudah siap dengan hal itu.Ok…