Ujian Pertama
November 6, 2008
Oleh : Bambang Suyono, Licensed Practitioner of NLP ™
Dedicated to Pak Aman Chiang dan Sang Master
Sore itu aku tinggalkan hotel Santika dengan perasaan yang ringan, tujuh hari selesai sudah dan waktunya kembali ke dunia nyata. Dengan perasaan yang tenang, walaupun energi sudah terkuras karena tidak makan tadi siang, aku turun ke concierge hotel mengambil koper dan lap top yang aku titipkan siang tadi. Sambil mencocokkan nomor kartu penitipan, pegawai di concierge melakukan mind reading “bapak perlu taksi untuk ke bandara, yaa?”, katanya dengan ramah. “mohon maaf pak, taksi yang biasa mangkal di depan kosong”. Setelah semua urusan administrasi beres. Aku bergegas menuju ke depan hotel, disana sudah ada beberapa orang yang juga mempunyai tujuan sama yaitu menunggu taksi.
Aku melirik jam di tanganku menunjukkan pukul 17.45, dengan cepat otak kiriku menghitung, satu jam ke bandara maka masih cukup waktu untuk boarding. Namun melihat gelagatnya bahwa taksi kosong sudah agak lama, terbukti dengan beberapa orang menunggu di depan hotel, aku memutuskan untuk mencari tahu penyebabnya. Bukankah hidup di Jakarta harus cepat, bila tidak mau kesempatan hilang.
Metaphor ini aku utilized. Aku melangkah cepat ke jalan raya KS Tubun, sambil menarik koper dan menenteng tas kerjaku, yang lumayan berat di tengah cuaca yang hangat. Jalanan ternyata penuh sesak. Macet yang menuju ke arah raya Slipi. Beberapa angkot biru muda menawarkan jasa untuk naik tidak aku hiraukan karena berlawanan arah. Sementara di seberang sana, aku lihat beberapa kali taksi kosong lewat. Kegamangan mulai melanda pikiranku, antara hendak menyeberang dengan segera mendapat taksi atau menantikan taksi di tempat semula. Kalau menyeberang, maka aku harus menyeret ke dua beban berat ini yang hendak di kedua tanganku. Energiku akan tambah terkuras habis. Aku putuskan untuk melakukan self talk dengan alam bawah sadar dan menyerahkan keputusannya disana. Sejenak kemudian, sebuah kalimat muncul di kepalaku “kurang dari lima menit, sebuah taxi biru akan muncul, tetap saja disitu”. Dan yup … belum satu menit, sebuah taxi biru muncul dari arah Slipi menuju kearahku, tapi lampu atasnya tidak menyala, menandakan bahwa ada penumpang di dalamnya. “ah … bukan taxi yang ini …”,pikirku.
Lima meter sebelum tempatku berdiri, lampu sein taxi yang sebelah kiri menyala, sedetik kemudian lampu atasnya menyala, pintu terbuka, seorang penumpang turun dari taxi. Taxi bergerak kembali dan dengan cepat aku melambaikan tangan. Akupun masuk ke dalam dengan cepat dan menyampaikan tujuanku setelah menutup pintu.
Pak sopir, sebelum menjawab, menghela nafas agak berat. Beliau menyampaikan bahwa jalanan ke bandara macet berat sejak dari Slipi. Jam menunjukkan pukul 18.00. Aku mohon maaf kepada beliau karena harus meminta bantuannya menempuh rute yang berat ini. Di tengah kemacetan itu, dia menoleh ke belakang, karena ingin menyatakan sesuatu kepadaku. Sebelum sempat, beliau menyampaikan sesuatu, aku menepuk pundaknya, dan mengatakan “saya tahu Bapak pasti bisa sampai disana sebelum jam 19.00 dan kita akan menemukan jalan yang lurus, sedikit hambatan”. Beliau agak ragu tapi tidak membantahnya. Heem … sudah masuk nih … cara – cara rapid induction untuk melukis map di kepala sang sopir bahwa jalanan hanya sedikit terhambat, lurus saja dan pasti sampai sebelum jam 19.00.
Setelah itu aku sendiri sibuk melakukan pacing the future, dengan jelas aku melihat gambar jam di bandara menunjukkan waktu 18.55 dan sambil berlari – lari aku mendengar pengumuman bahwa keberangkata citilink ke Surabaya diundur sampai jam 20.00. Kalau tadi sebelum ujian aku sudah melihat gambarku berteriak “yes” sambil membawa sertifikat dari atas panggung, maka kali ini mestinya juga bekerja baik karena aku sudah keluar dari kawah Candradimuka. Aku tidak ingin memikirkannya lagi, aku serahkan kepada alam bawah sadar untuk mengaturnya, sebagaimana suara sang master menyampaikannya selama tujuh hari setiap akhir pelatihan.
Menuju mulut tol Slipi perlu waktu 20 menit. Perutku semakin lapar dan tenggorokan haus. Siang tadi aku tidak makan karena waktunya aku gunakan untuk berlatih dengan Mas Tono terutama menghadirkan Luck Factor saat ujian. Pokoknya memodel cerita sang master saat ujian di forumnya Pak Bandler. Jalanan menuju mulut tol ke Soekarno Hatta mulai macet lagi, mobil – mobil bergerak dengan sangat pelahan, karena sisi – sisi jalan tol yang sedang dibangun ruas baru.
Upphs … beberapa kalimat menggodaku. Aku melawannya dengan perlahan “alam bawah sadar, aku yakin akan kemampuanmu untuk melakukan yang terbaik sebagaimana yang telah kau lakukan sebelumnya”. Melewati kemacetan, tiba – tiba pak sopir menyetir mobilnya bagaikan Lewis Hamilton, aku mencuri pandang ke speedometer, 100 – 120. Wow …
Tiba – tiba kami sudah berada di tikungan yang menunjukkan arah ke terminal. Sebuah jam digital menunjukkan angka dalam warna hijau 18.55. Wow …excellent. Aku agak kaget, ketika pak sopir menanyakan terminal tujuanku. Aku hanya bilang Citilink Non Garuda. Beberapa saat memasuki area terminal yang ramai, beliau menghentikan mobilnya, aku menyampaikan terima kasih dan memberikan dua lembar uang lima puluh ribu dan segera bergegas turun. Taksi melaju kembali. Ketika aku melangkah menuju pintu masuk keberangkatan, dari jauh aku melihat logo Garuda Indonesia di counter. Keringat bercucuran dengan cepat membasahi tubuhku.
Upps … salah turun … Pak sopir dengarnya hanya Garuda kalee. Aku membalikkan badan dan melambaikan tangan ketika sebuah taxi menurunkan penumpang. Aku berlari dengan reflek begitu sang penumpang turun, pintunya masih terbuka, aku melemparkan koperku dan dengan cepat menutup pintunya. Pak sopir melongo dan berkata “Bos dilarang ambil penumpang … ntar saya ditilang”.
“Saya yang nanggung dech .. cepet ke citilink, non Garuda, deket tuh darisini, saya terlambat nich “, kataku.
“Bos duapuluh rebu yaa … biar deket begini, resiko tinggi”, balasnya.
Aku belum sempat menjawab. Taksi berjalan 10 meter, seorang petugas bandara mengisyaratkan membuka pintu jendela taksi. Sang sopir membuka jendela dan dengan lugunya serta tertawa beliau berkata “sori bos, nolong bapak ini, salah turun, sudah mau terlambat nih … eh steling terminal mana bos ?”.
Petugas yang mau marah, jadi tertawa “steling … steling apaan … sono noh terminal C, bukan steling bego, citilink”. Sang sopir berlalu cepat menuju terminal C. Celakanya sampai disana semua sudut parkir menurunkan penumpang penuh. Sayapun harus rela turun di jarak 50 meter ke terminal C.
Sambil berlarian menyeret koper dengan sisa tenaga aku menuju kesana. 10 meter kemudian aku menemukan trolley kosong, aku pakai dan berlari lagi sekencang mungkin menuju pintu masuk. Sisi perut kanan bekas operasi kantong empeduku agak perih, tapi aku terus lurus menuju Counter. Sepi, tidak ada orang. Pyuuu … jangan – jangan waktu boarding sudah lewat dan ditutup. Sudah jam 19.10. Menurut jadual pesawat berangkat 19.20. Sampai di depan counter, sang petugas masih sibuk menulis – nulis sesuatu. Dari counter lain disebelahku, suara orang khas Madura berteriak sambil berlari “pak, masih bisa ikut yaa … belum tutup”. Nafasnya terdengar memburu.
Sang petugas menjawab “tenang pak, keberangkatan pesawat diundur jam 20.10”.
WOW … WOW … WOW ..
Thanks God.

Posted in 

content rss
November 9th, 2008 at 12:42 am
Pak Bambang,
Sampeyan termasuk yang saya kagumi ketenangan sikap ketika training. Artikel ini menyadarkan saya banyaaaak sekali potensi diri yang bisa dimanfaatkan.
Makasih pak. Artikel ini mencerahkan …
Salam sukses & berkelimpahan …
wap
November 10th, 2008 at 4:30 am
Wah top banget. Ilmu hari ke-6 dipakai dan langsung cespleng.
November 10th, 2008 at 8:16 am
Cespleng dan Top untuk hari itu dan situasi itu mas. Untuk Hari dan Situasi lain, Pasti lebih cespleng. Coba anda praktek-in,pasti top bgt.
Mas, saya ngefan banget,sifat pembelajar anda yang ruaar biasa…
SAlam
BSY
November 10th, 2008 at 1:11 pm
wah …
kemaren jadi ikut2an future pacing kayak pak bambang,
oke juga pak
November 11th, 2008 at 1:43 am
Mas Tono, terima kasih sharing – sharingnya yang memperkaya dan memberdayakan.
Salam
BSY
November 11th, 2008 at 10:27 am
Ketenangan anda benar-benar menjaga diri anda dari ‘salah langkah’… patut saya “tiru”…
Salam Mas Bambang.
November 12th, 2008 at 2:30 am
Bang Pane,
Tq komennya menyemangati saya untuk terus berkarya.
Sukses terus,
BSY
November 12th, 2008 at 7:15 am
Selamat berkarya buat semuanya