Ujian dan Hadiah untuk Kekasih
November 6, 2008
Oleh : Henry Yonathan, Licensed Practitioner of NLP ™
Hari ini saya kecapean, setelah kemarin menghabiskan waktu mengantar Wan Cin (my fiancee) belanja kebutuhan workshop, ke bengkel untuk ganti jari-jari roda depan, makan malam di MegaMal dan berkaraoke ria. Pagi ini saya berkomputer ria setelah 8 hari tidak berkomputer ria
dengan puas. Akhirnya tubuh saya memberitahu untuk istirahat dengan munculnya influenza.
Sulitnya Menulis Nama
Sore hari sekitar pukul 4 sore saya bangun dan menghubungi Wan Cin menanyakan keberadaanya. Lalu kami membuat janji untuk bertemu di rumahnya. Sesampainya disana kami berbincang-bincang sambil menunggu nasi matang. Lalu dia minta dihypnosis. Beberapa cara saya praktekan
padanya tapi tidak berhasil. Ini karena dia tidak fokus dan menganggapnya lucu.
Selain itu kata-kata saya juga sempat terputus dalam menginduksi dia (no failure, only feedback). Lalu saya ingat sewaktu Mas Fitra di-induksi oleh Pak Yan Nurindra dengan diminta menggambar lingkaran secara terus menerus. Saat teknik ini dipraktekan, Wan Cin jadi tidak dapat menulis namanya walaupun dia sudah berusaha menulis namanya. OK, berhasil, presuposisi NLP sudah mulai terintegrasi, behaviour flexibility.
Jadi ujian dari kekasih saya sudah dijalani dengan baik
Merasa Bahagia
Tiba saatnya makan
. Kami makan ayam saus (ngga tau saus apaan) dan cap cay. Setelah selesai kami minum teh hijau, hmmm nikmatnya (jadi ingat Pak Hianoto, si NLP kuliner). Sambil menikmati teh, saya lihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 18:30 WIB. Lalu saya beritahu Wan
Cin bahwa pukul 19:00 WIB saya akan pulang ke rumah. Dan tidak lupa saya tanya dia apa pengalaman/kerjadian dimana dia merasa bahagia/senang. Dengan mengelicit sub-modality-nya saya amplify kejadian tersebut dan ngengker (baca : Anchor) di bahu kirinya.
Setelah selesai… break state dengan menanyakan proposal thesis temannya. Dan tiba-tiba saya fire anchornya, lalu tanya gimana perasaanya. Dia menjawab senang. Hore!!! The anchor’s working. Saya beritahu dia, tiap kali merasa gundah coba tekan anchor yang sudah
saya buat.
Masalah dengan Pembimbing
Kemudian pembicaraanpun berlanjut. Dan saya mendengar Wan Cin membicarakan pembimbingnya. Dulu Wan Cin pernah ada masalah dengan pembimbing tersebut. Mendengar itu saya jadi ingat bahwa saya bisa bantu dia untuk menyelesaikan masalah tersebut. Gestalt Therapy, teknik yang saya pelajari hari terakhir di NLP Practitioner, saya gunakan untuk memperbaiki pandangan dan emosinya. Walaupun pada posisi observer dia sempat ketawa-ketawa, karena meminjam figur saya sebagai observer, pada akhirnya selesai juga prosesnya. And guess what? She’s
now feeling better.
Penutup
Sebelum pulang, saya bilang pada Wan Cin, “Ini hadiah dari saya sebelum saya pulang ke rumah”. Tidak lupa mengatakan padanya agar tidak sering-sering memicu anchor, karena akan mengurangi efeknya.
Demikian laporan dari lapangan. ![]()
Sampai jumpa di tulisan berikutnya!
Tuhan memberkati!

Posted in 

content rss
November 9th, 2008 at 12:38 am
Henry, hebat …
Saya kagum dengan orang2 yang bisa langsung memraktekkan hasil trainingnya. Sampeyan ngasih contoh positif bagi orang2 (siapa orang2 itu, berapa banyak …. ha ha ha) yang suka ragu.
Sampeyan ngasih contoh yang amat positif !
wap
November 11th, 2008 at 10:25 am
Henry ini ngaku’nya ndak mempang di hipnosis, konon ndak ada yang mampu menaklukannya di Prac kemarin, namun suaranya yang lembuuuuut….dan dalaaaaaaammmmm itu malah menjadi kemampuan luar biasa….
Hebat Henry!!!
November 12th, 2008 at 12:45 pm
Ah Om wap dan Pane bisa aja. Waktu aku praktekin ke tunangan ku, dia malah ketawa2, karena suaranya lucu dan aneh
Thanx buat supportnya